Beberapa bulan lalu saya juga melihat video tentang kehidupan Hoakiau asal
Indonesia di Xiamen(Tiongkok). Kesan saya bercampur baur antara heran dengan
tidak.Tidak heran kalau mereka (Hoakiau) begitu cintanya terhadap negeri di
mana mereka pernah dilahirkan dan hidup sudah turun temurun yang adalah juga
telah mereka anggap tanah air mereka: Indonesia. Heran, karena kerinduan mereka
yang begitu mendalam, kenang-kenangan mereka yang begitu berkesan yang oleh May
Swan disebutnya sebagai <selected memories> (saya sependapat dengan Omie
istilah May Swan ini bahkan saya anggap genial) yang namun Omie membikin
statistisk sebagai "90 persen mengandung kebenaran".) . Kritik halus Omie
ditangkap May Swan dengan juga secara lebih halus lagi: otokritik.
Heran karena kaum Hoakiau itu seolah ingin mengatakan: "Kami diusir oleh
Pemerintah Indonesia secara kasar dan bertentangan dengan Undang-Undang dan Hak
azasi manusia, tapi kami tidak punya dendam dan tetap mencintai Indonesia yang
telah menjadi tanah air kami".
Saya sendiri tidak punya perasaan demikian. Meskipun saya memaklumi perasaan
kaum Hoakiau yang tetap cinta Indonesia dan tidak punya dendam terhadap
penguasa pengusir mereka. Mereka mencintai Indonesia tanpa syarat: 100 persen.
Tapi saya tidak. Saya tetap mencintai Indonesia sebagai negeri kelahiran saya
tapi saya punya dendam terhadap penguasa Indonesia yang mencelakakan rakyat dan
juga keluarga saya sendiri dengan kebengisan suharto di tahun 65. Saya
merindukan bekas kampung halaman saya, merindukan makanan enak Indonesia yang
tak ada bandingannya di dunia ini (sayangnya sering-sering tidak bersih dan
bikin sakit perut), saya rindu pemandangan Indonesia yang indah (meskipun sudah
semakin banyak yang rusak binasa akibat pencemaran dan keserakahan kaum
kapitalis), saya rindu Jakarta, ibukota di mana saya pernah tumbuh dewasa dan
belajar dan sudah tentu saya mencintai rakyat Indoneasia yang yang ramah tamah
tapi tidak pernah bahagia sejak sebelum merdeka dan sesudah merdeka dan hingga
detik ini.
Atau dengan kata lain kecintaan saya terhadap Indonesia menjadi terbelah dua:
antara cinta dan dendam. Rasa dendam pada saya adalah natural, lahir dari
situasi obyektif tanpa dibikin bikin, tidak semata alasan politik tapi juga
alasan emosi. Dan rasa dendam membuat saya tetap bertahan hidup, menjadi
kekuatan alamiah bagi saya dan bahkan saya merasa bahagia dengan rasa dendam
yang saya emban hingga ahir hidup saya. Saya bermimpi akan melampiaskan rasa
dendam itu bersama rakyat Indonesia dalam menghancurkan musuh rakyat Indonesia
hingga tandas meskipun saya sudah tidak bisa turut serta melakukannya.
Namun saya merasa tulisan May Swan di bawah ini dan komentar Omie yang super
simpatik adalah dua pemikiran yang menawarkan inspirasi, kesejukan dan
kesegaran.
Salam untuk kalian berdua.
ASAHAN.
----- Original Message -----
From: MAY SWAN
To:
Cc: OMIE
Sent: Monday, September 24, 2012 5:43 AM
Subject: SURAT DARI SINGAPUR == HOAKIAU ==
WOW 90%! You’re very generous, my dear. Jokowi – Basuki dengan pendapatan
angka 53% saja sudah menang lho!
You know something, Omie? You’re my teacher in more ways than one. Dan hari
ini aku mendapat pelajaran yang belum pernah aku ketahui dulunya: Bahwa yang
namanya cinta itu, ya cinta, tanpa diiringi pertanyaan “Kenapa”? Begitu kan
maknanya? Hopefully not too late for this old log to learn.
Hug,
May Swan.
From: ati gustiati
Sent: Monday, September 24, 2012 8:20 AM
Selected memories of a life - SURAT DARI SINGAPUR == HOAKIAU ==
Satu lagi kiriman May yg sangat realistik, love it, love it, love it, karena
ungkapan yg ditulis sangat mewakili 90% kebenaran yg ada.
Setiap saya mengeluh rindu utk pulang, suami saya langsung meng usap2
punggung saya seperti mencoba menghibur saya dgn rasa cemas diwajahnya, " Kamu
baru saja menghabiskan waktu ulang tahun mu dgn mereka thn lalu, please
bersabar dan be strong dong.." begitu ujar nya setiap kali episode penyakit
"rindu" ini menyerang saya.
Sebetulnya apa yg saya rindukan? apakah jalanan yg macet 24 jam, udara panas
menyengat, debu dan polusi bertebaran diudara menyesak kan nafas, sampah kotor
di mana2, serta wajah2 cemberut karena kekerasan hidup, kemiskinan di mana2
membuat hati saya kesal dan sedih, sudah pasti bukan hal2 spt ini yg saya
rindukan, kehidupan di America tentunya jauh lebih nyaman, perlengkapan rumah
pun serba canggih, serba mudah dan praktis, mengendarai mobil sangat
menyenangkan karena luasnya jalan raya dan tidak macet, semua serba teratur dan
tertib, namun apa yg membuat kerinduan hati ini selalu menggeliat dan sulit di
jinak kan?, jawaban yg tepat adalah selected memories ! that is it, ucapan yg
pas sekali, May.
Saya secara voluntarily committed utk menyimpan dan memelihara dgn baik agar
tidak gugus dari ingatan saya ,beberapa lembar kenangan dari buku perjalanan
hidup saya disana, bukan hanya kenangan manis saja, juga kenangan terpahit yg
msh terasa diujung lidah getir nya, kenangan2 ini lah yg telah membentuk diri
saya hari ini, mereka telah menjadi sebagian dari sukma dan jiwa saya, walau
saya bawa tubuh kecil ini keujung dunia, tetap juga sulit melepaskan kenangan2
yg sudah kadung hidup didalam nya.
Pernah suatu malam hujan begitu deras, tetesan air menetes dari genteng rumah
yg bocor, saya dan semua kakak dan adik2 perempuan saya tidur dalam satu kamar
didesa, mereka sibuk menadah air diember, udara begitu dingin dan kamar yg
basah tidak membantu menghangatkan ruangan, saya merasa sangat bahagia
berhimpitan dengan saudara2 saya, kami hanya tertawa cekikikan mentertawakan
situasi yg seharusnya membuat saya meradang ini, saya membayangkan kamar tidur
dan tempat tidur saya di America, tempat tidur dgn kasur yg bisa kita atur
secara elektronik keras dan lembutnya sesuai dengan kebutuhan tubuh kita,
secara mengejutkan, bila saya hrs memilih, saya akan memilih tidur di tempat
tidur yg dingin dan diancam oleh tetesan air hujan ini bersama saudara2
saya.....
Ya tentu saja, tidak semua orang yg hidup diluar negri rindu tanah air
seperti saya, saya hanya suka sekali orang2 Indonesia, saya suka kekurangan2
dan kelebihan mereka, umum nya teman2 Indonesia saya di America rindu pulang ya
karena alasan kemudahan hidup yg ditulis May ini, mrk tidak bisa punya pembantu
di America, hrs nyetir mobil sendiri, antar jemput anak2 sekolah sendiri,
kadang harus mau bekerja cari duit sendiri, this is a real world here, harus
mandiri, harus self-sufficient !.
Saya rindu pulang hanya utk berbagi dengan yg lain, berbagi kebahagiaan
maupun berbagi kesedihan, rindu saya cepat kering kalau tidak segera disiram
air secepatnya, itu sebabnya saya selalu berusaha utk pulang setiap tahun,
supaya kehidupan didalam sukma saya segar bugar sampai tiba waktunya layu dan
mati.
Thank you for sharing, May, next please.
omie
From: MAY SWAN
SURAT DARI SINGAPUR == HOAKIAU ==
SURAT DARI SINGAPUR
=== HOAKIAU ===
By
MAY SWAN
Berita ini mulai saya terima sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Sekarang sudah tidak ingat lagi siapa yang pertama kali mengabarinya kepada
saya. Kenyataannya hingga hari ini berita tersebut masih berkali kali disiarkan
dari tahun ke tahun mencerminkan betapa besar daya tarik isi beritanya.
Berita terkait bertajuk Perkampungan Komunitas Hoakiao Indonesia di
Xiamen. Menceritakan pahit getir kehidupan para Hoakiao Indonesia yang kembali
ke tanah leluhur pada tahun tahun 60an. Akhirnya mereka dipusatkan di
Perkampungan Komunitas Hoakiao Indonesia yang menjadi inti berita. Bahan berita
focus pada kebiasaan kehidupan sehari hari para warga, dari bahasa yang
dipakai, hidangan masakan, nyanyian dan tari tarian menunjukkan kentalnya
hubungan emosi dan budaya dengan tanah air Indonesia di mana mereka dilahirkan.
Di sini kita tidak mendiskusikan alasan keberangkatan mereka dari
Indonesia ke Tiongkok yang terjadi dalam beberapa gelombang pada tahun tahun
60an, era yang diliputi kekacauan berat dalam sejarah, baik di Indonesia mau
pun di Tiongkok. Banyak sudah tulisan berdasarkan research mengenai exodus para
Hoakiau pada jaman itu. Dalam novel May Swan “Montmartre In Bondowoso” dan
“Sons and Daughters of Bangka” juga pernah diuraikan cerita mengenai kehidupan
para Hoakiau yang berangkat ke Tiongkok daratan pada masa masa itu.
Telah menjadi kenyataan bahwa dalam konflik politik atau lebih parah
lagi konflik senjata, yang paling banyak menjadi korban adalah rakyat jelata
yang mayoritas tidak tahu menahu, sama sekali tidak bersangkutan dengan urusan
politik apalagi pertarungan ideology. Kehidupan mereka hanya tercurah pada
bekerja mencari nafkah dari hari ke hari menghidupi keluarga.
Kembali kepada berita Perkampungan Komunitas Hoakiau Indonesia di
Xiamen, saya perhatikan, pada hakikatnya, kerinduan terhadap negeri kelahiran
berdasarkan pada kenyataan bahwa kehidupan di Indonesia bagaimana pun jauh
lebih nyaman. Terutama mudahnya mendapatkan orang gaji dan pembantu rumah
tangga dengan bayaran murah. Tidak pernah dipaksa bekerja di lapangan di bawah
terik panas matahari. Tidak adanya perobahan cuaca yang drastic juga berupa
satu daya penarik, dan pembawaan masyarakat Indonesia yang peramah, sopan
santun, lemah lembut dibandingkan dengan lingkungan masyarakat Tiongkok yang
umumnya aggressive dalam berkomunikasi. Semua ini menjadikan unsur kenapa
mereka senantiasa merindukan tanah air kelahiran sekali pun telah hidup di luar
sepanjang setengah abad.
Sejujurnya, unsur terkait yakni kenyamanan hidup yang membuat orang
merindukan tanah kelahiran adalah unsur kemanusiaan yang terdapat di mana mana.
Adalah wajar bahwa manusia sering merindukan masa lalu yang dalam
ingatan selalu indah. Indah karena ingatan itu umumnya sudah disaring dan
dipilih menjadi selected memory.
Tapi, apakah unsur kerinduan yang berdasarkan selected memory ini
berupa suatu fenomina yang patut dibanggakan sebagai jiwa cinta tanah air yang
berkepanjangan tetap bergelora selama setengah abad?
Saya tidak yakin.
Yang masih relevant, yang tetap kita lawan adalah penggusuran
masyarakat setempat secara paksa demi keputusan politik maupun kepentingan
ekonomi.
Sebaliknya bagi masyarakat asal Indonesia yang sudah berdiam di
Tiongkok selama setengah abad, selayaknya sudah dapat menyesuaikan diri, rela
merangkul budaya setempat, tidak mengasingkan diri, tidak membangun lingkungan
kehidupan yang eksklusif.
Kosakata “Hoakiau” bernada rangka sejarah dan politik yang telah
menempati posisi tersendiri pada masanya. Tapi pada jaman sekarang, di mana
peraturan kewarganegaraan telah ditata menurut pengakuan prosedur
internasional, sebutan dan makna “Hoakiau” dalam kehidupan nyata terasa
redundant.