http://www.antaranews.com/berita/342968/habibie-air-dan-50-persen-jawa

Habibie, air, dan 50 persen Jawa
Minggu, 11 November 2012 18:10 WIB | 

 
BJ Habibie. (ANTARA/Rosa Panggabean


Surabaya (ANTARA News) - Bagi Presiden RI periode 1998-1999, BJ Habibie, air 
agaknya memiliki makna khusus dalam kehidupannya, bahkan menjadi rahasia bagi 
kemampuan otaknya selama ini.

"Dulu saya memiliki banyak asisten, tapi sekarang sudah tidak. Asisten saya 
sekarang adalah otak saya. Dulu saya banyak membawa catatan, tapi sekarang saya 
mengandalkan otak," ucapnya dalam orasi ilmiah Dies Natalis ke-52 Institut 
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Sambil memegang kepalanya, penggagas pesawat terbang N-250 itu pun membeberkan 
rahasia menjaga kemampuan otak. "Menjaga kemampuan otak itu mudah, banyak minum 
air saja. Saya banyak minum air," tuturnya.

Di hadapan ribuan sivitas akademika ITS, mantan Menteri Negara Riset dan 
Teknologi (Menristek) itu menceritakan prestasi yang diraihnya, termasuk 
penghargaan 50 tahun organisasi penerbangan sipil internasional di bawah 
naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (ICAO).

"Penghargaan yang saya terima pada tahun 1994 itu bukan untuk saya, tapi untuk 
negara berkembang. Bahkan kemampuan itu tidak ditentukan negara maju atau 
berkembang, negara kaya atau miskin, tapi ditentukan otak," ujarnya.

Namun, ungkapnya, orang Jerman juga merasa senang dengan penghargaan yang 
diterimanya. "Mereka anggap saya ibarat bahan baku dari Indonesia, tapi olahan 
Jerman," tukasnya.

Oleh karena itu, ia merasa senang saat media massa bertanya: "50 tahun lalu 
Habibie berada di mana dan sedang apa?". "Saya jawab, saya sedang mengungsi di 
hutan di kawasan Bugis, dan mengaji Al Quran setelah Shalat Isya," kata suami 
dari Hasri Ainun Habibie (1937-2010) itu.

Setelah itu, ia pun berterus terang bahwa dirinya merupakan keturunan orang 
Indonesia. "Darah saya itu 50 persen Jawa, 25 persen Gorontalo, dan 25 persen 
Bugis," ujarnya. Ibunda Habibie adalah orang Jawa, dan ayahnya dari Gorontalo, 
sedangkan nenek moyang garis ayahnya dari Bugis.

Habibie yang menyebut para mahasiswa sebagai "cucu" itu pun bercerita bahwa 
semua pengalaman hidupnya itu kini dijadikan film yang saat ini masih syuting 
di Klaten, yang juga tanah leluhur ibunda maupun istrinya.

"Karena itu, saya sekarang sering ke Klaten untuk mengoreksi alur cerita dalam 
film itu. Saya sering membawa cucu saya untuk melihat syuting film itu, dan dia 
pun suka berkomentar kalau ada cerita tentang almarhumah istri saya yang tidak 
cocok dengan apa yang diketahuinya," demikian BJ Habibie.
(T.E011/C004) 
Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke