http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,40314-lang,id-t,Awas++Buku+Radikal+Pelintir+Ayat+Al+Qur+an-.phpx

Awas! Buku Radikal Pelintir Ayat Al-Qur'an

Rabu, 17/10/2012 05:55
Semarang, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengungkapkan, saat ini 
beredar buku-buku beraliran radikal yang tersebar bebas di tengah masyarakat 
baik berbahasa Arab atau bahasa Indonesia.

Ada buku Al-jihadu Sabiluna karangan Syaikh Abdul Baqi Ramdun, buku Fi 
Tarbiyyah al-Hihadiyyah wal-Bina karya Syaikh Abdullah Azzam, dan buku-buku 
yang ditulis Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani dan lainnya.

Dalam satu kegiatan yang diselenggarakan bersama Badan Nasional Penanggulangan 
Terorisme (BNNPT) di Semarang 11-12 Oktober lalu, Ketua PWNU Jawa Tengah 
Muhammad Adnan mengungkapkan, buku-buku yang mengajarkan terorisme itu biasanya 
berisi pemelintiran atas ayat-ayat Al-Qur'an maupun tafsirannya. Ayat-ayat 
tentang jihad yang turun di Mekkah dianggap telah di-nasakh (dihapus hukumnya) 
dengan ayat yang turun di Madinah. 

Kaum radikal yang mengklaim gelar syaikh dalam bukunya, lanjut dia, menganggap 
periode Madinah adalah masa perang. Mereka menganggap ayat yang turun di masa 
Nabi tinggal di Mekah tidak berlaku lagi. 

Contoh ayat yang dipelintir adalah surat Al-Hajj ayat 39 dan Surat Al-Baqoeoh 
ayat 191-192. Ketiga ayat tersebut dimaknai perintah untuk menyerang kepada 
kaum kafir sekalipun kaum muslim tidak diserang lebih dulu. Tak lagi fase difa’ 
atau defensif. 

”Para penulis buku radikal memelintir ayat dan tafsiran Al-Qur'an secara 
ngawur. Mereka menganggap ayat yang turun di Madinah menghapus ayat yang turun 
di Makkah. Jihad menurut mereka hanya satu, yaitu perang dan menyerang musuh 
meskipun tidak diserang duluan,” terangnya. 

Adnan bahkan menemukan, kaum radikalis senang sekali mendakwa bahwa Hadis 
Rasulullah tentang jihad akbar melawan hawa nafsu sebagai hadis mardud alias 
tertolak. Lalu menganggap para ahli fiqih sebagai pembuat khayalan dalam 
pemetaan negara. 

”Selain memelintir ayat Al-Qur'an, mereka juga menilai hadis menurut nafsu 
mereka sendiri. Ada hadis yang mereka tolak, hadis jihad akbar melawan hawa 
nafsu mereka anggap sebagai ajaran untuk memasung dakwah Islam,” sambungnya. 

Menurut Adnan, jihad adalah bahasa Al-Qur’an, maka hanya Al-Qur'an yang tahu 
maknanya. Namun Allah melalui Rasul-Nya telah memberitahu umatnya, bahwa jihad 
itu banyak terapannya, termasuk menanamkan aqidah, mendirikan sholat, membayar 
zakat dan sabar dalam menghadapi musibah. Lalu jihad paling besar adalah 
melawan hawa nafsu. Sedangkan perang adalah sistem pembelaan diri dan itupun 
disebut Rasul sebagai jihad kecil. 

”Perang hanyalah salah satu bentuk jihad, yang jika dilakukan harus memenuhi 
ketentuan syariat. Tidak asal menyerang dan ngawur. Lagi pula, ayat tentang 
jihad dalam pengertian perang, baru turun pada tahun kedua hijriyah pada surat 
Al-Baqorah 193 dan dipertegas dalam Al-Hajj 40. Jadi kita harus menyampaikan 
pengertian ini kepada anak-anak kita. Setidaknya agar teroris tidak merebuat 
isi pikiran generasi kita,” tegas dia. 

Qital; peperangan, harb atau ghozwah; perang, lanjutnya, jelas berbeda dengan 
penyerangan, perusakan, dan teror. Apalagi ditujukan kepada tempat ibadah dan 
menimbulkan korban yang tidak terkait dengan target yang diserang. 

”Jangan biarkan teroris, kaum radikal dan orang bodoh mendistorsi atau 
menyelewengkan ayat Al-Qur'an dan hadis Rasulullah. Teks-teks suci itu jika 
dimaknai dan ditafsiri secara ngawur, akan merusak ajaran Islam dan 
menghancurkan agama kita ini,” pungkasnya. 

Selain Adnan, pembicara lain dalam forum itu antara lain Abu Hafsin Umar, 
Asisten Direktur Program Pascasarjana IAIN Walisongo yang juga ketua Forum 
Kerukunan Umat Beragama Jawa Tengah, dan Direktur Deradikalisasi BNPT Prof Dr 
Irfan Idris.



Redaktur    : A. Khoirul Anam
Kontributor: Muhammad Ichwan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke