Ref: Untuk melihat video reportage, click situs di bawah ini :

http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/11/06/14926/121/Dahlan-Iskan-tidak-Sepenuh-Hati-

Dahlan Iskan tidak Sepenuh Hati . 

Selasa, 6 November 2012




MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan memenuhi janjinya 
mendatangi Badan Kehormatan DPR, kemarin. Meski tengah reses, DPR bernafsu 
memanggil Dahlan untuk mengklarifikasi pernyataan mengenai anggota DPR yang 
gemar meminta upeti ke BUMN. 

Badan Kehormatan tidak hanya memanggil Dahlan. Direktur Utama PT Rajawali 
Nusantara Indonesia (RNI) Ismed Hasan Putro juga dipanggil. Ismet pernah 
mengungkapkan dua kali dimintai upeti oleh anggota dewan. 

Permintaan pertama dengan alasan urunan untuk ongkos rapat dengar pendapat 
direksi BUMN dengan DPR. Kedua, DPR meminta RNI menyiapkan 2.000 ton gula. 
Namun, Ismet tidak memenuhi kedua permintaan itu. 

Kehadiran Dahlan di Badan Kehormatan menjadi antiklimaks. Sebelumnya Dahlan 
menggebu-gebu mengatakan telah mengantongi paling tidak 10 nama anggota DPR 
yang suka memalak BUMN. Namun, yang keluar dari kantong Dahlan hanya dua. Dia 
pun tidak menyebutkan nama atau fraksi mereka. 

Publik pantas bertanya, mengapa jumlah itu menyusut sangat drastis? Mengapa 
Dahlan hanya mengeluarkan 20% dari jumlah anggota DPR tukang peras, sedangkan 
80% lain masih tersangkut di kantongnya? 

Tidak salah jika spekulasi pun berkembang. Misalnya, Dahlan mendapat tekanan 
luar biasa sehingga hanya melaporkan 2 dari 10 anggota DPR yang diduga memeras 
BUMN. Ataukah delapan lainnya dari partai berkuasa? Ataukah dari partai koalisi 
sehingga Dahlan enggan berterus terang? 

Mestinya kehadiran Dahlan di Badan Kehormatan membuat semuanya menjadi terang 
benderang. Bukan sebaliknya malah menyisakan pertanyaan yang tidak berakhir. 
Ataukah Dahlan sengaja mencicil siapa anggota DPR pemeras BUMN itu sebagai 
strategi memelihara isu dan citra diri? 

Pemerasan, pemalakan, ataupun kongkalikong bisa terjadi karena para pihak 
saling memerlukan. BUMN bermasalah mencari tameng politik ke DPR. Orang yang 
ingin dipromosi menjadi pemimpin BUMN melakukan pendekatan ke DPR. Pimpinan 
BUMN yang ingin menambah anggaran juga melobi DPR. 

Sebaliknya, anggota DPR pun memerlukan biaya politik. Biaya untuk mengembalikan 
modal saat kampanye, dana untuk memelihara konstituen, dan duit untuk 
menggendutkan pundi-pundi pribadi. Semua itu butuh fulus yang tidak sedikit. 
Karena itu, transaksi gelap pun tidak terelakkan. 

Kita tahu banyak direktur BUMN bersih, bekerja sepenuh hati, dan kuat menahan 
agar BUMN tidak menjadi sapi perahan. Namun, kita juga tahu banyak pemimpin 
BUMN nakal dan menggunakan segala cara untuk mempertahankan posisi, termasuk 
dengan cara menyuap kiri-kanan. 

Kita pun tahu masih ada anggota DPR yang serius dan tidak lelah memperjuangkan 
aspirasi rakyat serta kuat menahan godaan dan iming-iming. Namun, kita juga 
sangat tahu sebagian wakil rakyat gemar meraup uang negara secara ilegal, 
tetapi berlaku sok bersih. 

Kehadiran Dahlan di Badan Kehormatan mestinya menjadi momentum untuk 
membersihkan BUMN sekaligus DPR. Namun, Dahlan setengah hati dengan hanya 
menyebut dua dari 10 nama anggota DPR yang diduga memeras BUMN. 

Kini muncul keraguan publik, apakah pernyataan Menteri BUMN Dahlan Iskan masih 
bisa dipegang?

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke