http://www.antaranews.com/berita/343166/50-penghuni-darul-akhfiya-diduga-teroris-digiring-ke-mapolsek-nganjuk

50 penghuni Darul Akhfiya diduga teroris digiring ke Mapolsek Nganjuk
Selasa, 13 November 2012 04:31 WIB | 

 
  Mereka sering latihan bela diri, bahkan mereka mempunyai lapangan mirip untuk 
latihan militer di belakang pondok. Kami curiga, mereka adalah jaringan 
teroris." 


Nganjuk (ANTARA News) - Sekitar 50 penghuni pondok Darul Akhfiya yang terletak 
di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dibawa ke 
markas Polres Nganjuk, karena diduga terlibat jaringan teroris, Selasa (13/11) 
dini hari.

Dari pantauan di lapangan, puluhan polisi dengan membawa senjata lengkap 
mendatangi pondok yang jaraknya tidak begitu jauh dari jalan raya utama, yang 
menghubungkan Provinsi Jatim dengan Provinsi Jateng tersebut.

Mereka membawa 50 santri, termasuk pengasuh pondok yang diketahui bernama 
Nasiruddin Ahmad alias Landung Tri Bawono (34), asal Sukoharjo, Solo. Awalnya, 
petugas membawa mereka ke markas Polsek Kertosono, Kabupaten Nganjuk, tapi 
kemudian mereka dievakuasi ke Polres Nganjuk. Mereka dibawa menggunakan bus 
untuk diangkut ke Polres Nganjuk. 

Sejumlah tetangga mengaku mencurigai aktivitas di pondok tersebut. Mereka 
sering terlihat melakukan latihan bela diri, bahkan kegiatan itu dilakukan pada 
malam hari.

"Mereka sering latihan bela diri, bahkan mereka mempunyai lapangan mirip untuk 
latihan militer di belakang pondok. Kami curiga, mereka adalah jaringan 
teroris," kata Maryono, salah seorang tetangga.

Ia juga menyebut, rata-rata usia santri yang ada di pondok yang lebih dari satu 
tahun berdiri itu masih belasan tahun, masih pelajar setingkat SMP atau SMA. 
Mereka juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Banyuwangi, 
Pasuruan, Ambon, dan sejumlah daerah lainnya.

Sementara itu, Nasirudin membantah tudingan jika ia terlibat jaringan 
terorisme. Ia selama ini, hanya mengajarkan kegiatan pengajian saja.

"Kami tidak mengajarkan gerakan terorisme, namun hanya ilmu agama seperti 
pesantren umumnya. Selain itu, kami juga mengajarkan ilmu beladiri," ujar 
Nasiruidin.

Sementara itu, polisi sampai saat ini masih melakukan olah tempat kejadian 
perkara (TKP) dan tidak membolehkan warga maupun jurnalis untuk mendekati 
lokasi kejadian.

Namun, dari sejumlah informasi yang didapat, polisi mendapati buku-buku tentang 
jihad banyak ditemukan di pondok tersebut. Polisi juga mendapati sejumlah 
senapan angin ada di tempat tersebut. 

Sampai saat ini, belum ada yang bisa dikonfirmasi dari petugas kepolisian 
setempat. Mereka masih tutup mulut tentang dugaan jaringan teroris yang ada di 
Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk tersebut. (ANT)

Editor: B Kunto Wibisono


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke