Siaran Pers 
Hentikan
Liberalisasi Perdagangan ASEAN 
Merespon ASEAN
Summit ke-20 di Phnom Penh Kamboja 
  
Dalam momentum pelaksanaan ASEAN Summit ke-20 di Kamboja
pada 18-20 November 2012, akan diluncurkan negosiasi perdana dari konsep baru
perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement) antara ASEAN dengan
sekaligus 6 negara ( Jepang, China, India, Korea, Australia dan New Zealand)
yang berada di bawah Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). 
Pelaksanaan FTA yang telah berjalan sebelumnya telah mengikat Indonesia
terhadap komitmen liberalisasi perdagangan baik barang, jasa, dan investasi, 
telah berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat  dan industri
nasional.  

 
Pemberlakuan  ASEAN Economic Community (AEC) tahun
2015 dengan konsep Single Market &
Production Base akan semakin memasifkan perdagangan bebas di bawah RCEP,
yang kemudian hanya akan menjadi perebutan pasar ASEAN di antara negara-negara
mitra FTA-nya. Perkembangan yang cukup signifikan tersebut merupakan kelanjutan
dari pelaksanaan komitmen yang dituangkan dalam ASEAN Charter yang kemudian 
mengikat seluruh anggota ASEAN untuk
tunduk pada aturan-aturan yang ada di dalam ASEAN Charter.
 
Dampak pengikatan seluruh anggota ASEAN terhadap komitmen
liberalisasi perdagangan di bawah ASEAN Charter telah menghilangkan kedaulatan
pemerintah Indonesia untuk mengatur ekonomi negaranya, termasuk hak dalam
menentukan mitra FTA-nya. Pengalaman buruk dari komitmen tersebut bisa dilihat
dengan beberapa fakta seperti serbuan barang-barang impor serta dominasi
investasi asing. 

 
Terhadap situasi tersebut telah muncul semangat untuk
mereview kembali pengikatan Indonesia ke dalam ASEAN Charter dengan mengajukan
Judicial Review terhadap Undang-Undang No.38 tahun 2008 tentang Pengesahan 
Charter
of the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN Charter) oleh Aliansi
Keadilan Global (AKG) pada bulan Mei 2011 ke Mahkamah Konstitusi (MK). 
Namun, setelah lebih dari satu tahun sejak pengajuan Judicial Review tersebut,
sampai saat ini  MK belum juga mengeluarkan putusan.
 
Sementara pengalaman Indonesia menjalankan FTA dengan
negara-negara yang menjadi pesaing dagang ASEAN tersebut telah membawa kerugian
yang sangat besar bagi ekonomi Indonesia. Ada beberapa FTA yang
melibatkan Indonesia baik dalam kerangka bilateral maupun regional yaitu
Indonesia-Jepang (IJEPA), ASEAN-China (ACFTA), ASEAN-FTA (CEPT-AFTA),
ASEAN-Korea, ASEAN-India, 
ASEAN-Australia-New Zealand dan rencana Indonesia EU FTA (CEPA). Berikut
deskripsi perdagangan Indonesia dan investasi dari negara-negara tersebut di
Indonesia. 
 
Indonesia
– Jepang, Korea
 
Rencana Free Trade
Agreement  ASEAN dengan beberapa
negara  diluar ASEAN seperti Korea dan
Jepang, akan semakin membahayakan posisi perdagangan dan ekonomi negara di
kawasan ASEAN khususnya Indonesia. Terbukti sejak pemerintahan SBY neraca
Perdagangan non migas Indonesia dengan Jepang dan Korea terus mengalami defisit
yang besar.  Tahun 2011 defisit
perdagangan non Migas Indonesia Jepang mencapai US$948 juta, sementara dengan
Korea Selatan mencapai 34,9 juta  US$.
Dengan demikian liberalisasi perdagangan antara Indoensia  melalui ASEAN dengan 
Negara-negara tersebut
berpotensi semakin meningkatkan nilai defisit perdagangan Indonesia.  
  
 Ekspor dan Impor Non Migas Indonesia dengan
Jepang dan Korea (ribu US $)
 
Negara  2005  2006  2007  2008  2009  2010  2011  
Jepang (x)     9,744,026     12,178,598    13,860,852    13,324,908    
12,256,927    16,089,606           18,367,609  
Jepang (M)            10,213,927            9,230,544            9,332,256      
    14,969,488             9,712,649             16,727,317            
19,316,136  
(X-M)       -469,901     2,948,054      4,528,596     -1,644,580      2,544,278 
        -637,711       -948,527  
Korea S (x)     2,659,360     3,388,335     3,988,433      4,537,030       
5,109,184      6,805,981      7,330,865  
Korea S (m)            3,243,496            3,409,256              3,746,251    
        4,989,837             3,750,228              5,547,732             
7,365,804  
(x-M)        -584,136         -20,921         242,182       -452,807      
1,358,956      1,258,249         -34,939  
Sumber
: Bank Indonesia, 2011
 
Sebagian
besar ekspor Indonesia ke Jepang didominasi oleh ekspor raw material minyak, 
gas, batubara dan mineral. Sebagai contoh
Nilai ekspor Kaltim ke Jepang tersebut masih didominasi minyak dan gas (migas)
yang mencapai 4,630 miliar dolar AS, sedangkan sisanya yang 1,301 miliar dolar
AS merupakan komoditi non migas.[1] Sementara Pengamat energi dari ReforMiner 
Institute (Lembaga Kajian Ekonomi
Pertambangan dan Energi), Pri Agung Rakhmanto, menyebutkan, nilai ekspor gas
Indonesia ke Jepang selama ini mencapai Rp 341 triliun per tahun. [2]
  
Selain
itu ekspor utama Indonesia ke Jepang dan Korea adalah batubara. Menurut 
Kementrian
ESDM, Saat ini, 75% dari total produksi batubara diekspor, terutama ke Jepang
tertinggi sekitar 24 juta ton, Taiwan, Korea Selatan dan Eropa. Tahun 2011
volume ekspor batubara mencapai 272.671.351, jika harganya rata-rata 100 US $
per ton maka nilai ekspornya mencapai 27,26 miliar US $.[3] Ekspor 
sumber-sumber energy tersebut menjadi sumber kelangkaan energi di dalam
negeri.  

 
Kepala
Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (NTB) Soegarenda mengatakan nilai
ekspor pada September 2011 mencapai US$195.832.894 atau meningkat 168,24% dari
bulan Agustus yang tercatat sebesar US$73.006.695. Ekspor di pada September
2011 sebagian besar ke negara tujuan Jepang dan Korea dengan masing-masning
senilai US$165.012.601 dan US$30.606.924 ke korea. Jenis barang yang diekspor
masih didominasi konsentrat tembaga sebesar 99,88% yang pada September lalu
nilainya mencapai US$195.589.792. Ini nilai pada bulan September 2011. Posisi
pada Agustus ekspor konsentrat tembaga senilai US$72.941.063. [4]
 
Ekspor
dan Impor Indonesia dengan Jepang dan Korea (ribu US $)
 
Negara  2005  2006  2007  2008  2009  2010  2011  
Jepang (X)      18,557,375      22,375,535      25,561,608      28,237,200      
19,299,659      25,487,404        32,494,902  
Jepang (M)      10,227,831        9,257,103        9,385,751      15,177,532    
    9,743,051      16,785,076        19,373,964  
(E- M)        8,329,544      13,118,432      16,175,857      13,059,668        
9,556,608        8,702,328        13,120,938  
Korea Selatan (X)        7,322,034        7,964,405        8,244,418        
9,283,423        8,225,553      12,522,041        14,660,195  
Korea Selatan (M)        4,429,846        4,532,833        4,936,893        
6,671,019        4,605,634        7,709,165        12,300,172  
(X - M)     2,892,188     3,431,572     3,307,525     2,612,404     3,619,919   
  4,812,876       2,360,023  
Sumber : Bank Indonesia, 2012
 
Pertanyaan mendasar
dari besarnya ekspor hasil tambang migas dan mineral apakah dapat menjadi
sumber bagi kesejahteraan rakyat. Sementara kita tahu bahwa pelaku ekspor hasil
tambang tersebut adalah perusahaan asing sendiri. Misalnya ekspor hasil tambang
ke Jepang dari NTB dilakukan oleh perusahaan PT. Newmont Nusa Tenggara yang 
sebagian
besar sahamnya dimiliki oleh Sumitomo Jepang, bukan perusahaan nasional dan
kegiatan usaha tersebut sama sekali tidak melibatkan rakyat.

ASEAN
Australia New Zealand FTA
 
AANZFTA adalah
perjanjian perdagangan yang ditanda tangani oleh 12 Negara, termasuk anggota
ASEAN dan CER Countries. 10 Negara anggota ASEAN : Brunei Darussalam, Kamboja, 
Lao PDR,
Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Viet Nam; dan 
the closer economic relations (CER)
countries Australia dan New Zealand. Perjanjian perdangan ini ditandatangani
pada 27 Februari 2009 di Thailand dan Indonesia sendiri melaksanakan perjanjian
ini pada 10 Januari 2012.  
Komitmen yang termasuk di dalam AANZFTA : Perdagangan
barang termasuk Rules of Origin dan Prosedur bea cukai, Standar dan sanitari
dan ukuran phytosanitary, Perdagangan jasa, Perpindahan orang (Movements of
people), Investasi, Perdagangan elektronik, Kompetisi dan Intellectual
property.  
Total
perdagangan Indonesia-Selandia Baru pada 2011 mencapai US$ 1,1 miliar dengan
tren pertumbuhan rata-rata 3,82% selama periode 2007-2011. Ekspor Indonesia ke
Selandia Baru pada 2011 mencapai US$ 371,7 juta. Sementara impor sebesar US$
729,2 juta, sehingga Indonesia mengalami defisit US$ 357,5 juta. Namun, defisit
pada neraca perdagangan Indonesia terhadap Selandia Baru di Januari 2012
sebesar US $ 12,2 juta. Nilai tersebut menurun signifikan (54,8%) apabila
dibandingkan Januari 2011 yang defisitnya sebesar US$ 27 juta.[5] 
Demikian
pula halnya dengan Australia, Indonesia mengalami deficit perdagangan. 
Kementerian
Keuangan mengingatkan internal pemerintah untuk mewaspadai defisit perdagangan
dengan Australia. Neraca perdagangan Indonesia dengan Australia menurut data
Kementerian Perdagangan, dalam tiga tahun terakhir mengalami defisit. Pada
2009, defisit neraca perdagangan tercatat US$ 171,79 juta kemudian pada Juli
2010 menjadi US$ 89,87 juta dan dalam periode yang sama tahun ini, defisitnya
menjadi US$ 141,83 juta.  

 
Nilai Impor
Autralia Newzealand ke Indonesia (ribu US $)
 
2005  2006  2007  2008  2009  2010  2011  
2,697,239  3,305,428  3,574,355  4,920,821  4,095,998  4,990,120  5,815,321  
Sumber
: Bank Indonesia 2012
 
Defisit
neraca perdagangan dengan Australia, khususnya terjadi pada transaksi
perdagangan non minyak dan gas (migas). Sebagian besar impor dari Autralia dan
Newzealand adalah bahan pangan seperti daging, susu, buah, sayur dll. Australia
merupakan negara dengan jumlah dan nilai terbesar untuk impor kentang ini.
Dalam 5 bulan pertama tahun ini, negara Kangguru itu telah mendatangkan 7 ribu
ton kentang dengan nilai US$ 4,7 juta. Selain itu, Indonesia juga mendatangkan
kentang impor asal Kanada, Amerika Serikat dan Singapura. Ditambah dengan
negara lainnya, total impor kentang dari Januari hingga Mei tahun ini sebanyak
22 ribu ton dengan nilai US$ 14,9 juta.[6]
 
Defisit
Perdagangan Indonesia Autralia New Zealand
 
2005  2006  2007  2008  2009  2010  2011  
-1,188,543       -1,309,687       -1,007,220      -2,225,955       -1,853,062   
   -1,920,838       -1,829,201  
Sumber : Bank Indonesia,2012
 
Data Kementerian Pertanian
menyebutkan tahun ini kebutuhan daging sapi Indonesia mencapai 484 ribu ton.
Dari jumlah itu, 34 ribu ton dipenuhi dari luar negeri. Australia dipilih
sebagai negara pemasok lantaran memiliki populasi sapi yang cukup besar.
Sepanjang 2011, nilai ekspornya mencapai US$ 4,44 miliar dan ditargetkan akan
meningkat 1,6 persen pada 2012.[7]
 
India, China, RRC
 
Sepanjang pengalaman Free Trade Agreement dengan
China sejak 2004 lalu Indonesia selalu mengalami defisit perdagangan yang
besar. Tahun 2011 Indoensia mengalami deficit perdagangan senilai 3,7 miliar US
$, sedikit berkurang dibanding 2010 sebesar 5,9 miliar US $. Pemberlakukan
kesepakatan perdagangan besas antara China dan Indonesia melalui ASEAN
merupakan penyebab utama defisit perdagangan Indonesia dengan Negara tersebut. 

 
Namun dengan India meski mengalami surplus
perdagangan cukup besar namun sumber surplus tersebut adalah CPO dan Batubara.
India merupakan salah satu Negara tujuan utama ekspor CPO dan Batubara.
Demikian pula halnya perdagangan Indonesia Eropa. Dengan demikian sebagian
besar surplus perdagangan tersebut diperoleh dari ekspor raw material, bahan
mentah yang sesungguhnya sangat diperlukan bagi kebutuhan pembangunan industry
nasional. 
  
Negara  2005  2006  2007  2008  2009  2010  2011  
India     1,799,416         2,074,716        2,749,124        4,357,485        
5,383,959       6,865,783        9,396,518  
RRC  -1,422,694       -1,079,184       -2,605,692      -7,279,338       
-4,507,752      -5,935,874       -3,691,208  
Eropa    3,281,197         4,469,596        4,324,797        3,431,064        
5,432,078       6,809,515        8,008,572  
Sumber : Bank Indonesia 2012
 
Kesimpulan
 
Agenda ASEAN Summit ke-20 di Kamboja pada 18-20 November
2012 yang hendak mengembangklan Regional
Comprehensive Economic Partnership (RCEP) sebagai perluasan FTA ASEAN sangat
membahayakan ekonomi Indonesia. Ada tiga hal yang akan berpotensi merugikan
ekonomi Indonesia terkait dengan rencana tersebut. 

 
Pertama, Indonesia akan menjadi ajang
pemburuan sumber daya melalui investasi dalam rangka eksploitasi natural
resources melalui penguasaan lahan secara luas oleh penanaman modal besar yang
akan semakin memicu kerusakan lingkungan, konflik agraria yang semakin luas.  

 
Kedua,Indonesia akan menajdi sasaran
impor produk-produk olahan dari negara-negara yang menjadi pesaing dagang
negara ini. Kebijakan ini akan berpotensi menghancurkan industri nasional baik
Industri besar maupun industri kecil. 
Sementara hingga saat ini Indonesia belum memiliki arah yang jelas dalam
pembangunan industri nasional.
 
Ketiga, masyarakat Indonesia akan
semakin jatuh dalam keterpurukan dan kemiskinan dikarenakan semakin rendahnya
akses terhadap lahan,  sumber daya, dan
sumber penghidupan lainnya dikeranakan tekanan persaingan oleh investasi skala
besar dan impor yang intensif. 
  
Jakarta,14 November 2012 
Aliansi Keadilan Global 

________________________________
 
[1]Kepala Badan
Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) Johni Anwar di Samarinda,
Selasa. 
http://kaltim.antaranews.com/berita/9550/jepang-jadi-tujuan-ekspor-tertinggi-kaltim
 
[2]http://internasional.kompas.com/read/2011/04/16/0328536/Tak.Ada.Tambahan.Gas.buat.Jepang
 
[3]http://www.esdm.go.id/berita/batubara/44-batubara/4557-sumber-daya-batubara-indonesia-capai-105-miliar-ton.html
 
[4]kata Soegarenda,
Selasa (1/11) sore. 
http://www.bisnis-jatim.com/index.php/2011/11/02/ekspor-ntb-melonjak-16824/ 
[5]Sumber : http://www.kabarbisnis.com/read/2829302 
[6]http://finance.detik.com/read/2012/07/24/105443/1973154/4/2/disclamer.html 
[7]http://id.berita.yahoo.com/kunjungi-australia-sby-jajaki-impor-sapi-044234879--finance.html
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke