Ref: Siapa tidak ingin? http://www.shnews.co/detile-13186-teroris-ingin-jadikan-ri-negara-islam.html
Teroris Ingin Jadikan RI Negara Islam Ninuk Cucu Suwanti | Rabu, 09 Januari 2013 - 14:34:26 WIB : 173 (dok/antara) Teroris lebih mengincar warga negara asing sebagai sasarannya. JAKARTA - Aksi teroris yang muncul selama ini merupakan jaringan terikat dengan satu ideologi sama. Mereka ingin menghancurkan negara Indonesia dan mengubah konstitusi menjadi negara Islam dengan aturan Syariat Islam. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyaad Mbai kepada SH di kantornya, Selasa (8/1) siang. "Jadi selama target belum dicapai mereka tidak akan berhenti. Jadi, jangan bayangkan ini kejahatan biasa. Ini orang-orang yang mau membuat negara mengubah konstitusi," katanya. Menurutnya, kelompok-kelompok teroris yang beraksi selama ini sesungguhnya sama saja karena mereka masih terikat dengan satu ideologi dan target yang sama. Meskipun muncul kelompok-kelompok baru, tetap saja ada orang-orang lama di kelompok baru dan mengklaim pemikiran mereka paling benar dan orang lain salah. "Dengan dasar pemikiran yang ngeres (kotor-red) itu teroris akan terus beraksi menyerang target-target, yaitu membuat negara dan mengubah konstitusi sesuai dengan hukum Syariat Islam. Itu target politik mereka," imbuhnya. Mengapa mereka ingin mengubah negara, Ansyaad menuturkan, karena kelompok-kelompok teroris ini tidak suka dengan pemerintah yang mengadopsi budaya barat, yaitu demokrasi. Patut diketahui bahwa Abu Bakar Baasyir masih tetap dijadikan ideologis (tokoh sentral) dan terus mengobarkan semangat jihad menyebabkan kebencian atau permusuhan terhadap pemerintah (NKRI, Pancasila, dan demokrasi). Karena itu, target mereka di 2013 adalah gedung MPR/ DPR, aparat bidang hukum, dan aparat bidang pertahanan, termasuk instansi yang turut membantu pemerintah. "Jadi, bukan hanya unsur-unsur yang berbau Amerika Serikat atau agama tetapi ketidaksukaan dengan pemerintahan menjadi unsur yang masuk dalam target. Maka itu konsentrasi sasarannya selalu di tempat kumpul massa, karena tujuan mereka adalah banyak korban jiwa," ujarnya. Secara terpisah pengamat teroris Al Chaedar yang dihubungi SH mengatakan, parat keamanan harus fokus pada situasi keamanan daerah-daerah. Ini karena saat ini kelompok teroris terus berpikir keras untuk membuat organisasi mereka tetap eksis. "Karena analisis saya, banyak kelompok muncul di luar Jamaah Islamiah yang nggak peduli dengan target utama, seperti memulai dengan gerakan menyerang pos polisi, kantor pemda, pusat-pusat perbelanjaan, dan tempat rekreasi, serta tempat ibadah umat nasrani," ujarnya. Setidaknya, sambung Al Chaedar, ada beberapa titik yang perlu diperkuat pengamanannya, di antaranya Poso, Makassar, Kendari, Manado, Ambon, Manokwari, Surabaya, Yogyakarta, Depok, Bogor, Bandung, Medan, dan Solo. "Ini harus dipikirkan serius dan perlu dilakukan penelurusan agar aksi teroris dapat digagalkan," imbuhnya. Terkait sasaran terorisme, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar dalam keterangan pers di kantornya, Selasa siang, mengatakan pihaknya menengarai teroris berencana melakukan aksi di tempat-tempat wisata di Bima, Nusa Tenggara (NTB), dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ia menyebutkan sasaran di Bima yang baru terungkap adalah sebuah hotel. Namun, Boy menolak menjelaskan secara detail hotel yang dimaksud. Sementara sasaran d Tana Toraja adalah lokasi wisata, tempat ibadah, dan kantor polisi. Sepekan ini Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri telah menangkap empat terduga teroris dan menembak mati tujuh orang lainnya. Dua terduga teroris ditembak mati di depan Masjid Nurul Afiat di Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulsel, pada Jumat (4/1). Lima terduga teroris lainnya ditembak mati di sebuah kebun kacang di Kelurahan Kandai, Kabupaten Dompu, NTB, pada Sabtu (5/1). Sumber : Sinar Harapan http://www.thejakartaglobe.com/home/densus-88-find-around-50-kilograms-of-explosives-in-west-nusa-tenggara-house/564988 Densus 88 Find Around 50 Kilograms of Explosives in West Nusa Tenggara House Jakarta Globe | January 08, 2013 The National Police’s anti-terror special unit, Densus 88, has found around 50 kilograms of explosives in a house in Dompo, West Nusa Tenggara. “It’s around 40-50 kilograms, the site has been used as a training camp to assemble bombs,” said Brig. Gen. Boy Rafli Amar, the spokesman of the National Police on Tuesday, as quoted by Kompas.com. Boy said that the explosives were found after a terrorist network were arrested last week in Dompu, West Nusa Tenggara. “Investigation results show that the targets are tourism centers in [the] West Nusa Tenggara city of Bima,” Boy said. “It was a hotel in Bima, but [we] can not mention the specific.” Last week, Densus 88 shot dead five alleged terrorists in West Nusa Tenggara. Two suspects were killed at the border between Bima and Dompu on Friday night. Both men, identified as Roy, from Makassar, South Sulawesi, and Bakhtiar from Bima, were believed to have roles in a series of terror attacks in restive Poso, Central Sulawesi, the officer said. West Nusa Tenggara police chief Brig. Gen. Iriawan will lead a case presentation about this terrorist group and the newly-discovered explosives on Wednesday afternoon. +++++ [Non-text portions of this message have been removed]
