http://www.gatra.com/fokus-berita/20450-dahlan-oh-dahlan.html


Dahlan... Oh Dahlan... 
  Selasa, 06 November 2012 10:14 

 




















Dahlan Iskan (ANTARA/Ismar Patrizki)
Jakarta, GATRAnews - Menteri BUMN Dahlan Iskan terus menebar senyum di antara 
kerumunan insan pers di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin 
(5/11/2012). Beberapa pertanyaan wartawan dijawabnya dengan mengangkat tangan 
tanda ia tak bersedia menjawab. 
Siang itu Dahlan hadir memenuhi panggilan Badan Kehormatan (BK) DPR RI terkait 
kasus dugaan 'pemerasan' BUMN oleh anggota DPR. Selama satu jam lebih, mantan 
dirut PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu berdialog secara tertutup dengan 
anggota BK DPR.

Menurut informasi salah seorang angota BK, Dahlan tak banyak memberi informasi 
terkait nama pemeras BUMN. Dia hanya menyebut dua nama dan tiga peristiwa. 
Padahal sebelumnya ia menjanjikan akan memberi 10 nama. Aksi Dahlan di gedung 
Dewan itu pun dianggap sebagai antiklimaks dari kehebohan yang melanda DPR 
dalam sepekan ini.

Dua nama yang ia sampaikan ke BK DPR itu terkait dengan penanaman modal negara 
(PMN). "Jadi yang satu peristiwa satu orang dan yang dua peristiwa dua orang 
tapi namanya ternyata sama," kata Dahlan kepada wartawan usai dipanggil BK DPR, 
Senin (5/11/2012) di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta.

Menurut dia, nama yang ia sampaikan ke BK DPR tidak sama dengan 18 inisial yang 
tersebar melalui pesan pendek. "Jadi, nama yang saya serahkan tadi tidak ada di 
antara nama di 18 yang beredar itu," tambah Dahlan.

Menurut Dahlan, pihaknya akan melengkapi data terkait nama anggota DPR pada 
Rabu (7/11/2012) mendatang. Tetapi Dahlan merasa tak perlu menyerahkan bukti 
terkait upaya pemerasan tersebut. Sebab, kata dia, BK DPR bukanlah lembaga 
penegak hukum.

Dahlan beralasan, dirinya tak menyebut semua nama politisi lantaran berpikir BK 
akan menelusuri keterlibatan anggota Dewan yang lain dari dua anggota Dewan 
yang dia ungkap.

Dahlan pun tak akan melaporkan upaya pemerasan itu kepada KPK. Dia hanya akan 
meminta jajaran BUMN yang diperas untuk membuat laporan ke KPK.

Anggota BK DPR dari Fraksi PKB Ali Maschan Moesa mengaku tidak puas dengan 
penjelasan Dahlan Iskan di BK DPR. Menurutnya, yang disampaikan Dahlan tidak 
sesuai ekpektasi saat disampaikan ke media.

Wakil Ketua DPR RI Priyo Budi Santoso pun mengatakan hal yang sama. "Apa yang 
disampaikan Menteri BUMN tidak seheboh pemberitaan di media," ujarnya.

Priyo menuturkan, akibat sesumbar yang dilakukan Dahlan tentang oknum anggota 
Dewan pemeras BUMN membuat pimpinan DPR kaget. "Sekarang ini selama 10 hari 
gedung parlemen tenggelam. Pimpinan tidak enak, kami semua kaget," ucap Wakil 
Ketua DPR ini.

"Saya menilai, pertemuan Dahlan dan Badan Kehormatan DPR pada akhirnya menjadi 
'antiklimaks'. Kami kecewa karena Dahlan awalnya bilang ada kurang lebih 10 
nama anggota DPR pemalak BUMN. Ternyata hanya dua," timpal Wakil Bendahara Umum 
Partai Golkar Bambang Soesatyo.

Bambang berharap Dahlan berani terbuka dan jangan ragu dalam membuka oknum 
pemeras BUMN. Dahlan pun didesak mengungkap pelaku yang sebenarnya kepada 
publik. Pasalnya, Bambang mengaku namanya tercemar akibat adanya pesan singkat 
gelap yang menyebarkan inisial pemeras BUMN.

"Dahlan punya kewajiban moral untuk menjelaskan kepada publik, siapa saja 10 
anggota DPR yang dia maksud agar tidak membuat fitnah kepada anggota DPR lain," 
ucap Bambang.

Hanya mengantungi 2 nama, BK DPR terus mendesak Dahlan untuk mengungkap anggota 
Dewan lainnya yang disebut memeras BUMN. "Kami ingin beliau menyampaikan 
lanjutannya," kata Wakil Ketua BK Siswono Yudhohusodo.

Siswono mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti informasi Dahlan itu. 
Keterangan yang disampaikan Dahlan, kata dia, baru informasi awal yang harus 
diteliti. Rencananya, tiga direksi BUMN yang disebut diperas akan dimintai 
keterangan BK setelah masa reses.

"Kalau indikasinya nanti ada unsur pidana, tentu BK akan serahkan ke aparat 
hukum," kata politisi Partai Golkar itu.

Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat Sutan Bhatoegana juga mengungkapkan dukungan 
yang sama. Ia meyakini bahwa oknum-oknum yang berkongkalikong dengan BUMN sudah 
pasti ada di semua lini. "Oleh sebab itu, ini momen yang bagus untuk Pak Dahlan 
dan DPR untuk memulai pemberantasan oknum-oknum DPR maupun di BUMN yang sudah 
merugikan keuangan negara," kata anggota Komisi VII DPR ini.

Sementara itu, Sekretaris Fraksi Partai Amanat Nasional, Teguh Juwarno, 
mendesak Dahlan untuk melaporkan tudingannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi 
(KPK).

"Kami dukung Dahlan untuk buka-bukaan terhadap BK. Bahkan karena pemerasan 
adalah tindak pidana, Dahlan harusnya juga mengadukan ke KPK," ujar Teguh.

Pelaporan kasus ini ke KPK, lanjutnya, akan menimbulkan efek jera, baik bagi 
oknum DPR maupun jajaran di BUMN. Teguh mengatakan, jika Dahlan mengungkap 
nama-nama oknum yang memeras, maka hal itu secara tidak langsung akan memberi 
kesempatan partai untuk mengklarifikasi kadernya yang memiliki inisial sama 
seperti isi pesan singkat yang sempat tersebar sebelumnya.

Perseteruan antara anggota Dewan dan Dahlan Iskan bermula dari adanya surat 
edaran Dahlan meneruskan surat Sekretaris Kabinet terkait imbauan tidak 
melakukan praktik kongkalikong dengan DPR, DPRD, dan rekanan dalam menjaga APBN 
untuk rakyat. Namun, setelah surat edaran dikeluarkan, Dahlan mengeluh ke Dipo 
melalui pesan singkat soal masih saja ada anggota DPR yang meminta jatah.

Modus yang dilakukan pun beragam, mulai dari meminta jatah uang, meminta 
proyek, meminta fasilitas, hingga menitipkan sanak saudaranya masuk menjadi 
pegawai BUMN. Berikut ini beberapa modus pemerasan BUMN oleh anggota DPR versi 
Dahlan:

1. Meminta fasilitas

Dahlan mengatakan, anggota Dewan kerap meminta berbagai fasilitas pada BUMN. 
Hal ini dilakukan untuk memuluskan sebuah proyek atau kucuran dana tertentu.

2. Meminta proyek

Dalam hal meminta jatah proyek, Dahlan menuturkan, praktik ini tidak hanya 
dilakukan legislatif, tetapi juga oknum eksekutif kepada jajaran direksi BUMN. 
Modusnya, untuk pengadaan tertentu yang dilakukan BUMN, oknum-oknum ini 
"bermain" dengan menitipkan rekanan yang dikenalnya untuk menjadi pemenang 
tender.

3. Memasukkan pegawai di BUMN

Dahlan mengakui, masih ada oknum-oknum yang berusaha memanfaatkan jabatannya 
untuk menekan direksi BUMN. Salah satunya adalah dengan berupaya memasukkan 
sanak keluarganya untuk menjadi pegawai BUMN. Namun, Dahlan menjelaskan, 
praktik ini bisa dicegah karena BUMN memiliki pola dan peraturan rekrutmennya 
sendiri.

4. Meminta uang 'terima kasih'

Kendati tidak membantah adanya praktik kongkalikong dengan uang terima kasih 
ini, Dahlan mengaku belum pernah mengalaminya secara langsung. Namun, Dahlan 
menjelaskan, ada praktik kongkalikong antara oknum anggota Dewan dan direksi 
BUMN dengan cara memberikan uang miliaran rupiah kepada anggota DPR.

"Jika cara-cara itu tidak dipenuhi, bisa saja dipersulit. Kalau BUMN dapat dari 
negara, misalnya, nanti tidak cair. Mereka minta bagian, miliaran rupiahlah," 
kata Dahlan saat diwawancara Kompas TV pekan lalu.

Polemik yang dilontarkan Dahlan itu pun menghebohlan kalangan politisi di 
Senayan. Sebelumnya Dahlan berjanji akan membeberkan 10 nama anggota DPR 
pemeras BUMN. Namun dua nama yang dilaporkan Dahlan ke BK DPR. Lantas kemana 10 
nama lainnya? Apakah Dahlan masih menyimpan 'kartu truf' untuk senjata 
pamungkas melawan para politisi? Kita tunggu babak selanjutnya. (HP)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke