http://www.mediaindonesia.com/read/2012/11/30/366495/70/13/Papua-dalam-Bara


Papua dalam Bara 
Jumat, 30 November 2012 00:00 WIB PAPUA terus saja membara. Kekerasan dan 
pembunuhan tiada henti meneror 'Bumi Cenderawasih'. Kedamaian amat mahal di 
sana. 

Situasi di Papua sungguh ironis. Papua yang berlimpah kekayaan alam, tetapi 
rakyatnya melarat. Papua negeri yang damai, tetapi rakyatnya dicekam ketakutan. 

Banyak nyawa melayang sia-sia di Papua. Tidak cuma warga biasa, pegawai negeri 
sipil, anggota TNI atau polisi, dan turis asing pun menjadi korban. 

Terakhir, Kapolsek Pirime, Kabupaten Lany Jaya, Ipda Rofli Takugesi serta dua 
anggotanya, yakni Brigadir Jefry Rumkorem dan Briptu Daniel Makuker, meregang 
nyawa. Mereka gugur ketika sekitar 50 orang menyerbu dan membakar Polsek 
Pirime, Selasa (27/11). 

Selain menewaskan Ipda Rofli dan dua anak buahnya, penyerang membawa kabur 
revolver milik Rofli dan dua senjata laras panjang. Mereka diduga bagian dari 
Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Yani Tabuni. 

Hanya sehari berselang, giliran rombongan Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian 
menjadi sasaran serangan. Konvoi kendaraan Kapolda Papua yang tengah dalam 
perjalanan dari Wamena menuju Polsek Pirime ditembaki orang tak dikenal. Sempat 
terjadi adu tembak, tetapi tidak ada korban. 

Insiden tersebut menambah panjang daftar kekerasan di Papua. Kekerasan itu 
sudah sangat jelas pangkal persoalannya, tetapi seakan tiada ujung dalam 
penuntasan. Masalah di Papua memang kompleks, tetapi sejatinya bermuara pada 
satu persoalan, yaitu kesejahteraan. 

Tak dimungkiri, rakyat Papua masih diperlakukan bak anak tiri. Rakyat Papua 
hidup papa di atas tanah yang memendam kekayaan luar biasa. Rakyat Papua hidup 
dalam bara di atas bumi yang berlimpah emas. Semenjak era Orde Baru hingga 
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa, persoalan itu tak kunjung 
terselesaikan. 

Pemerintah bukannya tak berusaha. Sejumlah langkah sudah ditempuh, mulai 
pengalokasian dana otonomi khusus hingga pembentukan desk khusus Papua. Namun, 
hasilnya masih jauh dari maksimal. 

Faedah penggelontoran dana otsus sejak 2002 hingga 2012 yang mencapai Rp28,6 
triliun tak jelas. Dana sebesar itu justru diduga menjadi bancakan elite 
daerah, adapun rakyat terus berkubang kemiskinan. 

Semenjak dibentuk pada 2011, Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan 
Provinsi Papua Barat dan desk khusus Papua juga tak jelas kerjaannya, tetapi 
terus dipertahankan. 

Setiap terjadi kekerasan di Papua, pemerintah melontarkan keprihatinan. Setiap 
ada pembunuhan di Papua, otoritas keamanan konsisten beralasan kondisi 
geografis menyulitkan upaya membekuk pelaku. Alhasil, kekerasan di Papua tak 
pernah dapat ditumpas. 

Rakyat Papua sudah semakin pintar bahwa bumi mereka kaya raya. Karena itu pula, 
pemerintah harus lebih cerdas, lebih serius menjawab tuntutan mereka. Kekerasan 
di Papua tidak cukup ditangkal dengan penggelontoran dana otonomi khusus 
triliunan rupiah atau penambahan personel keamanan. 

Rakyat Papua butuh didengar. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, wajib 
membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan mereka. Jika pengelola negeri ini 
asyik dengan perspektif sendiri, sudut pandang sendiri, kekerasan akan terus 
menjadi catatan kelam dalam sejarah Papua dan NKRI.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke