Ref: Pengungsi Rohinga di Miamar (Burma) cepat memdapat bantuan. Menurut JMK  
beberapa waktu silam, dikatakan bahwa PMI membagun 9000 rumah untuk mereka, 
tetapi pengungsi Syiah Madura hingga kini tetap saja masih jadi pengungi. 
Mungkin lambatnya datang bantuan ini adalah suatu peringatan kepada kaum 
minoritas lainnya, jikalau mengalami bencana atau kesusahan jangan mengharapkan 
bantuan akan segera datang dari rezim berkuasa, selama masih berada di jalan 
“sesat”.

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/10/10/354076/289/101/193_Warga_Syiah_Sampang_masih_di_Pengungsian


193 Warga Syiah Sampang masih di Pengungsian 
Senin, 08 Oktober 2012 12:30 WIB     
SAMPANG--MICOM: Sebanyak 193 warga Syiah, korban tragedi kemanusiaan Sampang, 
Jawa Timur, hingga kini masih bertahan di tempat pengungsian, yakni Gedung 
Olahraga Wijaya Kusuma. 

"Pengungsi yang tinggal di GOR berkurang dibanding sebelumnya," kata Kepala 
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Sampang Imam Sanusi, Senin 
(8/10). 

Sebelumnya, pengungsi Syiah korban tragedi kemanusian mencapai 282 orang. 
Mereka dari 63 keluarga terdiri dari 73 laki-laki, 71 perempuan, 52 anak 
laki-laki, 46 anak perempuan, 17 balita laki-laki, dan 19 balita perempuan. 

"Namun data terakhir hingga Minggu (7/10) kemarin pengungsi Syiah yang tinggal 
di GOR Sampang hanya 193 orang," kata Imam Sanusi. 

Menurut Imam, berkurangnya pengungsi yang tinggal di lokasi penampungan itu 
karena sebagian di antara mereka ada yang melanjutkan pendidikan ke luar 
Madura, seperti Malang, Surabaya, dan Pasuruan. 

Faktor pendidikan warga Syiah diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya 
penyerangan kelompok minoritas Islam di Sampang ini oleh kelompok anti-Syiah 
pada 26 Agustus 2012. 

Ketika itu, anak-anak warga Syiah yang hendak melanjutkan pendidikan ke luar 
Sampang dihadang kelompok penyerang. Mereka tidak menginginkan ajaran Syiah 
berkembang luas di Sampang dengan alasan ajaran kelompok pimpinan Tajul Muluk 
itu sesat. 

Kepala BPBD Sampang Imam Sanusi menjelaskan, hingga kini pemkab belum menemukan 
soluasi guna mengatasi persoalan konflik bernuansa SARA yang menimpa kelompok 
Islam Syiah itu. 

Beberapa kali pertemuan telah digelar, salah satunya mencarikan solusi agar 
warga Syiah mau mengungsi di lokasi penampungan sementara, tapi mereka menolak 
dan berkeras akan tetap kembali ke kampung halamannya di Desa Karang Gayam, 
Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang. 

Di sisi lain, tokoh ulama Sunni di Sampang tetap berkeras menolah keberadaan 
Syiah. Dalam beberapa kali pertemuan yang melibatkan tokoh-tokoh ulama Sunni 
dan MUI Sampang, mereka menyatakan bersedia menerima Syiah asalkan mengikuti 
ajaran ahlus sunnah wal jamaah). (Ant/OL-5) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke