Bung Moderator yb,
Terima kasih banyak  kepada bung Moderator (Bima Bahakti  Group ) atas
kiriman Reportage Perjalanan yang sangat menarik dari Wartawan Tribunenews 
Sdr.Dahlan Dahi.
Suatu ARTIKEL  yang ringan dan menyegarkan sebagai selingan diantar Berita2
seriou dan terutama dinatara berita2 d)tenegang kehidupan pOlitik -ekonomi
dan Social di Tanah Air yyang cenderung lebih sering membuat Kesal setiap
Pembaca yng beripikir  - tentang bagaimana Para TIKUS 2 Ekonomi dan Mafioso
Politik Dalam Negeri ¨menyalah gunakan Kepercayaan Bangsa dan masyarakatnya
dan hanya mencari keudukan untuk sibuk mencari Usha Boncengan dan giat
berkorupsi --- 
   dan SELAMAT TAHUN BARU SEMOGA TETAP SEHAT DAN LEBIH BERHASIL DISEGALA
BIDANG KEHIDUPAN DITAHUN INI DAN SELANJUTNYA. 

-------Original Message-------
 
From: Bima Bhakti Group Indonesia
Date: 9.1.2013 10:10:37
To: [email protected];  [email protected];  kolom@yahoogroups
com
Subject: [republik-mimpi] Pelaut Indonesia Jutawan Muda
 
  
Pelaut Indonesia Jutawan Muda
Tribun Timur



Laporan Wartawan Tribunnews.com, 
Dahlan Dahi, 
dari Doha, Qatar


ANAK muda ini berdarah Betawi tapi lahir di Palembang. Istrinya orang
Pontianak. Satu tahun terakhir ia bekerja sebagai kepala ruang mesin di
kapal yang berlayar di kawasan Teluk, Timur Tengah, hingga Oslo di Eropa,
dan Kenya di Afrika Selatan.
Kapal itu kecil saja. Panjang sekitar 70 meter. Total anak buah kapal (ABK)
sekitar 20 orang, sudah termasuk perwira kapal dan rating (staf).
Masih muda, sekitar 30-an. Gajinya sekitar 2.000 dolar AS (kurang dari Rp 20
juta rupiah) sebulan. Di Indonesia, ini gaji kebanyakan direktur.
Di kapal luar negeri, gaji sebesar itu untuk perwira kapal semacam kepala
mesin atau mualim. Gaji kepala kapal atau nakhoda sekitar sembilan ribu
dolar (kurang dikit jadi Rp 90 juta).
Saya bertemu anak muda itu di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, dalam
perjalanan Jakarta-Doha (Qatar), Senin (2/7/2012) malam.
Kami satu pesawat, Qatar Airways, maskapai Qatar (negara Arab Teluk) yang
pramugarinya orang bule, tanpa jilbab. Maskapai ini melayani lebih dari 100
rute penerbangan internasional. Garuda kebanggaan Indonesia tidak ada
apa-apanya.
Setelah terbang hampir delapan jam dari Jakarta pukul 00.30 Selasa
(3/7/2012) dini hari, subuh kami tiba di Doha. Waktu Doha lebih cepat empat
jam dari Jakarta.
Saya dalam perjalanan menuju Moskow, Rusia, untuk menghadiri undangan
Itar-Tass, kantor berita Rusia. Acaranya II World Media Summit.
Tahun 2009, World Media Summit digelar di Beijing, China. Ini forum para
pemimpin redaksi, pengelola media, bahkan konglomerat media semacam Ruport
Murdoch.
Di forum ini akan hadir dalam diskusi pimpinan puncak kantor berita Xinhua
(China), Japan News Agency (Jepang), BBC (Inggris), Reuter. Ada pula New
York Times dan News Corp dari Amerika Serikat. Saya diundang sebagai Editor
in Chief Tribunnews.com.
Si teman tadi akan bermalam di Doha sebentar, satu-dua hari, sebelum
berkelana di kapal. Misinya adalah membawa para insinyur ahli minyak untuk
mengendus potensi minyak lepas pantai di kawasan Teluk.
Tiga bulan lagi ia akan balik ke Jakarta, lalu libur sebulan penuh. Begitu
seterusnya. Kerja tiga atau empat bulan, libur sebulan penuh. Gaji jalan
terus, 2.000 dolar Amerika. Tiket pulang-pergi jadi tanggungan perusahaan.
Saya melanjutkan perjalanan ke Moskow setelah transit yang menyiksa di
Bandara Internasional Doha. Menyiksa karena ruang merokoknya sangat pengab,
sementara coffee shop tidak menyediakan tempat merokok.
“Mending ke Ethiopia. Di sana bebas merokok di bandara,” kata teman satunya,
seorang pria berbadan subur. Ia orang Indonesia.
Orang Sunda ini transit di Doha, dan bersiap terbang ke Oslo, Norwegia. Dia
juga seorang pelaut.
“Dari Berjen (kota kecil yang ditempuh 45 menit dengan pesawat dari Oslo),
kami akan ke Kenya. Perjalanan ke sana dengan kapal sekitar tiga minggu atau
sama dengan tiga kali Jayapura-Jakarta dengan kapal laut”.
***
PARA pelaut Indonesia, sebagian terbesar lulusan akademi pelayaran, adalah
sisi lain diaspora Indonesia. Mereka orang Indonesia, berdarah Indonesia,
bahkan masih memegang paspor Indonesia tapi bekerja di luar negeri.
Selama ini, Indonesia di luar negeri, terutama di Timur Tengah dan Malaysia,
adalah pembantu. Karena pendidikannya yang rendah, kemampuan bahasa asing
yang payah, orang-orang Indonesia lalu bekerja sebagai pembantu rumah tangga

Sementara, para pekerja Filipina yang tidak masalah dengan bahasa Inggris
bisa bekerja di tempat yang lebih necis seperti penjaga toko, pramuniaga,
atau pelayan restoran.
Ini berbeda dengan di laut. “Pelaut Indonesia lebih berpendidikan dari orang
Filipina. Di kapal saya, semua pimpinan, termasuk nakhoda, berasal dari
Indonesia. Budak-budaknya dari Filipina,” kata anak muda tadi.
Dulu, kapal yang dioperasikan ini dikuasai orang Ukraina. Kapal ini sendiri
kepunyaan perusahaan Singapura. Majikan Singapura mempekerjakan nakhoda
orang Ukraina. Maka jadilah semua ABK orang Ukraina.
Ketika nakhoda berganti orang Indonesia, pekerjanya diambil semua –terutama
di level nakhoda, mualim, dan kepala mesin-- dari Indonesia.
Dari Singapura, kapal itu berlayar ke Berjen, kota kecil di pesisir Norwegia
 Para kru kemudian kumpul di sana sebelum melakukan ekspolarasi potensi
minyak di lepas pantai.
Terkadang, kapal bersandar di Paris sehingga para kru akan terbang dari
Jakarta ke Doha, lalu dari Doha ke Bandara Charles De Gaulle.
***
BAGAIMANA jaringan pelaut ini terbentuk? Ini sudah pasti cerita yang sudah
lumayan lama. Anak muda dari Sunda tadi sudah bekerja di luar negeri lebih
dari sepuluh tahun mengarungi laut di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika.
Dia sudah berlayar dari Berjen, Norwegia, ke Kenya di Afrika Tengah.
Kapalnya pun sudah masuk Paris dan kota-kota Eropa lainnya. Hanya Benua
Amerika saja yang belum dia jelajahi.
Ada juga yang baru bergabung, seorang anak muda dari Makassar. Dia lulusan
Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Barombong di kawasan
Tanjung Bunga.
Sebelum bergabung ke tim Oslo, dia hanya berlayar di kawasan Asia. Basisnya
di Singapura. Keahliannya adalah mualim tiga. Tugasnya terkait keselamatan
pelayaran. Pemadam kebakaran di atas kapal adalah tanggung jawabnya.
Anak muda Makassar ini mendapatkan jaringan Oslo melalui internet. Para
pelaut atau calon pelaut mencari pekerjaan dengan menjelajali dunia maya.
Bantuan Mbah Google terasa sekali. Mereka sudah paham kata kunci apa yang
digunakan di mesin pencari, menemukan alamat perusahaan yang membutuhkan
pelaut, mengajukan aplikasi dalam bahasa Inggris, dan menunggu panggilan.
Begitulah. Internet menghubungkan para pelaut di seluruh dunia. “Sekarang
ini hampir semua kapal sudah dilengkapi WiFi. Saya berkomunikasi dengan
keluarga di rumah dengan Skype,” begitu kata anak muda Makassar itu.
Ada lagi seorang pelaut kelahiran Palopo, Sulsel, menikah dengan orang
Parepare tapi tinggal di Bogor, Jawa Barat. Dia ini lulusan Akademi Maritim
Indonesia (AMI) di Makassar dan merampungkan pendidikan lanjutan di Sekolah
Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta tahun 1999.
Sejak itu ia bekerja di kapal di Singapura, tempat pemilik kapal dan para
agen kapal internasional bermarkas. Lewat internet dia menemukan jaringan
Oslo.
Bersama tiga temannya yang orang Indonesia, dia mengoperasikan kapal dengan
misi membantu eksplorasi minyak lepas pantai di Afrika Tengah. Semua perwira
kapal orang Indonesia, sementara rating (pegawai rendahan di kapal seperti
olimen) semuanya dari Nigeria.
"Jarang ada perwira kapal dari Nigeria atau negara Afrika lainnya. Indonesia
beruntung karena memiliki sekolah pelayaran yang bagus," katanya.
Kampus-kampus dan sekolah pelayaran memang bertebaran di beberapa kota di
Indonesia. Di Semarang ada PIP, Politeknik Ilmu Pelayaran, sekolah tingginya
 STIP, ada di Jakarta. Sedangkan di Makassar ada setidaknya tiga sekolah
pelayaran, yakni BP2IP, AMI, dan AMIK.
Jelang pukul 08 waktu Doha, saya berpisah dengan para pelaut yang menjadi
jutawan muda itu.
Mereka menuju Oslo, saya menanti penerbangan ke Moskow. Sambil menunggu jam
boarding, saya merenung: barangkali kalau sekolah di Indonesia lebih baik
maka bangsa ini tidak akan mengeskpor pembantu rumah tangga.
Pukul 18.55, Qatar Airways mendarat mulus di Demodedovo International
Airport setelah terbang sekitar empat jam dari Doha. Suhu di bandara
tersibuk di Rusia ini cukup bersahabat, 26 derajat Celcius.
Panitia II World Media Summit menunggu di persis di pintu ke luar bandara,
menyediakan jemputan, dan membantu registrasi hotel.(*)

 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke