Ref:  Apakah akan hangus terbakar apabila terus diatas bara? 

http://www.shnews.co/detile-12330-catatan-akhir-tahun-2012-indonesia-di-atas-bara-.html

Catatan Akhir Tahun 2012, Indonesia di Atas Bara 
Web Warouw | Senin, 17 Desember 2012 - 14:30:05 WIB

: 100 




(dok/SH)
Kapolri Jenderal Timur Pradopo dan ketua KPK Abraham Samad. 
Pangung politik Indonesia terus bergejolak.


Pengantar Redaksi: 

Tahun 2012 segera berakhir. Ada banyak peristiwa yang terekam. Beberapa di 
antaranya menggoreskan catatan buruk yang tak hendak dikenang, beberapa lainnya 
meletupkan semangat harapan untuk menyongsong 2013. Sinar Harapan, mulai hari 
ini (17/12), menurunkan catatan akhir tahun dari berbagai bidang. 

Penghujung tahun 2012 sudah dekat. Konflik elite politik semakin tajam. Hiruk 
pikuk panggung elite politik belum juga surut. Sementara itu, rakyat kebanyakan 
masih bergulat terus melawan kemiskinan, perampasan hak, dan kekerasan. 

Baru saja Andi Mallarangeng mundur dari jabatan Menpora setelah menyandang 
status “tersangka” dalam kasus korupsi Hambalang. Diikuti pernyataan anggota 
Dewan Pertimbangan Partai Demokrat Achmad Mubarok yang mengembuskan isu 
perombakan kabinet. 

Sejumlah pos kementerian, antara lain Menpora, Menteri Perhubungan, dan Menteri 
BUMN, disebut-sebut akan diganti. Tentu saja isu perombakan kabiner membuat 
para menteri tidak bisa bekerja dengan tenang dan pelayanan publik semakin 
terganggu. 

Partai Demokrat menjadi pusat sentimen. Setiap hari rakyat menyaksikan di media 
massa persidangan korupsi para elite PD seperti Bendahara Umum Muhammad 
Nazaruddin, Wakil Sekjen Angelina Sondakh, dan anggota Dewan Pembina Hartati 
Mudaya. 

Sebentar lagi masyarakat akan menonton persidangan Andi Mallarangeng yang juga 
menjabat sebagai Sekjen Dewan Pembina PD, meskipun ia sudah mengundurkan diri 
begitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkannya sebagai tersangka. 
Publik juga saat ini sedang menunggu KPK menetapkan Anas Urbaningrum menjadi 
tersangka. 

Nazaruddin juga sudah bersaksi tentang keterlibatan anak Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono yang menjadi Sekjen PD, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam 
kasus Hambalang. Sudah jelas akibat dari semua itu: pamor partai pimpinan 
Presiden Yudhoyono terus menukik itu. 

Konflik Elite Politik 

Sepanjang 2012, pemerintahan Yudhoyono juga diwarnai dengan konflik 
antarinstitusi negara. Kasus Irjen Djoko Susilo yang terlibat korupsi Rp 100 
miliar proyek simulator SIM di Korlantas sempat memperuncing konflik antara KPK 
dan Polri, Oktober lalu. Sampai hari ini masih ramai tarik menarik penyidik 
antara Polri dan KPK. 

Sekretaris Kabinet tidak mau ketinggalan melakukan manuver politik. November 
lalu Dipo Alam melaporkan ke KPK tiga kementerian yang paling korup, yaitu 
Kementerian Pertanian, Kementerian Pertahanan, dan Kementerian Perdagangan. 

Dipo juga menyebut adanya dugaan penggelembungan anggaran yang dilakukan 
anggota DPR, Ketua Fraksi, dan staf ahli menteri yang berasal dari politik. 
Dipo juga telah mengeluarkan surat imbauan agar Kementerian dan BUMN menyudahi 
kongkalikong dengan DPR. 

Manuver Dipo ini muncul setelah sebelumnya Menteri BUMN Dahlan Iskan melaporkan 
10 anggota DPR yang pernah terlibat memeras BUMN ke Badan Kehormatan DPR. DPR 
pun mengancam balik untuk melaporkan Dahlan ke polisi atas tudingan pencemaran 
nama baik. Dahlan pun kemudian meminta maaf. 

Konflik juga terjadi antara Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Menteri 
Sekretaris Negara Sudi Silalahi. Mensesneg secara emosional menanggapi 
pernyataan Mahfud tentang adanya mafia narkoba di lingkungan Istana. 

Pernyataan Mahfud ini muncul lantaran grasi yang mendadak diberikan Presiden 
pada tersangka narkoba Meirika Franola (Ola) November lalu. Sudi Silalahi 
bersumpah akan mundur kalau tuduhan Mahfud benar. Sebaliknya Mensesneg juga 
menantang Mahfud mundur jika tidak bisa membuktikan tuduhannya. 

Pada November, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga dilanda konflik antara 
komisioner dan pejabat di KPU. Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) 
menyebut sejumlah pejabat KPU melanggar kode etik. Dewan yang dipimpin Jimly 
Asshiddiqie ini merekomendasikan para pejabat itu dikembalikan ke institusi 
asalnya, yakni Kementerian Dalam Negeri. 

Sementara itu para pejabat KPU menuding para komisioner tidak melakukan 
verifikasi parpol di tingkat kecamatan dan mempersoalkan keterlibatan LSM 
asing. 

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sepakat dengan keputusan DKPP yang menjatuhkan 
sanksi kepada jajaran Setjen KPU dan menitipkan rekomendasi ke DKPP, agar 12 
parpol yang dianggap tak lolos verifikasi administrasi bisa diikutsertakan 
dalam verifikasi faktual. Rekomendasi ini ternyata dikabulkan DKPP. 

Tidak kalah penting pada November adalah pernyataan Ketua KPK Abraham Samad 
bahwa Wakil Presiden Boediono terlibat dalam bailout Bank Century yang 
merugikan negara Rp 6,7 triliun. Ketua MK Mahfud MD menyatakan bahwa KPK 
memiliki kekuatan untuk memeriksa Boediono sebagai mantan Gubernur BI. 

Pernyataan Samad mendorong semangat beberapa anggota DPR untuk mempersiapkan 
Hak Menyatakan Pendapat (HMP). Namun hal itu kandas karena beberapa partai 
politik yang tadinya mendukung HMP, mundur teratur. 

Jokowi dan Gerakan Rakyat 

Menariknya, ruang politik nasional juga mendapatkan udara segar saat Wali Kota 
Solo Joko Widodo (Jokowi) memenangkan Pilkada DKI Jakarta, September lalu. Ia 
mengalahkan petahana Fauzi Bowo untuk kursi Gubernur DKI. Kemengan pasangan 
Jokowi-Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) juga menunjukkan bahwa warga Jakarta tak 
bisa lagi diseret dalam isu SARA maupun iming-iming uang. 

Kemenangan Jokowi-Ahok membawa energi baru bagi sejumlah elite politik yang 
maju dalam pencalonan kepala daerah di sejumlah tempat di Indonesia, juga para 
elite politik yang berancang-ancang merebut kursi nomor satu RI 2014. 

Aburizal Bakrie dari Partai Golkar dan Prabowo Subijanto dari Gerindra sudah 
mulai mengampanyekan diri untuk dipilih menjadi Presiden. PDIP sampai saat ini 
belum ada kepastian, namun beredar isu akan mencalonkan pasangan Megawati dan 
Jusuf Kalla. 

Sementara bagi Partai Demokrat saat ini bukan saat yang mudah, terlebih jatah 
Yudhoyono sudah habis. Hingga saat ini belum ada calon definitif untuk berlaga 
dalam pemilu nanti. Sempat ramai, istri Presiden, Ani Yudhoyono akan maju dari 
Partai Demokrat. Namun belakangan hal tersebut dibantah sendiri oleh presiden. 

Sementara itu, gelombang gerakan massa rakyat juga terus mewarnai politik 
nasional. Awal 2012 dibuka dengan gerakan massa yang membakar dan 
meluluhlantakkan Kantor Bupati Bima dan kantor pemerintah lainnya. 

Kemarahan rakyat memuncak karena pemerintah pusat tidak menggubris tuntutan 
pencabutan SK Bupati No 188/2010 tentang Izin Pertambangan emas PT Sumber 
Mineral Nusantara yang merampas tanah rakyat. Akhirnya pemerintah pusat 
memerintahkan Bupati untuk mencabut SK tersebut. 

Apa yang terjadi di Bima menginspirasi wilayah lain. Warga yang merasa tanah 
adat dan hak ulayatnya dirampas perusahaan tambang, maupun perusahaan 
perkebunan dan hutan tanaman industri, mulai berani memperjuangkan haknya. 
Aksi-aksi warga adat dan petani tak lagi hanya protes, tapi mulai melakukan 
aksi perebutan dan pendudukan lahan sengketa. 

Di kota-kota besar, gelombang aksi terorganisasi dari soal penolakan rencana 
kenaikan BBM, penolakan sistem oursourcing, penolakan Sistem Jaminan Sosial 
Nasional (BPJS) dan Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS), hingga desakan 
kenaikan upah. 

Tahun Penentuan 

Aksi-aksi buruh masih akan mewarnai tahun 2013, bahkan diprediksi akan makin 
besar. Demikian juga dengan aksi-aksi petani di daerah terkait dengan konflik 
tambang dan perkebunan. Sementara elite politik akan disibukkan dengan 
menggadang-gadang “jago” yang akan mereka majukan pada 2014. 

Pengamat ekonomi dari Institute For Global Justice (IGJ) Salamudin Daeng 
mengingatkan, apabila konflik elite politik antarinstitusi terus berlangsung 
disertai dengan menguatnya konflik antara rakyat dan penguasa diikuti krisis 
ekonomi yang dalam, bukan tidak mungkin akan mempercepat percepatan penumbangan 
kekuasaan sebelum Pemilu 2014. 

“Apalagi agenda Pemilu akan menjadi ajang pergesekan antara kekuatan-kekuatan 
politik. Tahun 2013 adalah tahun penentuan arah bangsa ini, seperti di atas 
bara api,” ungkapnya. 

Sumber : Sinar Harapan


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke