Ref: Apakah angka kejahatan kriminal termasuk korupsi akan (drastis) menurun  
bila isterinya alias ibu negara dijadikan presiden NKRI?

http://www.analisadaily.com/news/read/2013/01/05/98286/pemimpin_yang_layak_didengarkan/#.UOhyP3cjqVs

      Sabtu, 05 Jan 2013 00:05 WIB

      Pemimpin yang Layak Didengarkan 

      ilustrasi
      Oleh: Piter Randan Bua. 

      Pada 31 Desember 2011 di RSPAD Gatot Subroto Presiden Susilo Bambang 
Yudoyono menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru kepada seluruh rakyat 
Indonesia. Dalam kesempatan itu Presiden juga menyampaikan pesan agar rakyat 
Indonesia memperkokoh persatuan dan kesatuan. SBY berkata "sebagai kepala 
negara secara khusus saya mengajak kepada rakyat Indonesia memperkokoh 
persaudaran dan kerukunan sebagai bangsa. Jangan sampai perpecahan dan aksi 
kekerasan di lingkungan masyarakat terjadi. Terutama bila aksi itu berlatar 
belakang SARA. Kita harus mencegah aksi kekerasan atas nama apa pun, agama suku 
maupun etnik, termasuk pencegahan terjadinya tindakan main hakim sendiri 
melawan hukum dan menggangu ketertiban masyarakat".
      SBY juga mengajak seluruh warga untuk mencegah kejahatan. Terutama tindak 
pidana korupsi yang semakin meresahkan.

      Namun, apa yang terjadi, ternyata imbauan Presiden SBY itu seolah tak 
dihiraukan oleh masyarakat. Hal itu terlihat dari justru meningkatnya tindakan 
kekerasan dan korupsi di tahun 2012. 

      Di Jakarta misalnya pada tahun 2012 jumlah pencurian dan kekerasan 
meningkat 17 persen, meningkat 159 kasus dari tahun 2011 menjadi 1.094 kasus. 
Pembunuhan berdasarkan indeks kejahatan (crime index) juga mengalami 
peningkatan di tahun 2012, terhitung 69 kasus, naik 2 kasus dari tahun 2011.

      Sedangkan kejahatan premanisme seperti pemerasan dan pengancaman yang 
terjadi pada tahun 2012 juga mengalami kenaikan sebanyak 82 kasus atau naik 
19,85 persen dibanding 2011 yang berjumlah 580 kasus. Kasus narkotika juga 
mengalami kenaikan hingga 0,39 persen atau naik 19 kasus menjadi 4.836 kasus. 

      Peningkatan juga terjadi pada kasus kenakalan remaja sebanyak 11 kasus 
atau naik 36,66 persen. Dari 30 kasus kekerasan di tahun 2011 meningkat menjadi 
41 kasus di tahun 2012 (Detiknews.com, 28 September 2012). 

      Sementara catatan akhir tahun 2012 Komisi Nasional dan Hak Asasi Manusia, 
mencatat tingkat intoleransi di Indonesia makin memprihatinkan. Hal tersebut 
ditandai dengan tren konflik horizontal bernuansa suku, agama, ras, dan 
antar-golongan terjadi cukup banyak. 

      Menurut catatan Komnas HAM pada 2012 terdapat 58 berkas pengaduan yang 
berhubungan dengan isu kebebasan beragama.(Tempo.co, 11 Desember 2012). 

      Selain itu, kita juga menyaksikan bentrokan antara pendukung sepak bola 
yang menelan korban jiwa, kampanye hitam bernuansa SARA pada pemilihan kepala 
daerah (pilkada) DKI Jakarta, konflik komunal di Balinuraga dan 
Sidoreno-Lampung, kasus penyerangan kaum Syiah di Sampang-Madura, dan konflik 
komunal di Kutai Barat Kalimantan Timur, konflik berkepanjangan di Sigi Sulteng 
dan yang masih segar dipikiran kita adalah konflik antar kampung di Kabupaten 
Seram Maluku yang menewaskan 10 orang dan melukai belasan lainnya (TVOne, 30 
Desember 2012).

      Sedangkan penanganan kasus korupsi oleh pihak kepolisian juga meningkat. 
Hingga September 2012 pihak kepolisian menangani 885 kasus korupsi meningkat 
dari tahun sebelumnya yang hanya 766 kasus (Kompas.com 15 Oktober 2012). 
Ironinya, banyak kasus korupsi menimpa orang-orang yang berada langsung dibawah 
supervisi Presiden SBY. Misalnya, menteri dan kader-kader Partai Demokrat 
bentukan SBY. 

      Melihat kenyataan ini membuat kita miris dan bisa menarik sebuah 
kesimpulan bahwa himbauan Presiden diakhir tahun 2011 hanyalah angin lalu, lips 
service dan ceremonial belaka yang tidak diikuti dengan tindakan-tindakan 
konkrit untuk mencegah kasus-kasus kejahatan itu terjadi. Meningkatnya tindakan 
kejahatan dan korupsi di tahun 2012 mengindikasikan bahwa sang Presiden tak 
lagi didengarkan oleh rakyat termasuk sebagian orang-orang terdekatnya.

      Apa Penyebabnya?

      Ungkapan Tiongkok mengatakan "Jika kepalanya lurus maka yang dibawanya 
tidak berani tidak lurus". Ungkapan ini mengandung makna bahwa rakyat sangat 
ditentukan oleh pemimpinnya. Jika pemimpinnya benar maka orang-orang yang 
dipimpinnya termasuk rakyat tidak akan berani melakukan hal-hal yang tidak 
benar. Mungkinkah perilaku-perilaku masyarakat kita yang buruk itu disebabkan 
oleh buruknya perilaku pemimpinnya? Ataukah itu adalah sikap perlawanan karena 
rakyat tak lagi didengarkan dan diperhatikan kesejahteraannya.

      John Stott (1921-2011) mengatakan bahwa "Banyaknya kegundahan yang 
dialami masyarakat dunia yang berujung pada tindakan-tindakan tidak terpuji 
karena pemimpinnya muncul seperti si buta yang menuntun orang buta". Menurutnya 
bahwa "banyak pemimpin, memimpin dengan arah yang tidak jelas, pengecut dan 
tanpa dedikasi. Karena itu, zaman ini membutuhkan pemimpin-pemimpin yang 
mempunyai pandangan yang tajam ke depan, memiliki keberanian yang besar dan 
dedikasi yang tidak tanggung-tanggung. Tanpa itu, sangat sulit untuk mencapai 
masyarakat yang lebih baik".

      Sementara Dr. Bill Lawrence ahli kepemimpinan berkebangsaan Amerika 
mengatakan "jangan berharap terlalu besar, orang yang anda pimpin mengikuti dan 
mendengarkan anda, jika orientasi anda hanyalah kekuasaan, kenyamanan dan 
kemuliaan serta kepemimpinan anda kendalikan oleh ketakutan". 

      Menurut Bill, salah satu faktor yang sangat penting seorang pemimpin 
didengarkan dan diikuti adalah ketika ia bersedia merasakan perasaan 
orang-orang yang dipimpinnya dan memimpin tanpa dihantui rasa takut serta tak 
berorientasi kekuasaan. Pemimpin yang dikendalikan oleh rasa takut cenderung 
akan melakukan kebohongan dan enggan menyatakan kebenaran. Apalagi kebenaranan 
yang dianggap akan mengancam kekuasaan, kenyamanan dan kehormatannya.

      Tentu saja kita tak menginginkan masyarakat Indonesia, terus hidup dalam 
ketulian kepada para pemimpinnya atau sebaliknya pemimpin yang tuli 
mendengarkan rakyatnya. Karena itu, diperlukan pemimpin yang mau berbenah diri. 
Pemimpin yang mau keluar dari zona nyaman (comfort zone) merasakan dan 
mengatasi masalah-masalah yang dihadapi rakyatnya.

      Bangsa kita mendambakan pemimpin yang visioner, tekun dan pekerja keras 
serta berdedikasi tinggi menjadi pelayan masyarakat. Bangsa kita tak 
membutuhkan lagi pemimpin yang hanya melakukan pencitraan, haus kekuasaan dan 
hanya mementingkan kenyamanan pribadinya. Bangsa kita membutuhkan pemimpin yang 
benar-benar layak didengarkan dan diikuti. Kiranya Tahun Baru 2013 menjadi 
tahun berbenah diri para pemimpin dan seluruh rakyat Indonesia, untuk Indonesia 
yang lebih baik. Selamat Tahun Baru 2013.***

      Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan kebangsaan, tinggal di 
Semarang.
     
     
      Baca Juga Artikel Berita Terkait 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke