Ref: Mungkin buruk itu sinomimnya bagus, sebab dulu rugi sekarang juga buruk 
managemennya berarti keuntungan menurun menuju  garis dibawah titik nol.

http://www.shnews.co/detile-11514-buruknya-manajemen-pengelolaan-bbm-.html

Buruknya Manajemen Pengelolaan BBM 
Tjipta Lesmana* | Kamis, 29 November 2012 - 14:50:00 WIB

: 111 




Harga BBM saat ini belum bisa dilepas sesuai harga pasar internasional.


Untuk membantu pemerintah terkait kebijakan perekonomian nasional, Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Komite Ekonomi Nasional (KEN) yang terdiri 
atas teoretisi dan praktisi ekonomi di bawah pimpinan Chairul Tandjung. 

KEN bertemu setiap minggu membahas masalah-masalah ekonomi yang strategis 
maupun merespons isu-isu nasional yang sedang berkembang seperti isi upah buruh 
dan outsourcing. Hasilnya, disampaikan langsung kepada presiden selaku “user”. 

Tentu, sebagai kepala pemerintah, SBY tidak mempunyai kewajiban untuk 
melaksanakan setiap saran atau masukan KEN. Sama halnya dengan saran Dewan 
Pertimbangan Presiden: lebih banyak saran dan pertimbangan Wantimpres yang 
dilempar ke tong sampah, sehingga Buyung Nasution – mantan anggota Wantimpres – 
marah-marah dan menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku. 

Salah satu saran KEN kepada SBY, kabarnya, pemerintah segera menaikkan harga 
BBM. Pemerintah sebetulnya sudah lama menyetujui usul tersebut, tapi SBY tidak 
setuju. Hanya presiden yang tidak setuju. 

Kenapa? Usut punya usut, SBY rupanya takut terhadap dampak sosial-politik 
kenaikan harga BBM! Jangan lupa, pemilihan umum semakin dekat. Pemikiran ini 
pun sulit dimengerti. Bukankah SBY tidak bisa mencalonkan lagi dalam pemilihan 
presiden 2014? Lalu, apa yang ditakutkan SBY? 

Semenjak ramai-ramai di DPR beberapa bulan lalu – lengkap dengan demonstrasi 
mahasiswa yang nyaris anarkistis – memprotes rencana pemerintah menaikkan harga 
BBM, sikap pemerintah sungguh membingungkan. Di satu sisi, pemerintah “cengeng” 
tidak ubahnya seperti anak kecil yang terus menangis karena permennya diambil 
kakaknya; tapi di sisi lain, pemerintah tidak berani bertindak. 

Di satu sisi, pemerintah mengatakan APBN berdarah-darah karena subsidi BBM yang 
terus membengkak; di sisi lain, pemerintah terkesan tidak berdaya melakukan 
tindakan penyelamat, kecuali mengimbau dan mengimbau agar orang kaya tidak lagi 
membeli BBM bersubsidi, suatu imbauan yang tidak pernah efektif. 

Sejumlah petinggi pemerintah, termasuk Menteri Koordinator Perekonomian dan 
Menteri Keuangan, malah memberikan semacam jaminan kepada masyarakat bahwa 
pemerintah belum akan menaikkan harga BBM. Pemerintah akan berusaha mencari pos 
lain untuk menutup ketekoran akibat subsidi BBM yang semakin membengkak. 

Kuota Habis 

Kenyataan inilah yang membingungkan masyarakat! Marilah kita simak beberapa 
angka berikut. 

Kuota konsumsi BBM bersubsidi tahun ini semula dipatok 40 juta kl senilai Rp 
137,38 triliun. Angka itu kemudian meningkat menjadi 44,04 juta kl atau Rp 
153,38 triliun. Kuota ini diperkirakan habis pada 24 Desember 2012 sehingga 
akan terjadi kenaikan kuota 1,2 juta kl hingga akhir tahun menjadi 45,24 kl 
senilai Rp 159,4 triliun. 

Menjelang tutup tahun, beberapa petinggi pemerintah mengimbau masyarakat untuk 
tidak membeli BBM bersubsidi. 

Dikatakan juga bahwa pasokan BBM bersubsidi akan dikurangi. Tanggal 2 Desember 
2012 ditetapkan Hari Tanpa BBM Bersubsidi. Tampaknya, pada hari itu, seluruh 
SPBU tidak akan menjual Premium. Bahkan, diam-diam di semua SPBU Jakarta, sejak 
akhir pekan lalu dikurangi pasokan BBM-nya. 

Di sebuah SPBU di kawasan arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan, saya memperoleh 
informasi bahwa biasanya mereka dipasok 60.000 liter pada pagi hari dan sekitar 
15.000 liter pada sore hari. Kini pasokan Premium hanya 30.000 liter pada pagi 
hari dan sore hari sama sekali tidak ada tambahan pasokan. Cerita di beberapa 
SPBU yang saya “selidiki” tidak berbeda. 

Di banyak daerah dari Sabang sampai Merauke, Premium kosong di banyak pompa 
bensin. Kalau pun ada, terjadi antrean sangat panjang. 

Inikah solusi yang diambil pemerintah menghadapi ledakan subsidi BBM? Yakni 
mengurangi pasokan Premium secara drastis dan memaksa masyarakat mengonsumsi 
Pertamax. Solusi ini amat tidak adil. 

Solusi terbaik dan tidak menimbulkan “kerisauan” publik adalah menaikkan harga 
Premium, katakanlah 30 persen. Dengan kenaikan sebesar itu, subsidi BBM pasti 
akan berkurang signifikan. Cara ini lebih adil karena menurut pemerintah hanya 
orang kaya yang menikmati BBM bersubsidi. 

Jika harga Premium dinaikkan dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 akan tercapai 
semacam “win-win solution”. Kedua pihak – masyarakat dan pemerintah – sama-sama 
berkorban. Bahwa pemerintah masih harus memberikan subsidi kepada rakyat 
setelah Premium dinaikkan menjadi Rp 6.000, hal itu wajar sekali. 

Harga BBM saat ini belum bisa dilepas sesuai harga pasar internasional. Jika 
dilepas bebas, rakyat niscaya akan berontak. Situasi kaos pasti bisa 
dihindarkan. 

Memangkas pasokan sehingga terjadi kelangkaan Premium di mana-mana jelas bukan 
solusi yang efektif juga. Masyarakat yang kecewa, kesal dan marah, tidak 
mustahil pada tingkat tertentu akan melakukan tindak anarkistis dan kekerasan 
sebagai pelampiasan atas kejengkelan dan kemarahannya. 

Masalahnya, SBY tidak berani menaikkan harga BBM. Barangkali ia takut Partai 
Demokrat dan „penggantinya” akan babak belur pada Pemilu 2014. 

Inilah salah satu karakter kepemimpinan presiden kita: takut mengambil risiko 
ketika hendak mengambil kebijakan kontroversial; padahal kebijakan itu sudah 
disarankan sangat kuat oleh para pembantu ekonominya. Dalam hal ini, SBY memang 
berbeda jauh dibandingkan Pak Harto. 

Tahun 1983 sampai 1985 Presiden Soeharto beberapa kali mengatakan bahwa 
pemerintah tidak bermaksud menaikkan harga BBM. Tapi, harga minyak di tingkat 
internasional terus membubung sehingga subsidi BBM makin membengkak. Tahun 1986 
beberapa pembantu ekonomi Pak Harto menghadap dan menceritakan situasi sulit 
yang dihadapi pemerintah sehubungan dengan makin tingginya harga minyak di 
pasar internasional. 

Pak Harto menjawab: “Kalau begitu, ya naikkan saja harga BBM.” 

“Masalahnya, Bapak Presiden telanjur beberapa kali mengatakan pemerintah tidak 
akan naikkan harga BBM,” kilah salah satu menteri. 

Pak Harto diam dan merenung. Dia menghadapi situasi pelik detik-detik itu: 
antara janji yang sudah diberikan kepada rakyat dan situasi sulit yang dihadapi 
APBN. Di tengah kebisuan di ruang kerja presiden, Pak Harto kemudian menjawab 
teguh: “Naikkan harga BBM. Saya bertanggung jawab!” 

Para menteri yang menghadapi sangat plong. 

Seorang pemimpin, pada saat-saat sulit, harus berani mengeluarkan kebijakan 
untuk mengatasi masalah. Apa pun risiko yang terjadi akibat kebijakan tersebut, 
“Saya bertanggung jawab!” 

*Penulis adalah pengamat sosial politik. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke