http://www.analisadaily.com/news/read/2012/11/28/90326/ekonomi_indonesia_terancam_middle_income_trap/#.ULa1RYaaHBo


      Rabu, 28 Nov 2012 00:01 WIB



      Ekonomi Indonesia Terancam "Middle Income Trap"? 
      PEMERINTAH maupun Bank Indonesia yang memprediksi pertumbuhan nasional 
2013 bisa mencapai setinggi 6,8% dan 6,7% masing-masing, barangkali telah 
mengabaikan potensi ancaman "middle income trap" yang dikemukakan Menko 
Perekonomian Hatta Rajasa dalam sarasehannya di ITB akhir pekan baru lalu.
      Mutu pertumbuhan dan situasi perkembangan perekonomian nasional dalam 
beberapa aspek memenuhi simptom penyakit "middle income trap" yang menghinggapi 
kebanyakan negara berkembang dunia. Antara lain, seperti range penghasilan per 
kapita $3.500 yang tak merata, kondisi pasar buruh yang buruk dengan maraknya 
demo, investasi infrastruktur yang amat rendah (4,51%)karena keterbatasan 
anggaran, lambannya pertumbuhan sektor manufaktur, keterbatasan diversifikasi 
industri, kekalahan daya saing dengan negara industri maju karena 
ketertinggalan teknologi dan inovasi, maupun dengan negara berkembang sederajat 
dalam harga jual, apalagi setelah kenaikan UMP dan BBM.

      Urbanisasi pesat bagi pembangunan real-estate dengan mengorbankan lahan 
pertanian, impor pangan, termasuk karet, yang dapat dihasilkan lokal, masalah 
pengangguran akibat PHK, menjamurnya korupsi, akan memperlebar gap pendapatan 
kaum tani dan rakyat kebanyakan dan pada akhirnya bisa menimbulkan gejolak 
sosial. 

      Strategi MP3EI di atas kertas sangat baik untuk menghindarkan ancaman 
"middle income trap", tapi dana pelaksanaannya sebagian besar masih bergantung 
pada investasi swasta nasional dan asing. Sementara realisasi masterplan 
percepatan, perluasan dan pengurangan kemiskinan Indonesia (MP3KI) tetap jadi 
tanda tanya besar, mengingat keterbatasan bantuan atau subsidi pemerintah di 
tengah berurat-berakarnya birokrasi.

      Untuk mempertahankan momentum ekspor, upaya pemerintah sekarang nampaknya 
diarahkan ke sektor promosi pariwisata dan mendorong industri inovatif dan 
kreatif dalam negeri dalam skala kecil. Kampanye menggelorakan nasionalisme 
adalah suatu cara pendekatan untuk mempromosikan produk dalam negeri demi 
peningkatan pertumbuhan nasional melalui permintaan domestik. Tapi pembatasan 
impor produk dari negara anggota FTA, bisa dituduh sebagai tindakan 
proteksionistis dan memicu friksi dagang. Padahal FTA dan pembentukan 
Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah berdasarkan semangat resiprokal.

      Bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke atas di Indonesia masih 
cenderung berbelanja di LN untuk memiliki produk bermerek dan mahal-mahal, 
seperti ponsel cerdas, mobil mewah, tas, busana, kosmetik dan lain-lain yang 
mewah dari LN.

      Mencari pasar baru di tengah pelambanan pertumbuhan global dan 
meningkatnya proteksionisme di negara-negara maju akan menjadi tantangan berat 
bagi pemerintah, bila kita tidak memiliki keunggulan kompetitif.

      Regulasi dan intervensi atau "visible hand" dari pemerintah di sektor 
tertentu, memang perlu, seperti operasi pasar dan distribusi bahan-bahan vital 
seperti jatah BBM, pupuk,tender procurement proyek pemerintah dan pemberian 
perizinan pertambangan kepada investor asing,tapi dengan transparansi. 
Instansi-instansi yang tak berwenang dan tak terkait sebagai "invisible hand" 
harus "hands off", apalagi anggota legislatif, dari proyek lukratif, termasuk 
BUMN, demi menghindarkan birokrasi dan ekonomi biaya tinggi. Jangan sampai "Too 
many cooks spoil the broth". Namun "laissez-faire" perlu diterapkan kepada 
wirausaha,UKM dan industri rumah dalam proses pembinaan dan pengembangan 
industri inovatif dan kreatif.

      Tren pertumbuhan nasional selama ini masih bersandarkan pada kekayaan 
sumber alam yang menipis dan upah murah. Adalah tantangan bagi pemerintah 
bagaimana mengalihkan moda konvensional ini kepada pertumbuhan berorientasi 
pada permintaan domestik, "economics of scale" dengan produktivitas tinggi dan 
pemanfaatan inovasi dan teknologi demi peningkatan daya saing di pasar 
internasional.

      Indonesia kelihatan masih jauh daripada peralihan moda pertumbuhan itu 
dengan melihat perkembangan investasi di infrastruktur dan alokasi anggaran 
bagi peningkatan mutu pendidikan. Arus keluar intelektual dan yang berbakat 
terus berlangsung. Prospek pertumbuhan ekonomi nasional mungkin saja menjadi 
jenuh dan mandek di bawah bayangan "middle income trap". Pemerintah terlalu 
optimistis dan cepat puas diri akan status quo ekonomi tanpa mencari terobosan 
baru dan meningkatkan mutu pendidikan dalam persiapan pengalihan pertumbuhan 
kepada ekonomi pengetahuan yang berdasarkan "human capital"sendiri yang 
sustainable. Dana spekulatif asing di bursa saham atau surat utang negara 
dengan imbal hasil tinggi hanya dibutuhkan sesaat, bukan tulang punggung tetap 
bagi pembangunan ekonomi nasional. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke