http://www.shnews.co/kolom/matahati/detile-66-tb-simatupang-saya-adalah-orang-berutang.html

TB Simatupang: Saya Adalah Orang Berutang
Kristanto Hartadi| Jumat, 16 November 2012 - 09:53:35 WIB 




 
Dok/Ist
Banyak lontaran pemikiran Pak Sim yang penting bagi bangsa ini


Kalau kepada anak-anak muda sekarang ditanyakan: siapakah tokoh TB Simatupang 
itu? Saya berani bertaruh sebagian besar hanya akan menjawab bahwa itu adalah 
nama sebuah ruas jalan yang cukup panjang di kawasan selatan Jakarta, tanpa 
pernah paham kenapa nama tokoh itu diabadikan sebagai nama jalan.     

Saya berani bertaruh demikian tak lain karena mengacu pada hasil jajak pendapat 
yang dibuat oleh Litbang Kompas bertajuk “Nilai Kepahlawanan Makin Pudar” 
(Kompas, Senin 12 November 2012, halaman 5). Salah satu pertanyaan dalam jajak 
pendapat itu: Siapa tokoh yang dikagumi jiwa kepahlawanannya? Hasil survei 
menunjukkan: Presiden Soekarno (40,7%), RA Kartini (9,3%), Jenderal Sudirman 
(8,9%), Pangeran Diponegoro (3,8%), Ki Hajar Dewantoro (3,4%), Muhammad Hatta 
(2,9%), Abdurrachman Wahid (2,6%), Presiden Soeharto (2,4%), dan Bung Tomo 
(1,9%). Tidak ada disebut nama TB Simatupang. 

Institut Leimena, Senin (12/11), menggelar acara “TB Simatupang Memorial 
Lecture: Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila”, hanya dua hari 
setelah kita mengenang Hari Pahlawan 10 November, yang makin hilang maknanya. 
Yang menyampaikan pidato antara lain: Ketua MK Mahmud MD, KH Salahudin Wahid, 
Prof. Dr Syafii Maarif, Jend (Purn) Luhut Panjaitan, dan Prof. Dr Adrianus Mooy.

Panglima Termuda 
Letnan Jenderal (Purn) Dr Tahi Bonar Simatupang atau Pak Sim adalah lulusan 
Akademi Militer di Bandung, tahun 1942, lalu menjadi Kepala Staf Angkatan 
Perang pada 1949 di usia 29 tahun. Ia menggantikan Jenderal Sudirman yang sakit 
dan kemudian meninggal dunia. Dia ikut berperan dalam pembentukan Tentara 
Nasional Indonesia, terlibat dalam perang kemerdekaan maupun perjuangan 
diplomasi. 

Karier militernya habis setelah terlibat dalam peristiwa “kudeta setengah hati” 
17 Oktober 1952. Pada saat itu pemimpin TNI AD menentang kebijakan Bung Karno 
dengan menuntut pembubaran parlemen dan segera digelar pemilu.  Akibatnya TB 
Simatupang, juga AH Nasution, dicopot dari jabatannya. Namun, ia baru 
benar-benar pensiun dari tentara pada 1959. Menurut ekonom Prof Dr Emil Salim 
masa tujuh tahun itu (1952-1959) menjadi masa yang berat untuk Pak Sim karena 
sebagai penasihat militer anjurannya tidak digubris sampai surat pensiun 
diterimanya. 

Namun pada periode itu Pak Sim secara simultan mendalami ilmu perang, ideologi, 
dan teologi. Setelah pensiun pada 1959 dia aktif di Dewan Gereja-Gereja di 
Indonesia (DGI), Dewan Gereja-gereja se-Asia, hingga Dewan Gereja-gereja 
se-Dunia. 

Ketika menjadi “orang sipil” inilah banyak lontaran pemikiran Pak Sim yang 
penting bagi bangsa ini, dan salah satunya adalah tulisannya “Pembangunan 
sebagai Pengamalan Pancasila” 31 tahun lalu. Pokok pemikirannya: pembangunan 
adalah kelanjutan dari sejarah perjuangan bangsa, pembangunan itu bukan sekadar 
modernisasi melainkan harus dijiwai oleh pengamalan lima sila dalam Pancasila.

Orang Berutang 
Dalam otobiografinya, yang ditulis empat tahun sebelum meninggal dunia, 1 
Januari 1990, Pak Sim menulis: "Segala sesuatu adalah milik kita, tetapi pada 
akhirnya semua yang kita miliki adalah milik Allah. Sehingga dalam cara kita 
memiliki segala sesuatu itu, kita membayar utang kita dengan melayani sesama 
kita dan dengan itu kita memuliakan nama Tuhan.” 

Jasa dan pemikiran Pak Sim relevan untuk dimunculkan tak lain karena ada 
kegalauan bahwa 14 tahun reformasi terjadi kekosongan definisi, makna, dan 
pengamalan Pancasila dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, dan Pancasila 
mengarah hanya sebagai “dongeng sejarah”. Indikasinya adalah ketimpangan 
ekonomi yang parah, otonomi tanpa arah, fundamentalisme dan liberalisme 
menguat, hilangnya jati diri bangsa, yang kesemuanya mengarah pada krisis 
kebangsaan. 

Momen ini baik untuk mengingatkan khususnya kepada banyak pemimpin politik hari 
ini yang lupa bahwa sesungguhnya mereka harus membayar utang kepada para 
pemilihnya dalam bentuk melayani mereka, dan bukannya malah mencuri. Jabatan 
dan posisi bukan kenikmatan, melainkan bekerja dan melayani, jadi sangat tidak 
patut kalau malah dipakai untuk korupsi. 

Menurut Emil Salim, bila Pancasila diamalkan dengan baik, kita akan mampu 
bertahan sampai 100 tahun (yakni 2045) sebagai sebuah bangsa. 

Namun kalau tidak, bangsa ini akan tinggal sejarah seperti Uni Soviet atau 
Yugoslavia. Untuk itu Bung Karno sudah mengingatkan ketika berpidato tahun 
1958: A nation without faith cannot stand (sebuah bangsa tanpa kepercayaan 
takkan bertahan). Maka marilah melihat Pancasila harus utuh sebagai sebuah 
kesatuan dengan Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, sebagai sebuah cita-cita, 
jangan hanya diambil sila per sila,  sebab dia merupakan arah pembangunan 
bangsa ini.


(MATAHATI/SHNEWS.CO/MH.018) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke