http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-indopos/66-indopos/27960-lagi-3-gajah-mati-di-riau.html

Lagi, 3 Gajah Mati di Riau

Monday, 12 November 2012 12:53 



RIAU - Tiga ekor gajah kembali ditemukan mati di kawasan Taman Nasional (TN) 
Tesso Nilo dekat jalan koridor Basrah PT RAPP-perbatasan Kabupaten Pelalawan 
dan Kuansing Riau, kemarin.

Aktivis WWF Riau Syamsidar yang dikonfirmasi Riau Pos (INDOPOS group) 
menjelaskan, ketiga gajah yang ditemukan mati ini semuanya betina. Terdiri atas 
gajah induk, dewasa, dan anak.

Gajah ini diperkirakan mati tiga hari atau lima hari lalu. Namun, informasi 
tentang matinya gajah ini baru menyebar sejak Sabtu hingga Minggu kemarin.
Menurut Syamsidar, bangkai ketiga gajah ini ditemukan mati berpencar di dalam 
kawasan hutan tanaman industri Akasia PT RAPP di koridor Basrah. Posisi gajah 
mati itu dengan gajah lainnya ditemukan berjarak 200 meter hingga 300 meter, 
mati berpencar-pencar.
Sebelumnya, seekor gajah jantan Sumatera ditemukan mati di Taman Nasional Tesso 
Nilo pada 11 Oktober 2012. Kematian ini menambah daftar panjang kematian gajah 
di blok hutan Tesso Nilo. Hingga kini, di  blok hutan Tesso Nilo terjadi 
sebelas ekor gajah mati dari Maret hingga November 2012. Sementara itu tiga 
ekor lainnya terjadi di tiga kabupaten lainnya di Riau.
Otopsi terhadap gajah tersebut dilakukan tim medis dari Balai Besar Konservasi 
Sumber Daya Alam Riau bersama dengan kepolisian dan WWF. Sampel organ bagian 
dalam seperti hati dan limfa gajah ini diambil dan dikirim ke laboratorium 
veteriner di Bukittinggi dan Bogor.
Dari data yang dikumpulkan di lapangan, diduga gajah ini mati mengonsumsi 
makanan beracun. Dari pengalaman warga, gajah suka memakan bagian pucuk tanaman 
kelapa sawit, atau kulit luar tanaman akasia atau tanaman karet. Sebab, makanan 
lain tak banyak tersedia di habitatnya kini hutannya mulai menyempit sementara 
sebaliknya kawasan kebun sawit, karet, akasia, kakao makin luas.

Nasib gajah Sumatera tahun 2012 tidak menjadi lebih baik. Padahal pada 2011 
lembaga konservasi internasional IUCN telah meningkatkan status keterancaman 
satwa ini dari genting menjadi kritis yang berarti satu langkah menuju 
kepunahan. Lemahnya penegakan hukum terhadap kematian gajah menjadi penyebab 
terus terjadinya kematian gajah tersebut. Hingga Oktober 2012, baru satu kasus 
kematian gajah-gajah tersebut  yang mulai diproses yakni kematian gajah di 
Taman Nasional Tesso Nilo yang terjadi pada 31 Mei 2012.

Radaimon, Ketua Forum Masyarakat Tesso Nilo sangat menyayangkan gajah-gajah di 
Tesso Nilo terus mati. Radaimon mengatakan kehilangan habitat alami di Tesso 
Nilo karena perambahan masif menjadi salah satu penyebab rangkaian kematian 
gajah-gajah tersebut. Karena itu, penanganan perambahan di Tesso Nilo menjadi 
hal mutlak untuk dilakukan guna menekan angka kematian gajah tersebut.
Ia menambahkan, penegakan hukum terhadap kematian gajah-gajah tersebut harus 
pula dilakukan agar dapat membuat efek jera. Supaya tidak lagi terjadi 
pembunuhan terhadap gajah-gajah.

Dari 2004 hingga Oktober 2012 ini, menurut catatan WWF, terjadi 91 ekor gajah 
mati di Riau. Sebagian besar disebabkan konflik dan perburuan. Ditambah 
kematian tiga ekor gajah ini, maka sejak 2004 hingga November 2012 ini sudah 94 
ekor gajah mati di Riau.
Dari angka tersebut hanya satu kasus yang diproses secara hukum. Yakni, 
kematian gajah karena perburuan di Rokan Hulu pada Agustus 2005. Penegakan 
hukum terhadap kematian gajah harus diintensifkan untuk menekan kematian gajah 
di Riau. Pemerintah juga diharapkan dapat mengambil langkah nyata dan segera 
untuk perlindungan habitat gajah yang semakin mendesak. (azf/rul)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke