http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=315716

Menantang Dahlan Iskan
Oleh Tulus Santoso 

Rabu, 21 Nopember 2012

Belakangan, Menteri BUMN Dahlan Iskan ramai berkicau di media massa ihwal 
dugaan banyaknya anggota DPR yang kerap meminta upeti kepada Badan Usaha Milik 
Negara (BUMN). Masa reses para wakil rakyat di Senayan pun diwarnai rasa 
penasaran khalayak, mengenai siapa-siapa saja anggota dewan yang dimaksudkan 
oleh juragan Jawa Pos Grup tersebut. 
Reaksi pun bermunculan, sejumlah politisi Senayan kebakaran jenggot. Wakil 
Ketua Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Effendi Simbolon sempat 
menyerang balik dengan mengatakan kalau Dahlan Iskan pernah melakukan 
inefisiensi sebesar Rp 37 triliun sewaktu memimpin PT PLN. Namun, rupanya 
khalayak berdiri tegak di belakang Pak Menteri. 
Badan Kehormatan (BK) DPR pun akhirnya mengagendakan pemanggilan terhadap 
Dahlan Iskan pada Senin (5/11) lalu untuk mengklarifikasi pernyataan Dahlan 
Iskan di media massa. Publik tampaknya begitu menantikannya dengan rasa 
penasaran semakin membuncah, siapa sebenarnya 10 nama yang sudah dikantongi 
oleh Menteri BUMN tersebut? 
Namun, kedatangan Dahlan Iskan ke DPR tersebut telah meruntuhkan kepercayaan 
publik terhadapnya. Alih-alih menyebutkan 10 nama anggota DPR yang terlibat 
pemerasan, pria nyentrik tersebut hanya menyerahkan dua nama kepada BK DPR. 
Dahlan Iskan disebut hanya bertutur kepada anggota BK, tanpa menyertakan 
bukti-bukti. 
Publik pun bertanya, apakah Dahlan Iskan berbohong, atau takut? yang menjadi 
menarik kemudian adalah karena dua nama yang disebut, yaitu IL dan SM berasal 
dari Partai Golkar dan PDIP. Golkar diketahui sering membelot terhadap koalisi 
pemerintah, sedangkan PDIP merupakan fraksi di DPR yang selalu mengkritisi 
kebijakan Pemerintah SBY. Pertemuan dua jam dengan BK pun berakhir dengan 
antiklimaks. Wartawan dan khalayak hanya disuguhi oleh keterangan pers yang 
pastinya kurang memuaskan. 
Pantas saja, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membiarkan 'kicauan' 
Dahlan Iskan ini, karena partainya ternyata tidak diobok-obok oleh menterinya 
itu. Di sisi lain, muncul anggapan bahwa Dahlan Iskan tidak mau merusak 
reputasinya karena temuan BPK yang menyatakan Dahlan melakukan inefisiensi 
selama menjabat Dirut PLN. Belum lagi, disebut-sebut petinggi di sejumlah BUMN 
merupakan orang-orang Dahlan sewaktu di Jawa Pos. Jika benar, tentu sangat 
disayangkan karena ada kesan rakyat terus-menerus disuguhi politik pencitraan 
ala Dahlan. 
Dahlan yang sudah puluhan tahun menjadi wartawan, tampaknya memang tahu betul 
apa yang dikehendaki oleh media massa untuk diolah menjadi berita. Tindak 
tanduknya sewaktu menjadi pejabat pun memang begitu seksi bagi media. Aksi 
koboy-nya di pintu tol yang akhirnya membuatnya malu sendiri karena 
menggratiskan pengguna jalan tol yang dikelola oleh swasta, tak urung 
menghentikan tingkahnya yang genit. 
Keuntungan Dahlan adalah kegenitannya tersebut difasilitasi oleh Jawa Pos Grup 
seantero Indonesia. Berita yang menyangkut bos-nya itu, terutama yang dinilai 
positif di mata publik tak pernah luput dari tiap halaman di lembaran media 
yang digawanginya. Jawa Pos Grup, dan media massa lainnya kini menjadi tools 
bagi Dahlan untuk menaikkan bargain position-nya. Namun lebih tepatnya, relasi 
Dahlan dan media lebih kepada simbiosis mutualisme, karena celoteh Dahlan 
adalah berita besar. 
Hal ini memang tidak salah, itu merupakan kekuatan dan kelebihan Dahlan Iskan 
untuk mendongkrak pamornya. Tapi rasanya, rakyat sudah paham betul dengan 
praktik politik pencitraan. Masyarakat Indonesia pun tampaknya sudah merasa 
lelah setelah hampir 10 tahun dininabobokan oleh pencitraan pemimpinnya. Dhus, 
sudah saatnya pejabat bertindak konkret, bukan hanya memoles citra di media. 
Sudah saatnya Dahlan Iskan melakukan langkah konkret apabila memang ingin 
menaikkan pamornya dan ada niat untuk dilirik partai politik dalam kontestasi 
Pilpres 2014 mendatang. Jika memang ingin mengabdi kepada rakyat sebaiknya 
jangan hanya Omdo (Omong Doang). Bila memang dirinya gerah dengan praktik 
korupsi, pemerasan, ada lembaga negara seperti polisi, kejaksaan, serta KPK 
yang siap untuk menuntaskannya. 
Terkait dengan kicauannya lebih kurang di media massa soal oknum DPR yang kerap 
memeras BUMN, sejatinya tak perlu digembar-gemborkan. Apalagi hal itu sudah 
menjadi rahasia umum bahwa praktik persekongkolan antara eksekutif dengan 
legislatif memang seringkali terjadi. 
Tak ada bedanya Dahlan dengan elite lainnya, termasuk Presiden SBY bila hanya 
bisa mengeluh. Dahlan akan berbeda bila dia berani melaporkan dan mengungkapnya 
kepada KPK kalau ada penyimpangan dalam pengelolaan uang rakyat. 
BK masih memberikan waktu lebih kurang seminggu untuk melengkapi data-data 
oknum DPR yang dituding memeras BUMN. Akhirnya, setelah ramai media menghujat 
Dahlan, Rabu lalu (7/11/12) menteri yang kerap melempar senyum itu kembali 
menyerahkan lima nama anggota DPR yang diduga memeras BUMN. Penulis tentu 
mengapresiasi langkah tersebut, tetapi semoga nama yang disebutkan bukan sebuah 
kompromi ditataran elite. 
Setelah ini, semoga Dahlan menjadi lebih berani untuk menyambangi KPK. Karena 
tindak pemerasan ataupun korupsi, tempat pengaduannya adalah KPK, bukan kepada 
BK. Keberanian untuk melaporkan, tak hanya penyimpangan oleh lembaga lain, 
tetapi berbagai penyimpangan yang ada di lembaganya sendiri, tentu akan membuat 
Dahlan mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia. 
Bila kebenaran yang diperjuangkan, percayalah, berbagai pihak tentu mendukung, 
dan rakyat akan membentuk barisan membentengi. Sebaliknya, bila salah 
melangkah, berlaku pepatah, mulutmu adalah harimaumu, akan merengkah kepalamu. 
*** 
Penulis adalah Direktur Kajian Kebangsaan Syndicate
Indonesia for Transformation (Syndrom UI

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke