Ref: Mendukung BUMN dengan menadah tangan? Jangan khawatir komisi tidak 
dilupakan.

http://www.jambiekspres.co.id/berita-1684-presiden-dukung-bumn-tolak-kongkalikong.html


Presiden Dukung BUMN Tolak Kongkalikong

Minggu, 28/10/2012 - 11:04:26 WIB | Kategori: Nasional - 0 

     
      Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 

JAKARTA - Ketegangan antara Menteri BUMN Dahlan Iskan dan DPR terkait adanya 
oknum yang meminta jatah ke perusahaan negara tak luput dari perhatian Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono. Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan 
Firmanzah menyatakan, sejak awal presiden mendorong agar ada pengelolaan 
anggaran yang profesional dan efisien. 

"Jangan sampai anggaran yang susah payah didapat ada kebocoran yang tinggi. Ada 
alokasi yang tidak mengedepankan efisiensi," katanya kepada Jawa Pos, Sabtu 
(27/10).

BUMN, lanjut dia, harus memiliki keuangan yang sehat, efisien, serta bebas dari 
kepentingan politik. Firmanzah menegaskan, BUMN harus benar-benar bisa menjadi 
kepanjangan tangan negara dalam sektor ekonomi dan tidak membebani anggaran 
negara. "Termasuk, jangan ada praktik kongkalikong. Tidak hanya dengan politik, 
tapi juga eksekutif," ujarnya.

Salah satu arahan presiden kepada BUMN disampaikan di depan jajaran dewan 
komisaris dan direksi BUMN di ballroom Hotel Sahid Rich, Jogjakarta (10/10). 
Saat itu, SBY memberikan apresiasi atas prestasi BUMN. Selain itu, SBY 
mengingatkan agar BUMN berbenah dengan membersihkan diri.

Menurut Firmanzah, saat ini semangatnya adalah bersama-sama melakukan reformasi 
dan perbaikan. Masing-masing pihak, baik direksi BUMN maupun legislatif, harus 
menjaga hal tersebut.

SBY, kata dia, menyambut baik sikap Dahlan yang siap memberikan klarifikasi 
kepada DPR. "Kesempatan bertemu DPR adalah kesempatan yang baik," ungkap mantan 
dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu.

Klarifikasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan laporan mengenai inefisiensi 
di Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat Dahlan menjabat direktur utama, namun 
juga soal oknum DPR yang mengajak mempermainkan anggaran atau meminta jatah 
dari BUMN. 

"Nanti ada mekanismenya di sana (DPR). Tapi, masing-masing pihak semangatnya 
adalah keterbukaan dan untuk memperbaiki diri," urai Firmanzah.

Sebagaimana diberitakan, ketegangan muncul ketika ada dugaan oknum DPR yang 
memeras BUMN. Dahlan menginstruksi jajarannya untuk menolak permintaan 
tersebut. Itu dilakukan sebagai tindak lanjut Surat Edaran (SE) Nomor 
542/Seskab/IX/2012 yang berkaitan dengan pengawalan APBN 2013-2014 dengan 
mencegah praktik kongkalikong.

Persoalan lain muncul ketika inefisiensi PLN Rp 37 triliun dipertanyakan. 
Dahlan sempat tidak menghadiri rapat kerja dengan komisi VII karena tengah 
mendampingi Presiden SBY melakukan kunjungan kerja ke Jogjakarta. Namun, Dahlan 
sudah menyatakan siap memberikan klarifikasi, bahkan siap menghadapi risiko.

(fal/wir/dyn/pri/c5/nw

++++

http://www.bisnis.com/articles/privatisasi-bumn-dpr-setujui-privatisasi-kertas-padalarang-primissima-sarana-karya

PRIVATISASI BUMN: DPR Setujui Privatisasi Kertas Padalarang, Primissima, Sarana 
Karya 
Newswire 

Rabu, 24 Oktober 2012 | 21:55 WIB 

 
JAKARTA: Komisi XI DPR menyetujui rencana privatisasi tiga Badan Usaha Milik 
Negara (BUMN), yaitu PT Kertas Padalarang Persero, PT Primissima Persero, dan 
PT Sarana Karya Persero.

Wakil Ketua Komisi XI Zulkieflimansyah menuturkan rencana privatisasi tiga BUMN 
itu sebelumnya sudah diputuskan oleh Komisi VI DPR bersama Menteri BUMN. Oleh 
sebab itu, Komisi XI DPR memberikan persetujuan untuk rencana privatisasi 
tersebut.

"Kami Komisi XI dapat menyetujui rencana privatisasi tiga BUMN ini," kata 
Zulkieflimansyah dalam Raker Komisi XI DPR, Rabu malam (24/10/2012).

Dia menjelaskan saham pemerintah yang ada di Kertas Padalarang akan didivestasi 
melalui mekanisme "strategic sales" kepada Perum Peruri. Saham pemerintah yang 
juga terdapat pada Primissima akan didivestasi kepada GKBI, sedangkan saham 
pemerintah yang berada di Sarana Karya akan diambilalih oleh PT Wijaya Karya 
Tbk (WIKA).

"Namun, terkait dengan persetujuan tersebut, untuk privatisasi Sarana Karya, 
Komisi XI meminta agar Wijaya Karya bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Buton 
setelah merealisasikan akuisisi tersebut," tuturnya.

Sementara anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDIP Indah Kurnia menilai bahwa 
banyak BUMN yang tidak efisien dan tidak efektif sehingga membutuhkan langkah 
privatisasi serta tambahan modal.

"BUMN kalah dengan swasta, di mana masih sulit mendapatkan bahan baku sehingga 
membuat marjinnya negatif. Tolong diperbaiki ke depannya," ujar Indah pada 
kesempatan yang sama.

Dia mengharapkan Menteri BUMN Dahlan Iskan dan menteri terkait memperhatikan 
pola hidup direksi BUMN dengan cara direksi tersebut menjalankan perusahaannya.

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN Laurens Bahang Dama menjelaskan Pemda 
Buton memberikan rekomendasi terkait akuisisi Sarana karya yang dilakukan oleh 
Wijaya Karya agar WIKA dapat bekerja sama dengan Pemda Buton.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyambut gembira persetujuan privatisasi 
untuk tiga BUMN tersebut. Ia turut mendukung program privatisasi yang 
digulirkan oleh Kementerian BUMN.

Ia mengatakan, saham pemerintah sebesar 100% yang berada di Sarana Karya 
nantinya diambil alih oleh BUMN lain, yakni WIKA. Hal ini dilakukan karena 
dalam 5 tahun terakhir Sarana Karya memiliki ekuitas negatif serta mengalami 
kerugian sehingga sulit untuk mendapatkan pendanaan.

Selanjutnya, saham pemerintah sekitar 52,79% yang terdapat pada Primisissima 
akan dialihkan kepada GKBI.

"Kami ingin sampaikan rekomendasi di mana kondisi mesin sudah tua dan butuh 
perbaikan sehingga memberikan hasil yang tidak maksimal bagi Primissima," tutur 
Agus.

Agus melanjutkan Primissima sering mengalami keterlambatan produksi, pemasaran 
dan ekspor yang terus menurun, serta adanya persaingan dari negara tetangga 
yang berpengaruh terhadap permintaan pasar Primissima. Bahkan, marjin yang 
negatif karena perusahaan mengalami kerugian pada periode 2006-2009.

Selanjutnya, saham pemerintah sebanyak 7,74 persen yang terdapat pada Kertas 
Padalarang akan diambilalih oleh Peruri. Secara umum, kondisi yang dihadapi 
oleh Kertas Padalarang adalah mesin yang sudah tua, perusahaan yang membutuhkan 
modal, serta pemasaran yang terus menurun dari tahun ke tahun.

"Untuk itu, perusahaan membutuhkan mitra strategis untuk mempertahankan 
penjualannya," ungkapnya.(Antara/bas)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke