Meskipun Pramoedya belum seorang pemberontak tapi sebagai korban tawanan Orba  
dia tidak menyerah, tidak bisa ditaklukkan, tidak bisa dibujuk atau disogok  
dan hatinya tetap keras seperti batu granit. Pram mengaku tidak punya rasa 
dendam dan hanya merasa kasihan dengan penguasa Orba yang rendah budayanya. 
Orang hanya harus kritis terhadap pernyataan Pram itu. Meskipun Pram keras 
dalam pendirian tapi dia bisa diplomatis dalam beberapa pernyataannya. Pram 
memang tidak perlu mengucapkan rasa dendamnya yang luar biasa tapi dengan 
sikapnya yang tegas tanpa kompromi, orang akan merasakan rasa dendam Pram 
terhadap rezim Orba. Rezim Orba dan penerusnya memang akan menggunakan setiap 
kesempatan menekan mereka yang berani mengatakan bahwa mereka punya dendam 
terhadap kekejaman Orba suharto di masa lalu. Rezim Orba menjadikan kata DENDAM 
sebagai tabu besar yang setiap orang yang berani mengucapakannya langsung akan 
menemui malapetaka besar karena akan mendapat vonnis "komunis""atau "PKI". 
Tentu saja mereka punya alasan karena DENDAM adalah motor semua pemberontakan, 
motor revolusi dan motor semua perlawanan terhadap ketidak adilan, penindasan 
dan perkosaan.Tanpa dendam tidak akan melahirkan kontradiksi yang antagonis, 
tidak akan lahir revolusi dan tidak akan lahir gerak perobahan mendasar. Tapi 
memang orang harus mengarahkan dan membulatkan rasa dendam mereka ke arah 
perubahan besar, pembebasan  dan bahkan juga demi perdamaian. Tanpa dendam  
sisa-sisa Orba tidak akan pernah lenyap dari bumi Indonesia, tanpa dendam tidak 
akan ada perlawanan dan perjuangan, tidak akan ada rekonsilisasi, tidak akan 
ada Indonesia yang dicita-citakan semua orang . Yang mungkin ada hanya 
basa-basi palsu seperti yang dikatakan Pramoedya, budaya munafik serta 
peradaban imitasi buangan sampah. Para jendral Orba dengan pongahnya 
meneriakkan kegemasan dendam mereka yang ber-api-api terhadap kaum komunis dan 
rakyat Indonesia yang mereka tuduh komunis. Mereka masih sangat haus darah 
dengan dendam sedahsat letusan gunung Merapi. Dendam mereka hanya bisa dihadapi 
dengan dendam rakyat, dendam klas dan dendam nasion.
ASAHAN.



----- Original Message -----
From: MiRa
To: sastra pembebasan
Sent: Saturday, December 22, 2012 10:23 PM
Subject: [SANTRI KIRI] Pramoedya Ananta Toer: "Saya Bukan Nelson Mandela"




Saya Bukan Nelson Mandela



(tanggapan buat Goenawan Mohamad)


Pramoedya Ananta Toer


Saya bukan Nelson Mandela. Dan Goenawan Mohamad keliru, Indonesia bukan Afrika 
Selatan. Dia berharap saya menerima permintaan maaf yang diungkapkan presiden 
Abdurrahman Wahid, seperti Mandela memaafkan rezim kulit putih yang telah 
menindas bangsanya, bahkan memenjarakannya. Saya sangat menghormati Mandela. 
Tapi saya bukan dia, dan tidak ingin menjadi dia.


Di Afrika Selatan penindasan dan diskriminasi dilakukan oleh kulit putih 
terhadap kulit hitam. Putih melawan hitam, seperti Belanda melawan Indonesia. 
Mudah. Apa yang terjadi di Indonesia tidak sesederhana itu: kulit cokat 
menindas kulit coklat.


Lebih dari itu, saya menganggap permintaan maaf Gus Dur dan idenya tentang 
rekonsiliasi cuma basa basi. Dan gampang amat meminta maaf setelah semuanya 
yang terjadi itu. Saya tidak memerlukan basa basi.


Gus Dur pertama-tama harus menjelaskan dia berbicara atas nama siapa. Mengapa 
harus dia yang mengatakannya? Kalau dia mewakili suatu kelompok, NU misalnya, 
kenapa dia berbicara sebagai presiden? Dan jika dia bicara sebagai presiden, 
kenapa lembaga-lembaga negara dilewatinya begitu saja? Sekalipun dalam 
kapasitasnya sebagai presiden, Gus Dur tidak bisa meminta maaf. Negara ini 
mempunya lembaga-lembaga perwakilan, dan biarkan lembaga negara seperti DPR dan 
MPR mengatakannya. Bukan Gus Dur yang harus mengatakan itu.


Yang saya inginkan adalah tegaknya hukum dan keadilan di Indonesia. Orang 
seperti saya menderita karena tiadanya hukum dan keadilan. Saya kira masalah 
ini urusan negara, menyangkut DPR dan MPR, tetapi mereka tidak bicara apa-apa. 
Itu sebabnya saya menganggapnya sebagai basa basi. Saya tidak mudah memaafkan 
orang karena sudah terlampau pahit menjadi orang Indonesia.


Buku-buku saya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, 
tapi di Indonesia dilarang. Hak saya sebagai pengarang selama 43 tahun dirampas 
habis. Saya menghabiskan hampir separuh usia saya di Pulau Buru dengan siksaan, 
penghinaan, dan penganiayaan.


Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Salah satu anak saya 
pernah melerai perkelahian di sekolah, tapi ketika tahu bapaknya tapol justru 
dikeroyok. Istri saya berjualan untuk bertahan hidup, tapi selalu direcoki 
setelah tahu saya tapol. Bahkan sampai ketua RT tidak mau membuatkan KTP. Rumah 
saya di Rawamangun Utara dirampas dan diduduki militer, sampai sekarang. Buku 
dan naskah karya-karya saya dibakar. Basa basi baik saja, tapi hanya basa basi. 
Selanjutnya mau apa?


Maukah negara mengganti kerugian orang-orang seperti saya? Negara mungkin harus 
berutang lagi untuk menebus mengganti semua yang saya miliki.


Minta maaf saja tidak cukup. Dirikan dan tegakkan hukum. Semuanya mesti lewat 
hukum. Jadikan itu keputusan DPR dan MPR. Tidak bisa begitu saja basa basi 
minta maaf.


Tidak pernah ada pengadilan terhadap saya sebelum dijebloskan ke Buru. Semua 
menganggap saya sebagai barang mainan. Betapa sakitnya ketika pada 1965 saya 
dikeroyok habis-habisan, sementara pemerintah yang berkewajiban melindungi 
justru menangkap saya.


Ketika dibebaskan 14 tahun lalu, saya menerima surat keterangan bahwa saya 
tidak terlibat G30S-PKI. Namun, setelah itu tidak ada tindakan apa-apa. Dalam 
buku saya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” yang terbit pada 1990 juga terdapat 
daftar 40 tapol yang dibunuh Angkatan Darat. Tapi tidak pernah pula ada 
tindakan.


Saya sudah kehilangan kepercayaan. Saya tidak percaya Gus Dur. Dia, seperti 
juga Goenawan Mohamad, adalah bagian dari Orde Baru. Ikut mendirikan rezim. 
Saya tidak percaya dengan semua elite politik Indonesia. Tak terkecuali para 
intelektualnya; mereka selama ini memilih diam dan menerima fasisme. Mereka 
semua ikut bertanggung jawab atas penderitaan yang saya alami. Mereka ikut 
bertanggung jawab atas pembunuhan-pembunuhan Orba.


Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang mendalam. 
Tidak, saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, 
termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri.


Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda 
sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan 
hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh 
darah jantung. Basa basi tak lagi bisa menghibur saya.

Kirim email ke