http://www.gatra.com/politik-mobile/22808-sistem-parpol-saat-ini-digiring-kembali-ke-masa-orba.html


Sistem Parpol Saat Ini Digiring Kembali ke Masa Orba 

  Minggu, 06 Januari 2013 03:24 
Jakarta, GATRAnews - Sistem partai politik (Parpol) Indonesia saat ini sengaja 
digiring kembali ke masa era Orde Baru (Orba) yang menerapkan penyederhanaan 
Parpol, sehingga memupus parpol baru untuk mengikuti pesta demokrasi untuk 
mewakili suara rakyat. "PDS berpendapat, Parpol di Indonesia saat ini ada 
kecenderungan ke arah Orba, karena kan Orba konsepnya penyederhanaan parpol, 
sehingga disederhanakan. Orde baru, menjelang terakhir kan jadinya 3 Parpol," 
nilai Sekretaris Jenderal Partai Damai Sejahtera (PDS), Saat Sinaga di Jakarta, 
Sabtu, (5/1).  

Saat ini, kata Saat, pikiran-pikiran masa Orba itu tengah berlangung dan 
sengaja dikelola, sehingga ujungnya nanti hanya akan ada 3 Parpol peserta 
Pemilu. Yang paling disesalkan, Parpol yang dilahirkan pada era reformasi pun 
mengikuti alur penggiringan sistem penyerderhanaan Parpol. "Tidak sadar dan 
sangat saya sayangkan, beberpa parpol yang dilahirkan orde reformasi 
ikut-ikutan dalam arak-arakan ini. Saya hanya menakutkan, nanti sejumlah Parpol 
pun ikut terlibas, keluar dari 3 besar itu," ujarnya.

 Menurutnya, jika hal itu terjadi, apakah bangsa ini harus kembali menggelar 
reformasi setelah 15 tahun lalu reformasi ini  diguilirkan, jawabannya akan 
diungkap pada Pemulu 2014 mendatang. "Bagian lain yang ingin saya sampaikan, 
proses verifikasi Parpol yang saat ini tengah berlangsung adalah menjadi 
implikasi dalam tampilan Parpol yang akan mengisi 2014," ujarnya.

 Sedangkan tak lolosnya PDS, Saat mengaku tidak terlalu mempermasalah dan tidak 
merasa dianak tirikan. Namun demikian, dia menegaskan, proses verifikasi yang 
dilakukan Komisi Pemilihan Umum ini tidak menghormati masa ibadah Natal para 
pengurusnya karena harus menyiapkan seluruh persyaratan yang harus dipenuhi 
partai agar lolos verifikasi faktual.

"Faktanya sudah menyentuh kenyakinan keagamaan kami. Betapa tidak, pas hari 
Natal dipaksa harus melakukan verifikasi tanpa kompromi. Tapi ini bukan jadi 
alasan ketidaklolosan verifikasi PDS, tapi saya ingin mengingatkan, bahwa 
bangsa ini didirikan dengan konsensus dan kebergaman. Indonesia akan tetap NKRI 
kalau keberagaman itu tetap ada. Kawan-kawan di Papua, NTT yang akan menyiapkan 
ritual Natal, dipaksa melaksanakan dan mengumpulkn data-data verifikasi. Jadi 
saya tidak mengerti hal itu tidak bisa disesuaikan dengan kepentingan," 
bebernya.

Atas dasar itu, PDS berharap verifiksi dilakukan lebih 5 tahun. Caranya, setiap 
bulan Parpol menyetorkan KTA-nua ke KPU, sehingga KPU mengetahui jumlah anggota 
Parpol dan bisa mengeceknya. "Itu pasti lebih murah, tidak seperti sekarang 
yang katanya ada dana milyaran, tapi tidak kredibel. Apakah KTA parpol di 
parlemen itu disetorkan jauh-jauh hari, saya tidak yakin tuh! Lalu apakah bulan 
depan tetap masih anggota dia, saya juga gak yakin," cetusnya. 

Selain itu, Parpol yang akan ikut pemilu juga harus sudah mempunyai daya hidup. 
Kemudian, KPU dan Bawaslu juga masa kerjanya kalau bisa menjadi 5 tahun, bukan 
hanya menjelang Pemilu dan Pilkada. KPU pun mestinya melakukan pengecekan 
administrasi Parpol setiap bulan, sehingga tidak muncul Parpol jadi-jadian yang 
membuat bangsa ini menjadi bangsa yang curigaan.(IS)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke