Divestasi Saham Newmont ; Jatuh dalam ketamakan korporatokrasi�

Divestasi saham perusahaan asing yang dicita-citakan sebagai strategi
untuk meningkatkan control negara terhadap sumber daya alam bahan
mentah,  ternyata justru menjerumuskan kekayaan alam Indonesia ke tangan  
kekuasan korporasi raksasa multinasional. Jatuhnya kekayaan alam Indonesia 
kedalam korporatokrasi akan semakin memperdalam praktek nekolim di Indonesia.

Demikain kisah sukses divestasi saham PT
Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) yang dilakukan  oleh Perusahaan Group
Bakrie dengan pemerintah daerah provinsi NTB, pemkab sumbawa, dan
Sumbawa barat.  Proses divestasi tersebut telah menyebabkan pupusnya
harapan akan adanya control negara dan rakyat terhadap kekayaan alam.

Proses divestasi yang penuh dengan nuansa keserakahan oknum penguasa
baik itu di pusat maupun di daerah, telah menyebabkan amanat UU untuk
melakukan nasionalisasi melalui divestasi gagal dilaksanakan. Akibatnya negara  
gagal  memperoleh andil yang significant dalam mengontrol kekayaan emas yang 
sangat besar di Batu Hijau Kabupaten Sumbawa NTB.

Keragu-raguan pemerintahan SBY menjadi penyebab utama gagalnya proses
divestasi sejak tahun 1996. Pemerintah beralasan bahwa negara tidak
memiliki uang untuk membeli saham Newmont. Sri Mulyani yang saat itu
menjabat sebagai menteri keuangan menunjukkan sikap enggan untuk
mengupayakan agar negara dapat mengontrol perusahaan tambang PT NNT.

Keenggaran pemerintah tersebut di manfaatkan oleh Group Bakrie untuk
menguasai Newmont. Namun upaya bakrie memperoleh perlawnana dari Newmont
 yang menolak untuk melakukan divestasi sebagaimana yang diwajibkan
dalam kontrak karya. Newmont menawarkan skema pinjaman kepada pemerintah
 daerah sebagai strategi daerah memperoleh andi dalam perusahaan raksasa
 tersebut. Tindakan  Newmont menyebabkan pemerintah mengadukan Newmont
ke Arbitrase Internasional.  Langkah pemerintah terkesan aneh karena
sebelumnya pemerintah sendiri tidak berminat.

Proses pembelian
saham berlangsung alot hingga ahirnya group bakrie melalui anak
perusahaannya Bumi Resourcess yaitu multikapital dengan membentuk MDB
bersama pemerintah daerah berhsil menguasai 24 % saham Newmont. Melihat
gelagat bahwa Bakrie akan menjadi mayoritas dalam divestasi, pemerintah
tiba-tiba berubah niatnya. Melalui menteri keuangan tiba-tiba pemerintah
 memutuskan untuk membeli sisa 7 % saham Newmont.

Hasil ahir
divestasi adalah pihak nasional gagal menjadi mayoritas pemilik saham
Newmont. Saat ini pemegang saham Newmont terdiri atas Nusa Tenggara
Partnership  (49 %), PT Bumi Resoucess dan anak perusahannya (24%), PT
Pukuafu Indah ( 17,8%), PT Indonesia Masbaga Investama (2,2%), dan Pusat
 Investasi Pemerintah (PIP) 7%. Padahal dalam kontrak karya mestinya
negara dapat menguasai 51 % saham Newmont agar memiliki control terhadap
 perusahaan tersbut dan perusahaan tersebut dapat menjadi BUMN.

Sementara pemerintah daerah tergabung dalam PT Bumi Resoucess Group
melalui pinjaman deviden yang diberikan sebesar dengan kewajiban
membayar setiap tahun melalui pemotongan deviden. Konsorsium MDB dibawah
 control penuh dari perusahaan Bumi Resourcess melalui anak perusahannya
 Multicapital. Dalam laporan keuangan 31 maret 2102 disebutkan
persentase kepemilikan efektif Bumi Resoucess dalam MDB adalah sebesar
65,32 %.[1]

Terlempar dalam pasar keuangan

Jatuhnya
kepemilikan saham Newmont ke tangan Bumi Resourcess menyebabkan
perusahaan ini semakin terlempar jauh ke dalam pasar keuangan, asia,
Eropa dan Amerika. Secara bersamaan saham pemerintah daerah yang menjadi
 bagian dalam Bumi Resourcess ikut melayang dalam pasar keuangan.

Sebagaimana diketahui bahwa divestasi Newmont yang dilakukan oleh PT.
Multi Capital dengan membangun konsorsium bersama pemerintah daerah. PT
Multi Capital Beroperasi sebagai Anak Perusahaan dari PT Bumi Resources
Tbk.  Perusahaan ini produsen batubara dan energy terbesar di
Indonesia.[2]   Sejak April 2004, Bumi Resources menjadi pemilik
sahamnya di Arutmin hingga 99,99% dan tahun 2005 mengambil sebagian
kepemilikannya di KPC.[3]

Sedangkan PT Multi Capital Beroperasi
 sebagai Anak Perusahaan dari PT Bumi Resources Tbk. Pada tanggal 23
November 2009,  melalui PT Multi Daerah Bersaing, sebuah konsorsium yang
 terdiri dari Modal Anak Perusahaan Bakrie PT Multi dan tiga Nusa
Tenggara Barat Pemerintah Daerah meraih kesepakatan kedua untuk
mengambil 14 persen Newmont Nusa Tengarra (NNT), setelah mendapat 10
persen pada awal atau bulan itu.[4] Dalam laporan keuangan Bumi
resources 2012, kepemilikan dalam Multicapital sebesar 1,426 miliar.

Proses divestasi tersebut didukung pinjaman Cina yaitu dari CIC senilai
 oleh $ 1.900.000.000[5] yang dilakukan oleh PT Bumi Resoucess. Dengan
uang tersebut konsorsium ini mengambil  7 % tambahan akan didivestasi
tahun depan. Sementara sisa 20 % dipegang oleh perusahaan lokal  PT
Pukuafu Indah, juga rencana akan dibeli, sebagai bagian dari rencananya
untuk Akhirnya Mengakuisisi saham mayoritas di NNT.  Kemenangan melihat
konsorsium Bakrie yang dipimpin mengalahkan mitra pilihan pemerintah
pusat untuk aset yang menguntungkan setelah negara melalui PT Aneka
Tambang Tiba-tiba menarik diri dari Negosiasi.

Multi Capital
Grup Bakrie adalah 99 % dimiliki oleh pertambangan batubara andalan
Bakrie PT Bumi Resources. Pada tahun 2009, China Investment Corporation
(CIC) Di investasikan US $ 1,9 miliar di Bumi dalam bentuk instrumen
utang. Investasi US $ 1,9 miliar terdiri dari US $ 600 juta akan
dilunasi dalam empat tahun, $ 600 juta lima tahun, dan Sisa US $ 700
juta di tahun enam. Investasi menarik kupon tunai 12% per tahun dengan
IRR sebesar 19%, saldo hutang pada saat jatuh tempo terakhir.[6]

Pinjaman tersebut diberikan karena komitmen Bumi resources untuk
membeli sejumlah perusahaan dari perusahaan asing di Indonesia, termasuk
 Kalimantan Timur PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, Kalimantan
 Selatan, Sumatera dan PT Herald Resources.

Pemegang saham
lainnya dari Bumi Resourcess adalah Tata Power yang telah membeli 30%
saham di dua tambang batubara termal dan perusahaan perdagangan Bumi
Resourcess sebesar $ 1,1 miliar pada 2007. Akuisisi didukung oleh
Inggris, Barclays Bank.[7]

Bumi Resources saat ini adalah mitra
 Nathaniel Philip Rothschild di perusahaan batubara yang terdaftar di
London, Bumi Plc. Rothschild adalah pengelola dana lindung nilai Terkaya
 Inggris, dengan kekayaan diperkirakan bernilai sekitar satu miliar
pound. Rothschild memiliki 10 persen saham di Bumi Plc. Bumi Plc
memiliki saham 29 persen di Bumi Resources, Semua yang pada gilirannya
mengontrol tambang batu bara.[8]  Tahun 2010 PT Bakrie Brothers Tbk
(BNBR) menandatangani perjanjian jual beli dengan Vallar Plc untuk
melepaskan 5,2 miliar saham BUMI di Rp 2.500 untuk mendapatkan 90,1 juta
 saham baru Vallar, dimana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di
Vallar seharga GBP 10 per saham. [9]

Tahun 2012 Vallar Plc,
perusahaan yang kini tercatat di Bursa London dengan nama Bumi Plc,
telah menandatangani kesepakatan jual beli (sale and purchase agreement)
 dengan sejumlah pemegang saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk
meningkatkan kepemilikan di perusahaan batu bara terbesar di Indonesia
tersebut. Berdasarkan keterangan tertulis Vallar, Bumi Plc akan
mengakuisisi 800,33 juta (3,9%) saham Bumi Resources dengan cara
menukarnya dengan 88 juta saham baru yang diterbitkan Bumi Plc.

Sebelumnya tahun 2011 PT Bumi Resources Tbk (Bumi), akan mentransfer
utang atau PT Bumi Resources Tbk Mineral (BRMS) kepada Credit Suisse AG,
 cabang Singapura. Utang ini akan jatuh tempo pada tahun 2012 sehingga
Bumi Plc Itu akan menggantikan Bumi Resources sebagai pemegang saham
utama jika perolehan atau Bumi Mineral selesai tahun ini. Dileep
Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi Resources,
mengatakan itu perusahaan berencana untuk menetapkan  senilai US $ 1,85
milyar utang. Angka tersebut terdiri utang kedua ke China Investment
Corporation (US $ 1,2 miliar), penebusan atau obligasi konversi (US $
375 juta), dan utang Sisa kepada Credit Suisse (US $ 280 juta).[10]

Menuju Bencana Krisis Keuangan

Perusahaan Bumi Resourcess adalah salah satu perusahaan nasional yang
sangat rawan terkena dampak krisis keuangan global. demikian pula dengan
 saham pemerintah daerah terancam tenggelam dalam huru hara yang tengah
melanda pasar keuangan negara-negara Uni Eropa.

Pada bulan 4
July 2012, sebagaimana dilansir oleh Dow Jones Newswires, fakta terburuk
 yang dialami Bumi dari krisis keuangan zona euro dan rupiah melemah,
telah menyumbang kerugian dalam pasar derivative sebesar $ 16.200.000
derivatif dan kerugian sebesar $ 8.200.000 rugi selisih kurs.[11]

Ada dua hal yang dapat menjadi sumber krisis Bumi Resourcess yaitu
jatuhnya harga saham bumi di pasar nasional dan pasar internasional dan jatunya 
nilai tukar rupiah terhadap US dolar. Keadaan semacam itu dapat berakibat 
terhadap merosotnya keuntungan Bumi dan membesarnya utang yang harus ditanggung 
oleh perusahaan tersebut.

Besarnya hutang yang dimiliki Bumi dapat memiliki implikasi terhadap anak-anak 
perusahaannya. tersebut dapat saja dipindahkan oleh Bumi kepada anak 
perusahaannya seperti PT Multicapital yang tergabung dalam konsoerisum bersama 
pemerintah daerah NTB. Kemungkinan terburuk yang akan diterima oleh Pemda 
aklibat krisis yang melanda EU adalah adalah bangkrut bersama  dan menanggung 
utang.

by Salamuddin Daeng

***

Kirim email ke