Ref:  Ada negara ada intel. Siapa tahu mungkin saja konflik horizontal sengaja 
diciptakan oleh  aparat negara agar perhatian masyarakat bisa dialihkan kearah 
lain dengan maksud supaya  kepentingan penguasa negara tidak tergangu.  

http://www.indopos.co.id/index.php/berita-indo-rewiew/27856-konfl-ik-horizontal-di-manakah-negara.html

Konfl ik Horizontal, di Manakah Negara?

Sunday, 04 November 2012 04:50 

Deteksi Dini Intelijen Lemah

Lemahnya deteksi dini intelijen disebut-sesbut sebagai salah satu faktor pemicu 
munculnya banyak konflik horizontal di beberapa daerah. Warga yang tidak 
bersalah kembali menjadi korban.

Pengamat intelijen AC Manulang berpendapat, lemahnya deteksi dini terhadap 
ancaman konflik horizontal di masyarakat yang menelan korban tidak sedikit 
membuktikan kinerja intelijen lemah. ’’Saat ini intelijen kita loyo, kurang 
profesional,’’ kata Manulang, kemarin.

Mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) ini menyebut, bukan 
tidak mungkin dan jarang terjadi jika berbagai kerusuhan di berbagai daerah 
terlepas dari aktor intelektual dari Jakarta.

’’Sangat mungkin kerusuhan ini didesain dari Jakarta dengan berbagai tujuan dan 
bisanya tidak lepas dari tujuan perebutan 2014. Dengan adanya rusuh, 
seolah-olah pemerintahan sekarang ini lemah dan ini akan dimanfaatkan aktor ini 
untuk meraih simpati rakyat,’’
ungkapnya.

Manulang juga merasa heran, aparat kepolisian seharusnya bisa mengantisipasi 
massa yang berunjuk rasa di Bima tetapi malah bertindak brutal dan membunuh 
rakyat.

’’Sangat tidak logis, aparat kepolisian tidak bisa memanfaatkan tokoh lokal 
yang sangat berpengaruh dan meminta warga agar tidak lepas kendali,’’ ujarnya.

Menurut Manulang, biasanya berbagai persoalan agraria atau ekonomi dan disulut 
ketersinggungan antar pemuda paling mudah menjadi pemicunya. Kemudian 
melibatkan rakyat dan pengusaha akan mudah disulut untuk kerusuhan. ’’Persoalan 
ini, kalau tidak cepat diantisipasi akan menjadi menjadi kerusuhan dan kelompok 
tertentu akan mengambil manfaatnya,’’ ujarnya.

Manulang mensinyalir, rekayasa kerusuhan SARA juga akan terus dipelihara di 
Maluku maupun kawasan Indonesia bagian timur. Sekarang mulai merambah ke 
wilayah barat. ’’Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, situasi Ambon, 
Lampung, Poso maupun Papua masih terus bergejolak. Ini tidak lepas dari 
kepentingan elite di Jakarta,’’ papar
Manulang.

Sementara itu, pengamat Intelijen Dino Cresbon menilai fungsi intelijen 
teritorial yang pernah dilakukan di masa lalu untuk mengeliminasi berbagai 
kemungkinan kerawanan di masyarakat pada saat ini juga menurun. ’’Dulu itu 
intelijen teritorial benar-benar

berjalan baik sehingga siapapun bisa diketahui dan ada deteksi dini terhadap 
suatu potensi kerawanan,’’ ujarnya pada INDOPOS.

Dijelaskannya bahwa pada masa-masa lalu dengan keberadaan babinsa di masyarakat 
dengan kontrol dan laporan mereka yang akurat setiap saat bisa mendeteksi 
kemungkinan kerawanan yang bakal muncul. ’’Namun, saat ini peran-peran demikian 
sudah sangat jauh berkurang sehingga informasi-informasi intelijen yang ada 
seringkali tidak lagi bersifat antisipatif,’’ paparnya.

Tak Ada Regulasi Sosial

Pengamat Psikologi Sosial Hamdi Muluk mengatakan, kesenjangan sosial juga bisa 
menjadi salah satu pemicu terjadinya bentrok antarwarga. Sebab, kesenjangan 
sebenaarnya menjadi muara lahirnya kecumburuan sosial antar individu dalam 
wilayah tertentu. Ia mencontohkan, kasus bentrok antarwarga di Lampung Selatan 
beberapa hari lalu. Menurutnya, kejadian tersebut menunjukkan betapa 
kesenjangan yang terpupuk terlalu lama antarwarga setempat menjadi sumber 
mudahnya terprovokasi oleh kelompok tertentu.

’’Dalam kejadian itu, memang murni kesalahpahaman antar warga tersebut. Tetapi, 
dalam kondisi (kesenjangan) seperti itu, memang lebih mudah diprovokosi salah 
satu kelompok yang pada dasarnya menyimpan kecemburuan sosial begitu lama,’’ 
ungkapnya, kepada INDOPOS.

’’Sebenarnya pemerintah setempat (Pemda) pasti tahu kondisi (kesenjangan) itu. 
Sayangnya, kenapa dibiarkan berlalu begitu saja. Padahal, itu justru menjadi 
pemicu konflik,’’ ujarnya menambahkan.

Karena itu, lanjut Hamdi, semestinya Pemerintah menjadikan pelajaran dari semua 
bentrokan selama ini dengan segera membuat mekanisme regulasi sosial, agar 
penegakan hukum kepada para pelaku dapat dilaksanakan secara adil sesuai 
peraturan. Sebab, aparat penegak hukum seringkali kurang adil dalam menyikapi 
persoalan yang disinyalir berlatar belakang dendam semacam itu,’’ kata Guru 
Besar Universitas Indonesia (UI) itu.

Lebih lanjut, Hamdi menjelaskan, sikap kurang adil yang ditunjukkan aparat 
penegak hukum dalam setiap menangani kasus bentrok malah semakin menciptakan 
kondisi yang dapat dikendalikan antara kelompok yang bertikai.

’’Law and order (hukum dan ketertiban) harus ditegakkan, tentu melalui regulasi 
sosial jelas yang harus segera diterbitkan pemerintah. Baik pemerintah daerah 
maupun pusat,’’ tandasnya.

Ketiadaan Pemerintah

Seharusnya fungsi negara bisa hadir dalam menjamin masyarakat agar bisa hidup 
dengan nyaman. ’’Konflik Lampung dan berbagai konflik lainnya merupakan 
ekspresi ketiadaan negara,’’ ucapWakil Ketua DPD Laode Idasaat menggelar 
konferensi pers di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) menyikapi konlik di Lampung 
Selatan, Jakarta, Sabtu (3/11).

Pertikaian yangmelibatkan dua etnik, pendatang asal Bali dengan anak-anak yang 
sudah menikah dengan penduduk setempat dan warga daerah itu menunjukkan 
keretakan sosial. Ini juga tidak lepas dari kelalaian pemerintah mengatasi 
persoalan-persoalan sosial di era reformasi dan otonomi daerah. ’’Akibatnya, 
pemicu kecil saja berdampak luas,’’ tegas Laode.

Laode berpendapat, seharusnya Pemda lebih mengedepankan program-program yang 
menyatukan warga yang kini terlibat bentrokan. Sebab, menurutnya konflik 
Lampung Selatanbukan pertama kalinya sehingga seharusnya Pemda sigap.

Laode juga menilai aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian, kurang cepat 
tanggap akan potensi  bentrokan tersebut.’’Ini juga akibat dari aparat 
kepolisian yang tidak melakukan tindakan pencegahan dan kelalaian bangun 
kegerakan nilai humanisme,’’ ulasnya.

Sementara itu, Anggota DPD RI Provinsi Lampung Anang Prihantoro menambahkan, 
sesungguhnya musuh kita bersama adalah kebodohan dan kemiskinan. Namun, ketika 
ada kesenjangan, pemicu bisa dengan mudah menyebabkan konflik besar. ’’Karena 
itu, semestinya pemerintah dan aparat keamanan membangun perdamaian 
substansial, bukan hanya perdamaian formal,’’ tuturnya.

Anggota DPD Provinsi Bali I Wayan Sudirta menilai, peristiwa kerusuhan Lampung 
Selatan akibat kegagalan negara melindungi warganya. ’’Serangan pertama bisa 
diantisipasi. Serangan kedua itu tidak bisa diantisipasi. Ini nyawa. Harkat, 
martabat mereka sebagai warga terpuruk. Hancur harga diri mereka,’’ ulasnya.

Negara Lalai

Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) di DPR, Marwan Jafar, 
mengatakan, konflik serta kerusuhan di beberapa daerah belakangan ini 
seakan-akan menjadi pertanda terkikisnya kebhinekaan yang selama ini 
diagung-agungkan. Menurutnya, jangan sampai semangat kebhinekaan menjadi semu 
belaka.

’’Kohesivitas sosial yang selama ini terjahit telah terkoyak. Masyarakat 
menjadi begitu mudah tersulut emosinya sehingga berujung konflik berdarah hanya 
untuk hal-hal yang awalnya sangat sepele,’’ ujar Marwan  dalam siaran persnya, 
Sabtu (3/11), terkait maraknya aksi konflik horizontal belakangan ini.

Ia menegaskan, negara terkadang lalai menumbuhkan nilai-nilai kekeluargaan dan 
kebersamaan dan menggantikannya dengan sesuatu yang bersifat material. 
Akibatnya, tegas dia, rasa kebersamaan antar masyarakat semakin pudar. "Nilai 
gotong royong, empati, toleransi, dan serta kebersamaan sesama anak bangsa 
menjadi semakin terkikis,’’ ungkap Ketua DPP PKB itu.

Marwan menjelaskan, konflik di masyarakat harus dicarikan akar masalah dan 
solusinya. Sehingga, tegas dia, penyelesaiannya pun tidak hanya pada permukaan 
dan parsial.

Karenanya, Marwan pun menyarankan, sistem deteksi dini tampaknya harus 
benar-benar diterapkan negara untuk daerah-daerah yang rawan konflik. "Maupun 
yang punya sejarah konflik," jelasnya.(dms/ris/fdi)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke