SOSIALISME Orang mempertentangkan sosialisme dengan kebebasan berpendapat, kebebasan pers, kebebasan bersastra, dengan demokrasi, dengan kemakmuran kapitalisme dan dengan semua saja yang bernuansa kapitalisme. Sejarah mencatat sosialisme atau negara sosialis yang pernah berdiri telah rontok dan meninggalkan kemiskinan dan keterbelakangan. Hal itu benar tapi belum seluruh kebenaran.
Kehancuran sosialisme di Uni Soviet dan di berbagai negeri sosialis lainnya tidak lalu digantikan oleh kapitalisme yang mengulangi jaman keemasaanya. Sebaliknya kapitalisme berangsur longsor yang mencapai puncaknya sekarang ini. Namun kapitalisme tidak hancur seperti kehancuran sosialisme. Kapitalisme hidup terus tanpa saingan, tanpa kritik-kritik mematikan seperti ketika sosialisme masih ujud. Kehidupan ummat manusia secara global tidak lebih baik dan lebih khusus lagi kehidupan rakyat sedunia bertambah miskin di manapun mereka berada. Orang-orang yang masih memikirkan atau berpikiran sosialis, kebanyakan dari mereka menjadi ragu hingga kehilangan kepercayaan terhadap keunggulan Sosialisme. Mereka melihat kehancuran sosialisme di Uni Soviet dan di berbagai negara sosialis di Eropah Timur. Mereka melihat sosialisme di Korea Utara, mereka melihat sosialisme di Kuba. Sedangkan di Tiongkok dan Vietnam banyak orang bertanya-tanya apakah masih bisa disebut negara sosialis karena yang dibangun di sana adalah ekonomi kapitalis sepenuhnya tapi kekuasaan politik masih berada di tangan kaum sosialis yang lama meskipun berangsur digantikan dengan generasi barunya. Perdebatan tentang apa itu sosialisme masih akan berkepanjangan dan masih jauh, jauh sekali hingga kesimpulan yang satu. Ternyata sosialisme itu bagaikan segumpal kertas putih yang belum diberi warna sebagai lampiran blanco dari teori-teori Marxisme-Leninisme. Dan ketika sosialisme mendapatkan warnanya, ternyata menjadi gambaran yang lintang pukang conteng cemoreng yang warna merah pertama sebagai dasar sudah semakin menghilang dan yang terlihat bagaikan lukisan expresionisme, abstrak, yang lebih terlihat dekaden daripada realisme yang semestinya. Sosialisme diperlakukan sebagai penafsiran bebas tentang negara, politik dan ekonomi sehingga ada yang berpendapat negara sosialis yang sesungguhnya belum pernah berdiri, belum lahir dan yang ada cumalah penafsiran(variasi) politik dan ekonomi. Tapi apakah benar demikian. Jawabnya tidak sederhana. Keruntuhan sosialisme pertama-tama adalah oleh tekanan yang luar biasa besarnya dari kubu kaum Imperialis Internasional, oleh sabotase-sabotase politik dan ekonomi yang tak terperikan banyaknya den efektifnya, oleh intervensi kebudayaan dan cara hidup kapitalisme yang mendalam dan agressiv dari Imperialisme. Orang mengatakan tanpa sokongan Internasional, sosialisme tidak mungkin hidup tenang dan maju berkembang. Tapi siapakah yang disebut Internasional itu? Internasional dalam pengertian moderen adalah kapitalisme/imperialisme dengan kekuatan ekonomi, politik dan kebudayaannya. Semua yang non kapitalisme cumalah tambahan kadar semu dalam club yang disebut Internasional tsb dan itu masih berlangsung hingga sekarang. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah masih ada orang yang merindukan sosialisme? Pertanyaan ini sekarang tetap menjadi pertanyaan provokativ, iritant untuk sebagian orang. Namun kemiskinan membutuhkan sosialisme, sedangkan sosialisme membutuhkan negara dan negara membutuhkan kekuasaan. Dan semua itu adalah masaalah tehnis. Selebihnya cukup melihat teori-teori Marx dan Lenin dan membalik lampiran yang masih blanco. Lampiran itu tidak hanya satu halaman tapi cukup tebal menunggu para pelukis sosialis yang paling unggul dan kreatif. Orang Tiongkok dan Vietnam sedang mencoba dan mewarnai lampiran kertas putih yang masih blanco tsb. Marxisme adalah juga sinonim dari reparasi dan percobaan. Kritik tetap masih bisa dilontarkan. ASAHAN. [Non-text portions of this message have been removed]
