http://lampost.co/berita/negeri-importir

2013-01-05 06:21:00


Negeri Importir
INDONESIA menjadi negeri agraris yang paradoks. Lahan berlimpah, penduduk yang 
hidup dari bertani berjuta-juta, tapi ia tetap tidak mampu menyediakan makanan 
pokoknya sendiri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sepanjang 2012, 
setidaknya Indonesia impor pangan 16 juta ton atau senilai Rp80,75 triliun. 
Nilai yang tidak sedikit, membuat mata membelalak.

Ironisnya, ini yang membuat miris, kecenderungan impor pangan bukan menurun 
dari waktu ke waktu. Justru cenderung meningkat. Beberapa komoditas yang 
bergerak cukup meningkat masuk ke Indonesia, misalnya, beras, jagung, teh, 
kedelai, dan garam.

Lebih ironisnya lagi, singkong dan bawang merah pun masih diimpor. Seperti 
diberitakan Lampung Post (4-1-2013), sepanjang Januari—November 2012, Badan 
Pusat Statistik mencatat akumulasi impor bawang merah sebesar 95 ribu ton 
senilai 42 juta dolar AS atau sekitar Rp400 miliar.

Sepanjang periode Januari—Oktober 2012, Indonesia mengimpor singkong sebanyak 
13 ribu ton atau sekitar Rp32 miliar. Pada periode 2000—2011, rata-rata impor 
singkong sebesar 146.055 ton per tahun.

Kebijakan impor pangan, apa pun alasannya, jelas memerkosa semangat UU Pangan 
yang mendorong terciptanya kedaulatan pangan nasional. Apalagi, impor singkong 
yang notabene gampang ditanam dan diproduksi di dalam negeri adalah kebijakan 
yang tidak waras. Bukankah Provinsi Lampung menjadi lumbung singkong yang mampu 
memenuhi 60% dari kebutuhan nasional?

Mengapa Pemerintah Pusat tidak mendorong Provinsi Lampung menanam singkong 
untuk memenuhi sepenuhnya kebutuhan nasional? Di sinilah letak persoalannya. 
Yaitu, pusat tidak cerdas memanfaatkan potensi setiap provinsi. Atau, 
jangan-jangan ada urusan rente pejabat di balik kebijakan impor?

Sadar atau tidak sadar, salah urus negeri agraris ini telah mengakibatkan 
sebagian rakyat terjerembap dalam lumpur kemiskinan. Salah urus negara ini 
telah memunculkan paradoks Indonesia negara kaya yang rakyatnya miskin. Mereka 
ibarat tikus mati di lumbung padi.

Paradoks negeri agraris itu memunculkan gagasan liar, mengapa Indonesia tidak 
sekalian mengimpor presiden, menteri, dan kepala daerah? Bila itu terjadi, 
paripurnalah disebut negeri importir. (*)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke