http://www.manadonews.com/berita/nasional/kepolisian-ri-kelompok-teror-poso-mulai-gunakan-bom-ranjau-.html

Kepolisian RI: Kelompok Teror Poso Mulai Gunakan Bom Ranjau 
Nasional | Selasa, 30 Oktober 2012 | 00:46    
Oleh : MN3, manadonews.com

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Boy Rafli Amar 
dalam konferensi pers terkait teror di Poso (Foto: VOA/Andylala)
  

Kepala Biro Penerangan Mabes Polri, Brigjen Boy Rafli Amar di Jakarta Senin 
menjelaskan, beberapa bom ranjau ditemukan saat pencarian lokasi pelatihan 
teror di daerah gunung Biru, Tamanjeka, Poso, Sulawesi Tengah.

Bom pertama ditemukan pada Sabtu (27/10) berdaya ledak rendah atau low 
explosive. Sementara bom kedua juga ditemukan di lokasi yang sama pada Minggu 
(28/10). Bom kedua berdaya ledak cukup besar atau high explosive dengan berat 
12 Kilogram.

"Ada penemuan yang kita duga sebagai bom rakitan di lereng gunung biru dekat 
dusun Taman JK. Bahan peledak yang sama ditemukan pada hari berikutnya di 
lokasi yang sama. Dua bahan peledak ini difungsikan sebagai bom ranjau. 
Materinya lengkap, ada detonatornya termasuk benda-benda keras seperti paku. 
Yang terakhirnya bobotnya sebesar 12 kilo gram," ungkap Brigjen Boy Rafli.

Boy Rafli menambahkan, saat ini tim gabungan dari Polri dan TNI, terus menyisir 
Gunung yang biasa dilakukan sebagai jalan setapak oleh masyarakat dan diduga 
dijadikan tempat pelatihan militer kelompok teror. Pihak kepolisian 
memperkirakan, masih banyak bom rakitan yang difungsikan sebagai bom ranjau ini 
yang tersimpan di wilayah Gunung itu. 

Penggunaan bom ranjau oleh kelompok teror di Poso sebelumnya diungkap oleh 
Pengamat dan peneliti Terorisme Solahudin. 

Dalan sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu, Solahudin menjelaskan 
kelompok teror Poso pimpinan Santoso, telah menjadikan dusun Taman JK dan 
Gunung Biru sebagai basis pertahanan mereka, dan menanam sejumlah bom ranjau di 
beberapa lokasi. Santoso hingga kini masih menjadi buron kepolisian terkait 
aksi teror di Poso.

"Sekarang mereka memang telah menantang polisi untuk perang terbuka. Mereka 
sudah menguasai sebuah lokasi di daerah dusun Taman JK. Mereka sudah menyiapkan 
ranjau-ranjau. Dan mereka sangat berharap polisi masuk ke daerah itu, karena 
sudah disiapkan ranjau-ranjau, " kata Solahudin. "Salah seorang yang memasang 
ranjau itu adalah Hendra alias Abdul Salam, aktivis pesantren Umar bin Khatab 
Nusa Tenggara Barat yang pada Agustus 2011 dikejutkan dengan adanya ledakkan 
bom rakitan di pesantren itu. Hendra sendiri tewas terkena ranjau yang ia 
pasang sendiri 12 Oktober lalu,\' tambahnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai mengakui ada 
kesulitan aparat keamanan untuk melakukan penegakkan hukum dalam menindak 
pelaku teror di Poso. Khususnya dalam menangkap Santoso dan pengikutnya yang 
masih buron. 

"Hambatan pertama adalah masalah geografis. Poso itu kan banyak sekali 
desa-desa dan dusun-dusun dengan letak geografis yang penuh dengan bukit, 
gunung dan hutan lebat. Yang kedua adalah sebagian kecil masyarakat sudah 
dipengaruhi oleh sel-sel kelompok teror ini yang berdiam di tengah masyarakat," 
ungkap Ansyaad Mbai. 

Satu Lagi, Ledakkan Bom di Poso.

Sementara itu sebuah bom meledak di sebuah warung makan di tempat rekreasi 
Pantai Penghibur Poso Senin (29/10). Kepala Biro Penerangan Mabes Polri, 
Brigjen Boy Rafli Amar tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

"Ada ledakkan di Pantai Penghibur Poso di sebuah kios. Saat ini sedang 
dilakukan olah tkp. Kita bersyukur tidak ada korban jiwa. Kios dimiliki oleh 
bapak Aruji Lukas," jelas Brigjen Boy Rafli.

Boy Rafli berharap, masyarakat aktif dalam pengamanan swakarsa melalui pos-pos 
kamling khususnya di dusun dan pedesaan. Termasuk melakukan kerjasama denga 
aparat keamanan. (voa)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke