http://lampost.co/berita/paranoid-korupsi-seperti-asma

2012-12-02 23:02:00


Paranoid, Korupsi seperti Asma
PRIA paro baya belajar golf, sudah memukul lebih 10 ribu bola tetap main di 
drive—tempat belajar memukul—tak kunjung ikut bermain di lapangan! Lazimnya, 
setelah memukul 3.000 bola, orang lain berani turun ke lapangan.

"Bapak sudah bisa memukul dengan semua jenis stik, kenapa tak mencoba bermain 
di lapangan?" tanya pelatih. "Banyak pasangan main yang setara Bapak 
kemampuannya!"

"Nanti saja, musim kemarau!" jawab pria. 

"Panjang lapangan lebih 5 kilometer, kalau hujan aku tak sempat berteduh! 
Padahal, kena hujan sedikit saja asmaku kambuh!"

"Ada kedi memegangi payung buat Bapak!" jelas pelatih. "Dalam golf yang memukul 
bola dengan felling, seminggu saja tak memukul kemampuan berubah, apalagi 
menunggu musim kemarau!"
"Pakai payung pun kalau hujannya diiringi angin, tetap saja ketampias!" entak 
pria.
"Kalau Bapak paranoid pada hujan, momentum yang sudah tercapai setelah memukul 
10 ribu bola ini bisa hilang!" tukas pelatih. "Seperti penguasa paranoid 
terhadap gerakan antikorupsi bisa jadi gerakan menggulingkan kekuasaan, 
momentum pemberantasan korupsi yang matang jadi sia-sia!"

"Jadi korupsi seperti asma atau bengek yang bersarang sebagai penyakit 
keturunan?" sambut pria.

"Korupsi di lingkungan birokrasi pemerintahan memang penyakit keturunan, dalam 
arti warisan kultur amtenar yang feodalistis di zaman penjajahan!" tegas 
pelatih. "Akibat korupsi yang berakar dalam birokrasi dan paranoid terhadap 
hujan gerakan antikorupsi, negara kita jadi seperti Bapak yang bertahan main di 
driving, dalam persaingan global pelayanan usaha publik dan bisnis oleh 
birokrasi pemerintahan kita ranking-nya rendah sekali!"

"Serendah apa ranking-nya?" kejar pria.

"Menurut data International Financial Corporation 2008, pelayanan usaha publik 
dan bisnis oleh birokrasi pemerintahan di negara kita menduduki peringkat 123, 
dibanding Malaysia peringkat 24, Thailand 13, Vietnam 5, dan Singapura 
peringkat teratas! (Miftah Toha, Kompas [17-12-2009])" jelas pelatih. "Jadi, 
untuk persaingan dalam skala Asia Tenggara saja negeri kita di posisi underdog, 
dengan jarak perbedaan yang jauh sekali—nyaris 100 tingkat! Semua itu jelas 
akibat sifat koruptif dalam berbagai hal—terutama waktu—yang berakar di 
birokrasi pemerintahan kita!"

"Penyakit birokrasi pemerintahan kita juga kegemukan! Sering kulihat, di 
kantor-kantor pemerintahan pegawai berjubel tak banyak yang dikerjakan!" timpal 
pria.

"Konsekuensinya, biaya pegawai dan kelembagaan yang disebut dengan anggaran 
rutin
jadi membengkak, jauh lebih besar dari anggaran pembangunan dan anggaran untuk 
rakyat! Ini berakibat pembangunan jadi lambat, semakin jauh tertinggal dari 
negeri-negeri sekawasan! Lebih celaka lagi, sudah pun kegemukan, koruptif 
pula!" 

Buras ini pernah dimuat Lampung Post, 18 Desember 2009


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke