http://www.harianterbit.com/2012/10/17/mendikbud-dinilai-arogan/

Rabu, 17 Oktober 2012 14:12 WIB 


Soal Ancaman Penutupan Prodi 
Mendikbud Dinilai Arogan
Mulya Achdami/Tety Polmasari — HARIAN TERBIT


--------------------------------------------------------------------------------


 
JAKARTA — Ancaman Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh memberi 
sanksi tegas tidak hanya terhadap mahasiswanya, tapi juga sampai menutup 
program studi (prodi) bahkan memberi sanksi pimpinan terhadap perguruan tinggi 
negeri (PTN) yang sering melakukan tawuran atau aksi kekerasan dinilai 
berlebihan alias arogan.

Pernyataan Mendikbud Mohammad Nuh tersebut dinilai sejumlah pimpinan perguruan 
tinggi tidak tepat dan berlebihan. Sebab, sikap arogansi tersebut tidak akan 
menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Bahkan, tergolong terlalu gegabah kalau 
harus menutup prodi. Apalagi, nanti mahasiswanya dipindahkan ke prodi lain atau 
ke perguruan lain. Justeru menambah masalah baru.

“Sikap pemerintah seperti pemadam kebakaran dan harus bersikap preventif. 
Pertemuan ini tidak akan menyelesaikan masalah jika kurikulum pendidikan tinggi 
tidak dibenahi. Pemerintah juga lalai menjaga mutu perguruan tinggi di bawah 
koordinasinya. Jangan berprinsip ‘lebih baik terlambat daripada tidak sama 
sekali’. Itu prinsip lepas tanggung jawab,” tegas Rektor Universitas 
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Prof. Dr. Suyatno, MPd kepada Harian 
Terbit, di Jakarta, Selasa (16/10).

Menurutnya, ancaman menteri yang akan menghapus prodi yang mahasiswanya sering 
tawuran, juga tidak akan menyelesaikan masalah. Itu kan ancaman yang cuma 
menakut-nakuti seperti kepada anak kecil saja. Karenanya, yang terpenting 
bagaimana perguruan tinggi kembali kepada khittah-nya, kembali kepada 
karakternya.

“Semuanya kembali kepada pengelolanya. Ya pemerintah, ya rektor, ya dosennya. 
Pemerintah jangan campur tangan terlalu jauh dalam pengelolaan PTN, rektor juga 
harus fokus pada apa yang harus dilakukan. Tidak banyak aksesoris, seperti 
memiliki jabatan di sana sini. Dosen juga harus fokus dalam mengajarkan 
ilmunya,” tegasnya.

Ia berpendapat, maraknya tawuran mahasiswa mencerminkan rapuhnya sistem 
pendidikan tinggi di Indonesia. Ini menjadi preseden buruk bagi pendidikan 
tinggi ke depan. Nilai-nilai karakter bangsa mulai terkikis satu persatu. 
Sebagai kaum intelektual muda seharusnya sikap seperti itu tak terjadi.

“Bisa juga karena pemerintah kurang memberikan ruang berkreatifitas pada 
mahasiswa akibat perguruan tinggi yang kurang difasilitasi sarana dan 
prasarananya. Mahasiswa jadi merasa terkekang dan diluapkan dalam bentuk 
tawuran,” paparnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU), John 
Tafbu Ritonga, mengatakan, rencana Mendikbud Mohammad Nuh menurunkan akreditasi 
bagi kampus yang mahasiswanya tawuran dinilai tidak tepat. Sebab, tidak ada 
kaitan tawuran dengan akreditasi. 

“Selain lembaga akreditasi independen, dalam akreditasi tidak ada disebutkan 
tolak ukurnya soal tawuran. Jadi ancaman penurunan akreditasi dan termasuk 
menutup prodi (program studi) karena tawuran mahasiswa sangat tidak relevan, 
jadi harus dicari cara lain,” katanya.

Menurut dia, keresahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melihat semakin 
seringnya aksi tawuran mahasiswa dan bahkan hingga menelan korban jiwa seperti 
yang belum lama ini terjadi di Makassar bisa dimaklumi dan dinilai wajar.

Editor — Fenty Wardhany

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke