http://www.hidayatullah.com/read/25839/13/11/2012/propaganda-syiah-dan-%E2%80%9Crisalah-amman%E2%80%9D-%5B1%5D.html

      
Propaganda Syiah dan “Risalah Amman” [1] 


       
      Foto Ilustrasi  
     
     
Selasa, 13 November 2012 


Oleh: Abu Muhammad Waskito

SETELAH sebelumnya di koran Republika terjadi polemik sengit antara tokoh Syiah 
(Haidar Bagir) dan tokoh-tokoh Ahlus Sunnah (Muhammad Baharun, Fahmi Salim, dan 
Kholili Hasib); pada tanggal 9 Februari 2012, masih di Republika, sebuah 
lembaga bernama Yayasan Muslim Indonesia Bersatu (YMIB) menurunkan publikasi 
besar dengan judul, Melawan Politik Adu Domba dengan Persatuan Umat. Publikasi 
ini didukung Radio Iran, IRIB versi Indonesia; dimuat setengah halaman sebagai 
iklan, di Republika edisi hari itu, halaman 2.

Di bawah ini kami sebutkan isi lengkap publikasi dari YMIB tersebut; di 
dalamnya kami berikan catatan kaki sebagai penjelasan, agar kaum Muslimin bisa 
membedakan antara kebenaran dan kebathilan. 

Melawan Politik Adu Domba dengan Persatuan Umat

“Menyimak berbagai persilangan pendapat mengenai mazhab-mazhab dalam Islam yang 
berkembang belakangan ini, khususnya tanda-tanda penggunaan kekerasan yang 
mengancam keutuhan bukan hanya umat Islam, melainkan bangsa Indonesia dan NKRI 
secara keseluruhan, kami dari Yayasan Muslim Indonesia Bersatu (YMIB) merasa 
perlu berbagi sejarah pendekatan antar mazhab dalam Islam khususnya antara 
mazhab Ahlus-Sunnah dan Syi’ah.” 

Catatan 1: 

Retorika membenturkan gerakan Islam dengan negara (NKRI) sudah dipakai sejak 
zaman Orde Baru, ketika LB, Moerdani menguasai militer. Seakan, setiap umat 
Islam menuntut hak-nya, ia selalu dicurigai ingin “meruntuhkan NKRI”. Dalam 
kasus Sampang, warga NU marah karena penistaan-penistaan agama yang dilakukan 
oleh Tajul Muluk dan kawan-kawan. Selalu ada penyulut kekerasan itu. Dalam 
kasus di Puger Jember, seorang ustadz NU bernama Fauzi terkena bacokan dari 
aktivis-aktivis Syiah yang ingin menggagalkan acara kajian seputar kesesatan 
Syiah dengan menghadirkan Habib Muhdhor Al Hamid yang dikenal tegas kepada 
Syiah. Baca artikel, Pengikut Syiah Mengamuk, Aktivis NU Kena Bacok, situs 
Voa-islam, 31 Mei 2012]. 

Sesungguhnya inisiatif-inisiatif seperti ini sudah terjadi sejak berabad-abad 
yang lalu, bahkan telah melahirkan karya-karya besar dalam kedua mazhab besar 
Islam ini. 

Catatan 2: 

Ibnu Hazm Az Zhahiri t ketika disebutkan perkataan orang Nashrani, beliau 
berkata, “Sedangkan perkataan mereka –Nashrani- yang mendakwahkan bahwa orang 
Rafidhah telah mengubah Al Qur`an, maka sesungguhnya orang-orang Rafidhah itu 
bukan bagian dari kaum Muslimin; mereka adalah firqah buatan yang awal-awal 
muncul setelah wafatnya Rasulullah , sekitar 25 tahun kemudian… Ia adalah 
kelompok yang mengalir seperti mengalirnya Yahudi dan Nashrani dalam hal 
kebohongan dan kekufuran.” (Al Fashlu fil Milal wan Nihal, juz 2, hlm. 213]. 

"Tapi, yang mungkin belum banyak diketahui adalah aktivitas-aktivitas ke arah 
yang sama di abad 20 dan abad 21 ini. Khususnya terkait dengan upaya-upaya 
pendekatan mazhab yang dilakukan secara intensif di Mesir, baik di kalangan 
gerakan Ikhwanul-Muslimin maupun Al-Azhar. Puncaknya adalah deklarasi yang 
belakangan disebut sebagai Risalah Amman, yang ditandatangani di ibukota 
Yordania ini," demikian kutip YMIB di Republika. 

Catatan 3: 

Al Azhar, Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna, dll. mereka bagian dari Islam; 
tetapi mereka bukan satu-satunya suara yang mewakili kaum Muslimin. Sudah 
sangat dikenal tentang salah satu definisi Ahlus Sunnah, yaitu: “Wa amma al 
ma’na al aam li ahlis Sunnah wal jama'ah fa yadkhulu fihi jami’ul muntasibina 
ilal Islam, maa ‘aada ar rafidhah” (dan makna umum Ahlus Sunnah wal Jama'ah 
masuk ke dalamnya siapa saja yang mengikatkan dirinya dengan Islam, selain 
orang Rafidhah atau Syiah). [Al Wajiz Fi Aqidatis Salafis Shalih, karya Syaikh 
Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari, hlm. 34]. Karena itu sangat dikenal dua 
istilah dikotomis ini: Ahlus Sunnah vs Syiah, atau Sunni vs Syi’i. Al Azhar, 
Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna, dll. tidak bisa mengubah kesepakatan umat 
ini].

Ceritanya bermula dengan Imam Syahid Hasan Al-Banna, pembawa panji gerakan 
Islam terbesar era modern, Al-Ikhwan Al-Muslimun. Dalam kegigihan beliau 
memperjuangkan Islam, beliau termasuk salah satu tokoh ide pendekatan 
antarmazhab dan berperan-serta dalam aktivitas Jama’ah Taqrib Baina Al-Mazhahib 
Al-Islamiyah di Kairo. Mengenai hal ini, salah satu pemikir Ikhwanul Muslimin 
Ustad Salim Bahansawi dalam bukunya berkata: “Sejak Jama’ah Taqrib Antarmazhab 
didirikan, dan Imam Hasan al-Banna dan Ayatullah Qummi berperan dalam 
pendiriannya, kerja sama antara Ikhwanul Muslimin dan Syiah tercipta.” [Limaza 
Ightala Hasan al-Banna, cetakan pertama, Darul I’tisham, hal. 32; yang dikutip 
dalam buku Al-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha, karya Ustadz Salim al-Bahansawi, 
cetakan Kairo, hal. 57].

Catatan 4

Sekali lagi, sikap Syaikh Hasan Al Banna t itu tidak mewakili suara kaum 
Muslimin di dunia. Ia hanya mewakili sikap Ikhwanul Muslimin, atau diri beliau 
sendiri. Sejujurnya, dalam dakwah Jama'ah Tarbiyah (Al Ikhwan al Muslimun) di 
Indonesia, pada periode 80-an sampai 90-an; sikap mereka sangat tegas kepada 
Syiah. Justru saya pribadi belajar banyak dari sikap mereka. Bahkan Dr. Hidayat 
Nur Wahid, dikenal sebagai pakar akidah, khususnya tentang sekte Syiah]. 

Dalam hubungan ini, Dr. Abdulkarim Zaidan, salah satu pemimpin penting Al 
Ikhwan al Muslimun Iraq menulis:  “Mazhab Ja’fari ada di Iran, Iraq, India, 
Pakistan, Libanon dan Suriah atau negara-negara lainnya. Perbedaan antara fikih 
Ja’fari dan mazhab lainnya tidak lebih dari perbedaan antara satu mazhab dengan 
mazhab lainnya (dalam mazhab Sunni).” [Al-Madkhal li al-Dirasah al-Syariah 
al-Islamiyyah, hal. 128].

Catatan 5

Tidak mungkin kalau perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Syiah, hanya semisal 
perbedaan antara madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Andaikan 
demikian, maka Ahlus Sunnah sejak lama akan sepakat dengan “Madzhab Lima Imam”.

Buktinya hal itu tidak ada dalam Islam. KH. Hasyim Asyari dalam konsep teologi 
NU-nya, mengklaim bahwa madzhab dalam Islam hanya 4 saja, tanpa madzhab Ja’fari 
di dalamnya. Berikut ucapan Imam Syafi’i  yang menjadi rujukan kaum Muslimin 
Nusantara, “Aku tidak mengetahui satu pun dari pengikut hawa nafsu yang lebih 
dusta dalam dakwaannya, tidak aku saksikan dalam  kepalsuannya, dari kaum 
Rafidhah.” (Disebutkan dalam Al Ibanah Al Kubra, juz 2, hlm. 545; dan Syarah 
Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, juz 8, hlm. 499). Pendapat Ustadz Abdul Karim 
Zaidan tidak bisa menafikan pendapat Imam Syafi’i t ].

Sementara itu, Ustadz Bahansawi, dalam kitabnya yang sama, membantah bahwa 
Syiah memiliki Qur’an yang berbeda dengan menyatakan:  “Qur’an yang ada di 
kalangan Ahli Sunnah adalah Qur’an yang ada di masjid dan di rumah-rumah orang 
Syiah.” Dia juga berkata: “Syiah Ja’fari (12 Imam) meyakini bahwa barang siapa 
yang men-tahrif Quran ... adalah kafir.”

… bersambung bagian 2 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke