http://www.harianterbit.com/2012/10/15/2014-suara-parpol-islam-anjlok/

Senin, 15 Oktober 2012 08:25 WIB 


4 Besar Dikuasai Partai Nasionalis 
2014 Suara Parpol Islam Diprediksi Anjlok
Kinoy — HARIAN TERBIT

--------------------------------------------------------------------------------

 
JAKARTA — Kalau tak segera melakukan pembenahan serius, parpol Islam tak akan 
masuk posisi lima besar pada Pemilu 2014. Demikian hasil survei terbaru yang 
dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI), kemarin, di kantor LSI, Rawamangun, 
Jakarta. 

Menurut LSI, posisi empat besar pada Pemilu 2014 akan dikuasai oleh parpol 
berhaluan nasionalis. Parpol Islam mulai tergerus baik secara kepartaian maupun 
popularitas figur.

“Ini pertama kalinya sejak Pemilu 2004, Pemilu 2009, dan pada survei 
sebelumnya, partai politik Islam tak satu pun yang masuk ke dalam lima besar 
dukungan publik. Pada survei Oktober 2012, dukungan partai Islam di bawah lima 
persen,” ujar peneliti LSI, Adjie Alfaraby, kemarin.

Menurut Adjie, pada Pemilu 2004, partai Islam seperti PKB di posisi ketiga 
dengan dukungan suara 10,6 persen, PPP di posisi keempat dengan dukungan suara 
8,1 persen, disusul partai nasionalis Demokrat dengan dukungan suara 7,5 persen.

Pada Pemilu 2009, partai Islam pun masih menempati posisi lima besar yang 
tercermin dari perolehan suara yang didapat PKS sebesar 7,9 persen. Posisi PKS 
berada di posisi keempat, disusul dengan PAN yang mendapat perolehan suara 6.0 
persen.

Ternyata bukan hanya dukungan terhadap parpol Islam yang menurun, tapi juga 
tokoh-tokoh parpol Islam mendapat tingkat pengenalan dari publik di bawah 60 
persen atau kalah popularitas dengan tokoh dari partai Nasionalis 
popularitasnya di atas 60 persen.

Dukungan tokoh parpol Islam masih dibawah 5 persen, seperti Hatta Rajasa (3,2 
persen), Suryadharma Ali (2,1 persen), Muhaimin Iskandar (0,3 persen), Lutfi 
Hasan Ishaaq (0,8 persen), sedang dukungan tokoh partai nasionalis yang diatas 
15 persen, yakni Megawati Soekarnoputri (20,2 persen), Prabowo (19,3 persen) 
dan Aburizal Bakrie (18,1 persen).

“Jika kondisi survei ini tetap bertahan, maka peluang tokoh parpol Islam ini 
untuk maju sebagai capres sangat kecil,” kata Adjie. 

LSI menemukan empat faktor penyebab penurunan elektablitas parpol Islam, 
pertama, yakni makin kentalnya fenomena “Islam Yes, Partai Islam No” atau dapat 
dikatakan mayoritas Islam di Indonesia tidak ingin partai dengan aroma Islam 
menjadi mayoritas.

Kedua, yakni pendanaan politik partai Nasionalis lebih kuat daripada pendanaan 
politik pratai Islam. 

Ketiga, yakni munculnya anarkisme yang mengatasnamakan Islam oleh kelompok 
tertentu dinilai berdampak pada munculnya “kecemasan kolektif” masyarakat pada 
umumnya. 

Keempat, yakni banyak tokoh-tokoh Islam yang diakomodasi oleh partai nasionalis 
baik ke dalam struktur partai maupun dalam rekruitmen anggota parlemen. Survei 
LSI ini dilakukan pada 1-8 Oktober 2012 dengan sample 1.200 responden di 33 
provinsi, menggunakan metode pengacakan beringkat (multistage random sampling), 
pengumpulan data melalui wawancara tatap muka responden, menggunakan kuesioner, 
serta tingkat kesalahan sekitar 2,9 persen.

Editor — Maghfur Ghazali
+++++

--------------------------------------------------------------------------------


http://www.harianterbit.com/2012/09/03/korupsi-perburuk-citra-parpol-islam/

Senin, 3 September 2012 02:40 WIB 
Korupsi, Perburuk Citra Parpol Islam
Dwi Suharto — HARIAN TERBIT

MALANG — Presiden Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan mengatakan 
keterlibatan sejumlah anggota parpol dalam kasus korupsi sangat berpengaruh 
terhadap menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik, tak 
terkecuali partai Islam.

“Sentimen negatif terhadap partai politik membuat masyarakat beranggapan semua 
partai sama saja,” kata Luthfi Hasan Ishaaq, kemarin, di Malang.

Untuk kembali bisa memperoleh kepercayaan dari masyarakat, Lufhti meminta 
kepada partai-partai Islam untuk berbenah diri, memperbaiki diri, dan terus 
melakukan pelayanan kepada umat dan bangsa agar sentimen negatif terhadap 
partai politik secara umum tidak menggerus suara partai-partai Islam.

“Jadikan hasil-hasil survei sebagai early warning atau peringatan dini untuk 
melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik,” ujar Luthfi ketika 
berbicara dalam acara halal bihalal dengan kader dan simpatisan PKS se-Malang 
Raya.

Luthfi mengingatkan, suara partai-partai Islam belum terlalu besar, sehingga 
jika terjadi penurunan dampaknya sangat signifikan. “Bisa tidak lolos 
parliamentary threshold, yang sekarang naik jadi 3,5 persen,” ujar Luthfie.

Sebagai partai berazaskan Islam, lanjut Luthfi, PKS ingin agar partai-partai 
Islam atau partai berbasis massa Islam memiliki suara yang signifikan di 
parlemen. Hal ini penting untuk mengawal dan mengadvokasi kerja-kerja umat guna 
kepentingan bangsa dan negara.

Khusus kepada kader-kader PKS, Luthfi berpesan, agar terus meningkatkan 
kepedulian dan kerja-kerja sosial membantu masyarakat. “Kita tidak cukup 
memiliki modal finansial untuk memenangkan Pemilu. Tapi dengan kepedulian dan 
kerja-kerja sosial yang ikhlas insya Allah kita akan tetap eksis, karena kita 
bersama dengan masyarakat, kita
hadir di tengah-tengah mereka,” tegasnya.

Luthfi yakin, masyarakat akan mengapresiasi kerja dan kepedulian sosial PKS dan 
partai-partai lainnya, yang pada gilirannya masyarakat akan memberikan 
dukungannya. “Asal dilakukan dengan ikhlas, dan tidak menjelang Pemilu saja itu 
dilakukan. Harus berkesinambungan,” jelasnya.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke