UUFFFFFFF ...... sangat dan sangat menyayat hati dan memukul hancur setiap
Perasaan Manusia yang Sadar , berprikemnusian dan
yang bukan saja sanggup untuk berpikir  - namun juga sanggup Merasa dan
Memeberian segegnggam Kasih pada mereka yg membutuhkannya....  Dan kita
menundukkan kepala se-dalam2nya bagi semua - Mereka yang telah memberikan
Solidaritasnya " setetes Cinta Kasih" yang kemudian terwujud dalam Suatu
NILAI - Sejumblah Dana Pengobatan yg amat besar ( 540.000 dolar )..... demi
SUATU KEHIDUPAN SEORANG ANAK YATIM PIATU KECIL  YANG DIANCAM OLEH KEMATIAN
YANG SULIT DIHINDARKAN....... 


*** USAHA DAN KEBAIKAN SESEORANG  bisa GAGAL DALAM MENGATASI SESUATU  TUJUAN
dan atau SUATU KEHIDUPAN ..... NAMUN NILAI KESADARAN
    DAN ITIKAD BAIK SERTA CINTA KASIH  SESEORANG TERHADAP SESAMANYA YANG
SANGAT MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN  -  "TIDAK PERNAH
    BERUBAH   MENJADI SESUATU KEGAGALAN"  ........SEBALIKNYA IA  TELAH
BERHASIL DAN AKAN selalu  MENYADARKAN SETIAP  INSAN MANUSIA UNTUK 
    TIDAK MEMIKIRAKAN DIRINYA SENDIRI - DAN SELALU MEMBERIKAN SETETES CINTA
KASIHNYA KEPADA MEREKA YANG SANGAT MEMBUTUHKANNYA ...
    KEPADA MEREKA YANG SEJAK LAHIR  " TIDAK PERNAH MENGENAL  ORANG TUANYA
DAN  CINTA KASIH NYA "  ...... 

MARRY CHRISTMAS  and May all of us be more wiser , more love and
understanding ,
mrc.
      



 
-------Original Message-------
 
From: Bima Bhakti Group Indonesia
Date: 13.12.2012 4:27:36
To: [email protected];  [email protected];  gbi-prj@yahoogroups
com;  [email protected]
Subject: [inti-net] (unknown)
 
  
Shalom,

Sekedar sharing dan semoga Tuhan membuka mata hati kita semua.

GBU.

Firdaus Juven

"Saya pernah datang dan saya sangat penurut . . ."

Anak ini rela melepasakan pengobatannya, padahal sebelumnya dia telah 
memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari 
perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut 
menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga 
sedang berjuang menghadapi kematian.

Begitu lahir dia sudah 
tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang 
papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal
di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya 
Chun Er Cu.

Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan 
pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin 
tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 
November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan
anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan
seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak 
ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 
12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya 
sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang 
memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat 
hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, 
"Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian 
papanya memberikan dia nama Yu Yuan.

Ini adalah kisah seorang 
pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada ASI 
dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi 
tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh 
menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan 
sangat patuh.

Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan 
bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga
sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering 
sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan
kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan 
yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima 
tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci 
baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan 
baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain.

Anak-anak 
lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang 
papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang.
Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat 
papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah 
dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi
juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak 
berpendidikan menjadi bangga di desanya.

Dia tidak pernah 
mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang 
lucu yang terjadi di sekolahnya diceritakan kepada papanya. 
Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah 
untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, 
dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang 
memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat 
berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami 
mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari 
bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal 
dari hidungnya.

Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan 
pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa 
untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga 
mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan
bintik-bintik merah.

Dokter tersebut menyarankan papanya untuk
membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah 
sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu 
Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi 
hidungnya.

Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang 
terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak 
kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar
dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil 
tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk 
diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena 
Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang 
memerlukan biaya sebesar $300.000.

Papanya mulai cemas melihat 
anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu 
niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang 
kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah 
sedikit.

Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual 
rumahnya yang merupakan harta satu-satunya. Tapi karena rumahnya terlalu
kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. 
Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan 
papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata yang belum sempat 
terlontar, "Papa saya ingin mati!"

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8
tahun kenapa mau mati?"

"Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak 
berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari 
rumah sakit ini."

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili 
papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan 
pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur 
segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak 
pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada 
papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.

Yu Yuan berkata kepada papanya, "Setelah saya tidak ada, kalau papa
merindukan saya lihatlah foto ini."

Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan 
membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.

Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak 
bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. 
Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian 
memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk 
tersenyum.

Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya 
juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan 
karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du 
Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan 
hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari 
rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan
kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun 
mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota 
Rong Cheng.

Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak 
kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke 
seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang 
dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang 
sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, 
dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah mengumpulkan 560.000 
dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali
lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, 
pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari 
seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk 
mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga 
telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang 
tercinta, saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. 
Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa 
tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."

Pada tanggal 
21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian 
akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat 
jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan 
hidup.

Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat 
menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan 
kemudian berbaring diranjang untuk diinfus.

Ketegaran anak 
kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, 
Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual 
yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. 
Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh.

Pada saat pertamakali 
melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan 
dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak 
berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata.

Yu Yuan yang dari 
lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang 
ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak 
perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu 
memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu,
Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang 
baik."

Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu 
momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang 
untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari 
email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang 
menerobos sembilan pintu maut.

Pernah mengalami pendarahan di 
pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih 
dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orangpun menunggu kabar 
baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang 
dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi 
dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh 
sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin 
lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada 
wartawan Fu Yuan, "Bibi kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?" 
Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.

Wartawan tersebut 
menjawab, "Karena mereka semua adalah orang yang baik hati." Yu Yuan 
kemudian berkata, "Bibi saya juga mau menjadi orang yang baik hati." 
Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus
saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik."

Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan
kepada ke Fu Yuan. "Bibi ini adalah surat wasiat saya."

Fu yuan kaget sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu 
Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah 
seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah 
kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan 
dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, Bibi Fu Yuan, dan diakhiri
dengan selamat tinggal Bibi Fu Yuan.

Dalam surat itu nama Fu 
Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat Bibi 
wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah 
Yu Yuan meninggal.

"Tolong . . . "

Dan dia juga ingin 
menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang 
selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.

"Sampai 
jumpa bibi, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan 
sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan
katakan ini juga kepada pemimpin palang merah.

"Setelah saya 
meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit 
seperti saya. Biar mereka lekas sembuh." Surat wasiat ini membuat Fu 
Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

"Saya pernah datang, saya sangat patuh," demikianlah kata-kata yang keluar
dari bibir Yu Yuan.

Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu 
bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk 
bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil 
mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan dipencernaan Yu 
Yuan semakin parah.

Dokter dan perawat pun secepatnya 
memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah 
setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para 
perawat pun ikut menangis.

Semua orang ingin membantu 
meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan 
yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan 
tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat 
kecil yang cantik yang suci bagaikan air, sungguh telah pergi kedunia 
lain.

Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi 
tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan 
turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk "setinggi 
gunung".

Ada seorang pemuda berkata dengan pelan, "Anak kecil, 
kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakkanlah kedua 
sayapmu. Terbanglah . . ."

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman 
Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Di depan rumah duka, banyak 
orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka 
adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa 
hidupnya.

Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan 
melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari 
berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. 
Di atas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh 
(30 nov 1996 - 22 agus 2005)".

Dan dibelakangnya terukir 
perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah 
disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. 
"Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan 
adanya dirimu."

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 
dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya.
Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah Shii Li, Huang
Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie.

Tujuh anak kecil yang menderita ini semua berasal dari keluarga tidak 
mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu 
Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang 
mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut.

"Saya telah
menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu 
pasti sedang melihat kami di atas sana. Jangan risau, kelak di batu 
nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata, Aku pernah datang 
dan aku sangat patuh."

Seorang anak kecil yang berjuang 
bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang 
dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang 
tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat 
Dunia.

Walaupun hidup serba kekurangan, dia bisa memberikan 
kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu 
melakukan hal yang sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, 
memberikan sedikit kehangatan dan perhatian kepada orang yang 
membutuhkan.

Semoga kisah ini menginspirasi Anda. Mohon SHARE 
kisah ini kepada teman-teman Anda agar mereka dapat terinspirasi juga 
oleh kebaikan hati Yu Yuan.

Salam penuh kasih,

[Non-text portions of this message have been removed]



 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke