NASIONAL
Benarkah Ada Harta Soekarno di Bank Swiss?
Koran Austria memberitakan simpanan Rp1,74 triliun Soekarno di UBS.
ddd
Kamis, 27 Desember 2012, 06:03Anggi Kusumadewi, Dwifantya Aquina
Presiden pertama RI, Soekarno.(chello.nl)
BERITA TERKAIT
Puan Maharani Bantah Ada Harta Soekarno di Bank Swiss
* Sosok Soekarno di Mata Marcella Zalianty
* Ini Daftar 9 Calon Pahlawan Nasional 2012
* Megawati Penuhi Undangan SBY di Istana
* Gelar Pahlawan Nasional Turunkan Derajat Soekarno-Hatta?
VIVAnews – Puan Maharani yang merupakan cucu Presiden RI pertama, Soekarno,
menepis kabar soal harta sang kakek yang diberitakan sebuah koran di Austria
tersimpan di sebuah bank di Swiss.
“Kami pihak keluarga tidak tahu-menahu. Sampai sekarang soal itu belum pernah
terbukti, dan tak ada hubungannya dengan keluarga kami,” kata Puan saat
menemani ayahnya, Ketua MPR Taufiq Kiemas, berkunjung ke kantor Wakil Presiden
Boediono di Jakarta Pusat, Rabu 26 Desember 2012.
Isu mengenai harta Soekarno bukan sekali ini terdengar. Kali ini isu tersebut
kembali mengemuka ketika sebuah koran Austria, Kronen Zeitung, memberitakan
soal harta warisan Soekarno senilai US$180 juta atau Rp1,74 triliun yang sampai
saat ini disebut masih tersimpan di bunker bank terkemuka di Swiss, Union Bank
of Switzerland (UBS).
Kronen Zeitung menurunkan berita soal harta Soekarno dalam dua edisi, yaitu
tanggal 17 dan 19 Desember 2012. Namun tidak disebutkan harta Soekarno itu ada
dalam bentuk apa. Dalam berita itu, wartawan penulisnya, Klaus Loibnegger,
mewawancarai seorang mediator keuangan asal Austria bernama Gustav Jobstmann.
Jobstmann mengaku punya dokumen pendukung yang menjadi bukti eksistensi harta
Soekarno di bank Swiss. Jobstmann juga mengatakan bisa membantu mencairkan
harta Soekarno itu, dengan syarat keluarga Soekarno bersedia menginvestasikan
semua harta warisan itu di Austria yang saat ini membutuhkan suntikan modal.
Jobstmann bahkan mengatakan sudah menghubungi salah seorang keluarga Soekarno
bernama Seno Edy Sukanto untuk membicarakan perihal harta itu. Namun Puan
mengatakan, keluarganya justru tidak kenal dengan orang bernama Seno Edy
Sukanto itu.
“Kami tak mengenal siapa Edy, dan dia tidak masuk dalam keluarga Soekarno.
Sepengetahuan saya sejak lahir sebagai cucu Bung Karno, saya tidak pernah tahu
dan mengenal siapa dia,” ujar Puan. Ketua Fraksi PDIP itu pun mengatakan
keluarganya tak mau terlibat dan ikut campur soal pemberitaan mengenai harta
Soekarno itu.
Menurut Puan, ibunya sendiri yang merupakan putri Soekarno, Megawati
Soekarnoputri, pernah mengatakan kepadanya bahwa tidak ada harta Soekarno
seperti yang diberitakan media asing. “Kalaupun ada orang yang mengatasnamakan
keluarga Soekarno (dalam berbicara soal harta itu), bukan berarti dia benar
keluarga Soekarno,” kata Puan.
Kabar Angin
Dubes Republik Indonesia di Swiss, Djoko Susilo, pernah mengatakan bahwa kabar
soal harta Soekarno di UBS itu tidak benar. Djoko mengaku sering dihubungi
sejumlah pihak di Indonesia maupun di tempat-tempat lain yang mengklaim
menyimpan data soal warisan Soekarno di Swiss berupa emas dan uang.
Djoko pun kemudian menelusuri informasi itu. Ia bahkan menghubungi salah satu
pejabat terkemuka di Bank UBS. Namun ternyata semua kabar tersebut tidak
terbukti kebenarannya.
Djoko juga meragukan informasi soal harta Soekarno yang dimuat dalam Kronen
Zeitung. Menurutnya, Kronen Zeitung sejenis koran kuning di Indonesia yang
memberitakan lebih banyak berita sensasi ketimbang informatif.
Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam pun meragukan soal harta Soekarno ini. “Semua
cuma isu, tidak pernah jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kata Asvi.
Ia lantas mengisahkan ketika tahun 1960 ada proyek pembangunan Monumen Patung
Dirgantara yang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran di Jakarta Selatan.
Saat itu pemimpin proyek Patung Pancoran, Edhi Sunarso, mengeluh kekurangan
dana kepada Soekarno.
Namun Soekarno malah menyarankan Edhi untuk menjual mobilnya guna biaya
pembangunan Patung Pancoran. Dari cerita itu, Asvi berkesimpulan Soekarno
sendiri tak punya banyak harta. “Kalau punya banyak uang dan emas batangan,
Soekarno kan tinggal ambil emasnya untuk dana proyek,” ujar Asvi.
Ajang Menipu
Kabar angin soal harta Soekarno memang tidak pernah jelas. Namun justru
menginspirasi sejumlah penipu dalam menjalankan aksinya. Salah satu yang paling
terkemuka mungkin adalah James Lindon Graham asal Selandia Baru.
Seperti dilansir nzherald.co.nz, 29 September 2011, Graham adalah penipu ulung.
Tak tanggung-tanggung, ia mengaku sebagai anak angkat dua Presiden RI, Soekarno
dan Soeharto. Graham membual telah diadopsi resmi oleh keluarga Soekaro. Ia pun
mengaku memiliki kuasa atas harta simpanan keluarga Soekarno senilai US$50 juta
dan US$100 juta dalam bentuk emas batangan di bank Swiss.
Kepada para korbannya, Graham mengklaim dekat dengan Interpol. Dalam modus
penipuannya, Graham mengatakan butuh uang dari para korbannya untuk mencairkan
simpanan keluarga Soekarno di bank Swiss itu. Graham juga membual memiliki
piutang sebesar US$13 juta pada PBB. Ia menyebut PBB meminjam uangnya untuk
menegakkan demokrasi di sebuah wilayah Afrika.
Graham lantas mendorong korban-korbannya untuk berinvestasi dalam jumlah besar
lewat dirinya, dengan kesepakatan kompleks. Meski terdengar tak masuk akal,
tapi banyak korban terjerat. Sebagian besar korban Graham merupakan investor
lanjut usia.
Graham menjalankan modus itu selama sepuluh tahun. Penipu kakap ini sempat
ditangkap di Bandara Auckland, Selandia Baru, Juli 2009 saat hendak bertolak ke
Singapura. Ia dibebaskan karena membayar uang jaminan, dan mengulangi aksi
penipuannya lagi.
Ketika akhirnya ditangkap lagi dan diproses hukum, Graham dinyatakan bersalah
atas 99 kasus penipuan senilai US$1,6 juta. Pria berusia 68 tahun itu pun
divonis penjara selama tiga tahun dua bulan. Vonis itu dipotong dari yang
seharusnya enam tahun dengan pertimbangan usia Graham yang sudah tua dan ia
menderita beberapa penyakit.
Hakim juga menyatakan Graham tak bertindak sendirian. Ia adalah anggota
jaringan penipuan. Graham mengaku menipu karena perlu banyak uang untuk
membiayai gaya hidup jetsetnya.
Pengklaim juru kunci keluarga Soekarno juga kerap terdengar di dalam negeri.
Tahun 2011 misalnya, seorang kakek bernama Zakaria Sukaria Pota yang mengaku
berusia 126 tahun dan berasal dari Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, mengklaim
memiliki sejumlah emas batangan dan surat berharga berisi kekayaan RI yang
tersimpan di bank Swiss.
Zakaria juga menunjukkan pedang, tongkat komando, dan empat emas batangan yang
menurutnya milik almarhum Presiden Soekarno. Kakek ini bahkan mengaku memiliki
obligasi triliunan rupiah yang dicap dengan tinta emas bergambar Garuda.
Obligasi itu dikatakannya siap dicairkan di sebuah bank internasional untuk
diberikan kepada negara.
Zakaria mengaku punya hubungan darah dengan Presiden Soekarno dan selama 60
tahun belakangan menutupi identitasnya dengan menyamar sebagai petani,
pengumpul botol, dan pencari rotan di hutan-hutan Bolaang Mongondow. Ia
mengatakan mendapat wahyu untuk membuka semua harta Soekarno itu karena
perekonomian Indonesia terpuruk.
Pengakuan seperti ini tak hanya datang dari Zakaria. Beberapa orang di tanah
air juga pernah mengaku sebagai pewaris Soekarno yang bisa mencairkan hartanya
di bank Swiss. Namun akhir cerita seperti ini bisa diterka. Sampai saat ini
belum ada kisah lanjutan bahwa mereka telah berhasil mencairkan harta Soekarno
itu. Kisah-kisah ini berlalu dengan cepat seiring angin berhembus. (adi)
[Non-text portions of this message have been removed]