Ref: Sudah  67 tahun merdeka-merdeka, tetapi yang sebut “Goood governance and 
clean government” sejengkal pun tak dicapai maka pertanyaannya apakah mungkin  
akan dicapai tujuanya, kalau mereka yang itu-itu saja dan turunan serta 
begundal-bengundal mereka tetap memegang kunci kekuasaan negara? 

http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=3&id=7180

      20 Desember 2012 | BP 
     
      ''Good Governance'' dan ''Clean Government'' Harus Jadi Tujuan



      GENDERANG Pemilihan Presiden (Pilpres) RI 2014 memang belum ditabuh, 
tetapi beberapa calon, bakal calon, yang ingin tapi malu-malu sudah berani 
ambil ancang-ancang. Yang paling nyata tentu Aburizal Bakrie yang diusung 
Partai Golkar untuk pertarungan pilpres tersebut. Bakri dengan segenap sayap 
politik serta usahanya sudah mulai sosialisasi. Sementara partai politik lain 
belum menentukan sikap. Yang paling heboh, tentu saja, pengamat dengan segala 
bentuk analisisnya di berbagai media massa.

      Yang sejatinya patut ditelaah, direnungkan dalam-dalam adalah anggapan 
umum kebanyakan orang yang menyebutkan bahwa negeri ini terlalu banyak 
politisi. Yang gembar-gembor mengobral janji yang ujung-ujungnya adalah 
kekuasaan. Tentu saja hal ini dibantah dengan berbagai argumentasi. Tetapi, 
jangan salah, perilaku politik, iktikad politik lebih banyak menyimpulkan bahwa 
asumsi itu benar. Yang kurang di negeri ini adalah karakter pemimpin yang punya 
integritas seperti negarawan. Ini barang sangat langka di negeri ini.

      Itu sebabnya, kajian politik masih menerka-nerka, adakah seseorang, baik 
di lingkungan parpol maupun di luar parpol yang punya kriteria seperti itu. 
Masalnya, stigma kepada politisi sudah sedemikian parahnya sehingga masyarakat 
semakin tebal apriorinya. Tetapi, apakah di luar politisi akan muncul ''Satria 
Piningit''? Belum tentu. Indonesia ini, kalau dipikir-pikir kok sulit sekali 
mencari figur yang benar-benar mampu membawa bangsa ini keluar dari krisis. 
Krisis multidimensi sudah sangat berat dan meluber ke mana mana.

      Ingat, saat ke depan, tidak hanya masalah ekonomi tetapi masalah 
integritas sebagai bangsa dalam sebagai kesatuan dan perbedaannya. NKRI saat 
ini sudah mulai mendapat ancaman. Baik internal maupun eksternal. Ke depan, 
kita mencari sosok pemimpin, bukan penguasa. Pemimpin, kalau bisa yang 
dicintai, bukan ditakuti. Pemimpin yang mampu mengayomi, setiap jengkal tanah 
persada dari Sabang sampai Merauke. Pemimpin yang mampu menjaga kedaulatan, 
kewibawaan serta martabat sebagai sebuah bangsa yang punya harga diri. Bukan 
seperti sekarang, semakin dilecehkan karena sebenarnya kita sendiri tidak punya 
kemampuan cukup untuk membalas pelecehan tersebut.

      Kita hanya berharap bahwa siapa pun yang muncul nantinya merupakan sebuah 
pilihan yang pas bagi seluruh rakyat Indonesia. Sosok yang bukan hanya 
mengobral retorika, menjaga citra tetapi yang benar-benar mampu menjaga 
sinergitas atas segala potensi yang ada di tangannya. Amanat rakyat ini 
semestinya diambil dengan segala risiko serta tanggung jawab yang besar.

      Yang juga penting adalah, kekisruhan politik di dalam negeri ini harus 
segera dihentikan. Pejabat korupsi jangan lagi banyak menghiasi berbagai media 
massa. Politisi jangan lagi berlagak seperti selebritis dengan sering muncul di 
media tetapi kerjanya nol besar. Pejabat jangan lagi antre untuk menghuni hotel 
prodeo. Maka, good governance dan clean government harus menjadi tujuan. Jangan 
wacana semata.

      Indonesia ke depan mencari pemimpin yang benar-benar mampu memimpin 
rakyat, bukan hanya memimpin partainya. Itu kalau dia dari kalangan parpol. 
Kalau bukan parpol, paling tidak dia adalah sosok yang mampu diterima parpol. 
Mudah-mudahan ini tidak terlalu sulit bagi kita.
     



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke