http://www.mediaindonesia.com/read/2012/11/03/360141/70/13/TKI-on-Sale

TKI on Sale 

Sabtu, 03 November 2012 00:01 WIB     


KASUS iklan TKI on sale di Malaysia kian mempertegas citra tenaga kerja 
Indonesia di luar negeri yang kontradiktif. Di dalam negeri disanjung sebagai 
pahlawan devisa, tapi di luar negeri tidak lebih sebagai barang dagangan. 

Iklan itu berbunyi: 'Indonesian maids now on sale. Fast and easy application. 
Now your housework and cooking come easy. You can rest and relax. Deposit only 
RM3.500 price RM7.500 nett'. Iklan yang tertera di brosur itu bahkan 
menyebutkan adanya diskon 40%. 

Model iklan seperti itu sesungguhnya tak lebih sama dengan iklan yang ada di 
mal-mal di Jakarta yang menggelar berbagai diskon untuk berbagai barang, 
seperti baju, sepatu, dan tas. 

Itu sebabnya iklan TKI on sale tidak saja menghebohkan, tapi juga mengundang 
kecaman dari berbagai kalangan. Iklan itu jelas menyamakan tenaga kerja 
Indonesia di Malaysia bak barang dagangan. Mirip di zaman perbudakan. 

Penghinaan terhadap TKI itu hanyalah bagian dari derita pekerja yang mengadu 
nasib di luar negeri. Sebelumnya, sudah banyak cerita pilu tentang TKI, entah 
disiksa, diperkosa, entah bahkan dibunuh. 

Iklan TKI on sale jelas memperlihatkan betapa rendahnya martabat anak bangsa 
ini di Malaysia. Celakanya, menyamakan anak bangsa itu dengan budak justru 
dimulai di dalam negeri. Banyak pengusaha pengerah TKI memperlakukan mereka 
seperti bukan manusia. Mereka dijejalkan di tempat-tempat penampungan yang 
sempit dan dilepas bekerja di negeri orang tanpa perlindungan hukum yang kuat. 

Para TKI, misalnya, dilarang melakukan kontak dengan dunia luar. Tidak 
mengherankan bila kemudian muncul kasus TKI yang melarikan diri dari tempat 
penampungan atau bahkan bunuh diri. 

Perbudakan TKI tak hanya terjadi saat mereka akan diberangkatkan ke negeri 
jiran. Ketika kembali pun mereka menjumpai perlakuan yang hampir sama. Diperas, 
ditipu, atau dirampok di Tanah Air sendiri sepertinya telah menjadi kisah tak 
terpisahkan dari para TKI. 

Lantas, apa yang telah dilakukan pemerintah? Jelas, belum banyak dan belum 
berpengaruh apa-apa. Klaim pemerintah yang telah berbuat banyak mengurus dan 
melindungi berbeda dengan realitasnya. 

Yang pasti, pemerintah belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan sehingga 
masih banyak pekerja dengan keterampilan minim beradu nasib di negeri orang. 

Langkah pembatasan terhadap pengiriman TKI juga belum berpengaruh apa-apa. 
Sejatinya, mereka yang ingin bekerja di luar negeri perlu memiliki kemampuan 
khusus agar mereka tidak dipandang sebagai budak. 

Bagaimanapun, perlindungan terhadap TKI menjadi kewajiban negara. Di Jepang, 
perdana menteri mau turun langsung hanya untuk mengurus seorang pekerjanya di 
luar negeri yang sedang bermasalah. Demikian pula dengan presiden Filipina. 

Pemerintah Indonesia sesungguhnya tidak perlu malu meniru apa yang dilakukan 
pemerintah negara lain demi kemaslahatan rakyat. Atau sebaiknya dimunculkan 
saja iklan Pemerintah RI on sale. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke