Ref.: Pangat rendah, gajinya kecil, korupsinya tidak sebanyak yang berpangkat tinggi bergaji besar, mereka berpangat tinggi ini korupsinya bisa sangat busaaaaar.
http://www.analisadaily.com/news/read/2012/10/28/83922/gaji_kecil_menghalalkan_korupsi/#.UI2cFoaaHBo Minggu, 28 Okt 2012 01:50 WIB TEROPONGBERITA Gaji Kecil "Menghalalkan" Korupsi" ? Oleh : Mohli’s. SALAH satu kendala Polri dalam membanteras korupsi adalah gaji yang rendah. Masalah gaji ini menjadi salahsatu kesulitan dalam pembanterasan korupsi. Jadi kita nggak munafik, termasuk saya. Kalau hanya dari gaji nggak akan cukup. Yang jelas bagaimana caranya kita tidak boleh menerima gratifikasi apa pun bentuknya. Komitmen ini sangat berat. Terkadang penyidik sudah independen dalam mengusut kasus. Tetapi, ada saja pihak tertentu yang berusaha membujuknya agar melakukan korupsi. Terkadang klepak-klepak juga penyidiknya kalau ada yang bawa duit di depannya. Ini fakta dilapangan. Karena itu pimpinan harus berani bertindak tegas, berintegritas, memberi tauladan, antigratifikasi, menolak tegas korupsi, kolusi dan nepotisme. Itulah ucapan jujur Wakapolri (Wakil Kepala Polri) Komjen Nanan Sukarna yang dulu pernah menjabat sebagai Kapolda Sumatera Utara dalam diskusi Kejaksaan di Jakarta. Wah, ini baru hebat. Mengapa - Karena hal ini diakui oleh seorang perwira tinggi berpangkat Komjen (Komisaris Jenderal) Polisi, yang jika di tentara setara Letnan Jenderal. Namun masalah ini bukanlah "barang baru". Masalah gaji rendah, tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup, sesungguhnya sudah lama sekali dikeluhkan. Pegawai negeri sudah sejak dulu-dulu mengeluhkan gajinya yang kecil, meskipun secara berkala selalu ada kenaikan. Anehnya setiap tahun tidak sedikit orang berebut menjadi PNS. Biarlah gaji kecil, tapi kerjanya enteng, banyak libur bersama, jika sudah tua dapat pensiun. Begitu alasan mereka. Maka tidak heran banyak orang yang menjadi korban calo yang bualnya dapat menjamin bisa masuk jadi PNS. Bayar berapa pun, atau menggadai apa yang bisa digadai. Begitu pula kaum buruh seperti tak habis-habisnya menuntut kenaikan upah. Karena jumlah gaji/upah senantiasa tak mencukupi untuk hidup sederhana. Meskipun sudah ada UMR, mereka menuntut umr dinaikkan sesuai dengan kebutuhan hidup yang standar. Tidak perduli perusahaan/industri tempat mereka bekerja mampu memenuhi tuntutan mereka atau tidak. Karena maklumlah, perusahaan/industri selain membayar upah buruh juga harus membayar pajak, sumbangan ini itu, mengurus surat surat yang diperlukan dari instansi pemerintah juga perlu duit yang resmi maupun yang tidak agar urusan surat-menyurat itu cepat selesai. Kalau rakyat biasa, buruh kecil, pegawai rendahan yang mengeluh gaji tak mencukupi, mungkin suatu yang wajar meskipun terjadi setiap tahun. Justru sebabnya pun wajar pula, yaitu harga barang-barang kebutuhan pokok pun selalu sering naik. Baru mendengar selentingan gaji PNS akan naik, para pedagang buru-buru menaikkan harga dagangannya. Hal itu jadi "barang biasa". Yang tidak biasa dan kuping terasa bergelitik mendengarnya, karena presiden kita, juga pernah mengemukakan bahwa gajinya tidak pernah naik. Rasanya kok lucu, kok ada kepala negara yang mempersoalkan gajinya, padahal segala kebutuhannya sudah ditanggung negara. Ini tak pernah terjadi pada presiden presiden terdahulu. Malahan ada presiden yang pinjam duit pada pengusaha untuk memperbaiki mobil pribadinya yang kebetulan rusak. Bahkan ada wakil presiden yang kepingin membeli sepatu yang bermerek, tapi tak kesampaian karena uangnya tak cukup, gajinya pun kecil. Tapi dia tak mengeluh. APA BISA - Tapi sudahlah ! Kita kembali kepada pengakuan Waka Polri Komjen Nanan Sukarna. Timbul juga pertanyaan : Apakah gaji kecil itu bisa menjadi alasan untuk "menghalalkan" orang berbuat korup - Ini pertanyaan klasik yang tergantung terus sampai sekarang. Nanan Sukarna menegaskan, yang utama bagi kepolisian bagaimana polisi bisa menjadi pelayan yang baik dan menjamin kualitas polisi anti-KKN dengan hanya mengandalkan gaji semata dan menolak gratifikasi. Ya, ini ucapan, atau tekad yang bagus sekali dari seorang perwira tinggi polisi. Tapi kita juga jangan munafik melihat kenyataan di lapangan. Korupsi yang kian merajalela yang bukan dilakukan oleh bawahan, tapi oleh atasan atau politisi yang telah mempunyai kedudukan mapan bahkan berlebihan. Punya rekening gendut miliaran rupiah. Apakah Pak Nanan tidak menyadari, bahwa ucapannya itu dapat bias ke bawahan yang berhujan berpanas mengatur lalulintas yang macet, sopir yang membandel, mengejar penjahat dan teroris yang terkadang dirinya sendiri menjadi korban (ingat peristiwa Poso, dua orang po lisi gugur ketika menjalankan tugas), mengejar perampok dan penjahat-penjahat lain yang terkadang berani karena mereka memiliki senjata api, dan lain sebagainya. Dan ini semua mereka lakukan dengan gaji yang tidak mencukupi. Maka tak usahlah heran bila para bawahan itu tanpa sadar jadi menggerundel : Ah, bapak-bapak jenderal punya rekening gendut tapi masih juga korupsi, konon pula kami yang gaji tak cukup. Jangankan punya rekening atau tabungan, gaji saja bila cukup makan sekeluarga setiap bulan sudah sangat syukur ! *** [Non-text portions of this message have been removed]
