http://www.gatra.com/home-mobile/22971-skandal-makanan-palsu-guncang-cina.html
Skandal Makanan Palsu Guncang Cina a.. Jum'at, 11 Januari 2013 06:00 Pekerja menyusun telur di dalam supermarket di Wuhan, proinsi Hubei, China (REUTERS/Stringer) Jakarta, GATRAnews - Ayam yang dibesarkan secara instan dengan hormon pertumbuhan dan antibiotik merebak di Cina. Pertengahan tahun lalu, tercatat 15.000 pelanggaran atas ketentuan keamanan pangan. Pemerintah Cina berjuang mengetatkan pengawasan terhadap produk makanan. --- Menu makanan yang wajib diwaspadai Chun Qing makin bertambah. Awal tahun ini, wanita 41 tahun itu harus menambahkan daging ayam ke dalam daftar makanan yang mesti diteliti sebelum disantap. Kekhawatiran Chun muncul setelah badan pengawas makanan Cina menemukan praktek para peternak di kawasan utara negeri itu, yang sengaja memacu pertumbuhan ayam dengan hormon pertumbuhan dan antibiotik. Atas temuan itu, dua peternakan yang memasok daging ayam untuk restoran cepat saji besar ditutup pada akhir bulan lalu. Praktek mempercepat pertumbuhan ayam hingga siap dipotong hanya dalam waktu 45 hari --normalnya butuh waktu 90 hari-- bermunculan karena tingginya permintaan atas daging ayam dari restoran-restoran ayam cepat saji. ''Saya harus berhenti makan daging ayam yang dihasilkan dari peternakan seperti itu,'' kata Chun, seperti ditulis The Straits Times edisi awal Januari lalu. Agar bisa tetap menyantap daging ayam yang kualitasnya terjamin, Chun pun memutuskan membeli ayam dari peternakan keluarga yang tidak jauh dari desa asalnya. Meskipun belakangan ini tidak banyak ditemukan kasus orang yang keracunan dan meninggal, Chun tetap harus mengingat skandal susu pada 2008. Waktu itu, enam bayi meninggal dan sekurangnya 300.000 bayi sakit karena mengonsumsi susu yang terkontaminasi melamin. Tampaknya, sebagaimana ditulis Wen Nuan di situs microblog Sina Weibo, skandal makanan telah menjerumuskan warga Cina ke dalam pusaran air dan bara api belum berakhir. ''Kita semua suatu hari nanti mungkin saja akan roboh karena makanan yang kita santap,'' tulisnya. Padahal, pada 21 April 2011, Cina baru saja dihebohkan oleh kasus meninggalnya anak berumur setahun usai mengonsumsi daging ayam. Begitu banyaknya protes dan ketidakpuasan yang mencuat dari masyarakat karena sejumlah rekayasa produk makanan telah mendorong penguasa Cina mengetatkan pengawasan. Pada pertengahan April 2011, Perdana Menteri Wen Jiabao, seperti dikutip The People's Daily, menunjukkan kegeramannya atas sejumlah skandal makanan yang masih terus bermunculan. ''Semua kasus buruk soal masalah keamanan makanan sudah cukup menunjukkan rendahnya integritas dan kemerosotan moral yang menjadi masalah sangat serius,'' katanya. Toh, berbagai kasus makanan sintetis masih terus terulang. Setelah skandal susu bermelamin pada 2008 diselesaikan, ternyata pada akhir Maret 2011 aparat kepolisian Chongqing, kawasan barat daya Cina, menemukan kasus yang sama. The People's Daily melaporkan, sebanyak 26 ton susu bubuk bermelamin ditemukan di sebuah pabrik pembuat es krim. Terungkap, motif meraup untung besar-besaran menjadi motif para pebisnis makanan yang tidak bermoral itu. Otoritas di Shanghai dan Beijing pekan lalu mengumumkan rencana mengeluarkan standar baru berdasarkan perusahaan yang telah masuk daftar hitam (karena melanggar aturan keamanan produk makanan). Kantor berita Xinhua melaporkan, sanksi baru yang akan diberlakukan adalah menutup perusahaan yang kedapatan menggunakan bahan-bahan terlarang dalam pengolahan makanan dan memproduksinya secara ilegal. Larangan juga mencakup penjualan bahan aditif terlarang yang ditambahkan pada produk makanan. Kota-kota lain di Cina tampaknya akan mengikuti langkah dua kota besar tersebut. Pemerintah pusat sendiri telah membuat rencana aksi untuk lima tahun ke depan, guna mengurangi skandal makanan palsu yang merusak kesehatan. Yang masuk kategori makanan palsu adalah semua produk makanan buatan atau sintetis dan tidak alamiah dengan rekayasa serta penambahan bahan-bahan kimia yang tidak seharusnya. Kebijakan ketat itu diambil pemerintah untuk membersihkan Cina Daratan yang telanjur memiliki rekam jejak buruk perihal keamanan produk makanan. ''Tahun 2012, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah ketentuan untuk memastikan keamanan produk makanan. Efek sanksi dari kebijakan ini juga lebih besar ketimbang aturan sebelumnya,'' kata Profesor Luo Junbo dari Universitas Agrikultural Cina, seperti dikutip The Straits Times. Meskipun pemerintah sudah mengambil kebijakan tegas, Chun Qing belum merasa yakin. Persoalannya, menurut Chun, khusus para pemimpin selama ini selalu mendapat pasokan makanan yang terjamin. ''Saya masih belum percaya pemerintah dapat mengendalikan masalah ini. Para pemimpin menyantap makanan khusus dari pasokan yang segar, jenis produk organik, sehingga mereka tidak mengerti penderitaan rakyat biasa sehari-hari,'' tuturnya. Chun tidak sendirian. Hampir 30% responden jajak pendapat yang dilakukan portal berita East Day di Shanghai, dua pekan lalu, menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi menyantap ayam cepat saji. Hasil polling juga menunjukkan temuan mengejutkan, karena hampir 25% responden mengatakan, rakyat Cina tidak akan jatuh keracunan hingga ribuan orang. Temuan ini sekaligus merefleksikan bahwa orang tidak lagi terpengaruh oleh pemberitaan tentang makanan yang tercemar zat kimia berbahaya. Untuk diketahui, pada paruh pertama 2012, badan pengawas makanan menemukan 15.000 kasus pelanggaran atas keamanan makanan. Selain itu, setidaknya pemerintah juga telah menutup 5.700 usaha bisnis makanan yang ternyata tidak mendapat izin resmi. Angka temuan tersebut pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah muncul. Salah satu temuan yang menjadi makanan empuk pemberitaan media adalah adanya penggunaan chromium pada obat-obatan. Logam beracun yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi hati dan ginjal ini ditemukan pada April 2012 di sejumlah kapsul dari 13 tempat pengobatan Cina. Dari skandal ini, Pemerintah Cina menahan lebih dari 20 orang yang ada di kawasan pantai Provinsi Zhejiang. Mereka memakai gelatin yang mengandung chromium, yang biasa dipakai untuk mengolah bahan kulit untuk sepatu. Yang umum dilakukan produsen makanan adalah menggunakan pengawet makanan kimiawi. Kasus ini terjadi di sejumlah kota, terutama di kawasan selatan Cina. Yang terbaru, banyak pedagang pasar yang menggunakan bahan beracun untuk mempertahankan kesegaran kubis, membuat bir, dan menukar darah babi untuk darah palsu dari bebek. Bulan lalu, media resmi pemerintah melaporkan tingginya tingkat kandungan kimia bahan plastik pada sejumlah produk minuman keras yang beredar. Antara lain pada minuman merek Kweichow Moutai, yang sangat populer. Sempat dilakukan jumpa pers oleh pihak produsen untuk mengklarifikasi, dengan melibatkan Profesor Li Tongji dari Peking University's School of Public Health, yang menyatakan tidak ada kandungan berbahaya seperti yang dikhawatirkan. Sebagaimana diberitakan wsj.com, 14 Desember lalu, Li juga memastikan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk melakukan detoksifikasi. Kontan, pendapat itu mendapat serangan komentar dari banyak pihak melalui microblog Sina Weibo. Li dituduh tidak etis dan korup. Selain itu, ada pertanyaan kepadanya, apakah telah mendapat bayaran untuk muncul dalam konferensi pers itu. Sehari setelah kemunculan Li, saham Kweichow Moutai di bursa langsung jatuh 2,9%. Pada bulan sebelumnya, persisnya Juni 2012, sebuah studi ilmiah yang diterbitkan di Journal of Agriculture and Food Chemistry menemukan kandungan bahan kimia plastik, terutama DEHP, lebih banyak terdapat pada produk makanan asal Cina ketimbang produk sejenis dari negara lain. Lalu, dalam sebuah konferensi internasional mengenai keamanan pangan pada Maret 2011, Profesor Feng Ping dari Beijing Academy of Food Sciences mengungkapkan bahwa beberapa konsumen berulang kali terkena racun karena tingkat bahan kimia nitrit pada daging dalam jumlah berlebihan. Toh, data resmi mengenai jumlah korban yang jatuh karena makanan yang terkontaminasi sangat minim karena tidak semuanya tercatat. Heboh bahan beracun pada produk asal Cina tidak hanya melanda makanan olahan. Sebelumnya pernah muncul ikan yang tercemar obat-obatan terlarang. Lalu pasta gigi dan sirup obat batuk yang tercemar bahan kimia beracun. Juga mainan anak-anak dengan cat bertimbal. Pada Maret dan April 2007, Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (FDA) Amerika Serikat menyatakan, lebih-kurang 1.000 hewan peliharaan seperti kucing dan anjing jatuh sakit setelah melahap makanan yang bahannya berasal dari Cina. Kasus serupa, seperti diberitakan abcnews.go.com, 16 Maret 2012, terulang pada beberapa anjing di akhir Desember 2011. Meskipun banyak kasus makanan palsu dan terkontaminasi bahan kimia berbahaya mencuat, Profesor Luo Junbo mewanti-wanti agar laporan media massa tidak membuat publik mengalami ketakutan secara tidak rasional. Dia menyoroti beberapa media yang belakangan ini mengeluarkan alarm bahaya terhadap produk makanan tanpa disertai data akurat. ''Beberapa tidak memiliki kemampuan untuk mengadili. Maka, begitu rumor merebak, banyak orang menjadi takut,'' katanya. Oleh sebab itu, ia meminta badan resmi pemerintah mengeluarkan lebih banyak informasi tentang keamanan produk makanan yang dapat dipercaya. Tuntutan ini tidak mudah dipenuhi. Pasalnya, jumlah agen pengawas dan penindakan terhadap makanan palsu masih terbatas. Menteri Kesehatan Cina, Chen Zhu, pada Februari 2011 pernah mengeluhkan sedikitnya jumlah orang yang melakukan pengawasan dan penindakan, karena satu inspektor melayani lebih dari 10.000 orang. Namun, menurut Dr. Ben Embarek dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang penting adalah cara dan metodenya, bukan jumlahnya. Pasalnya, pengawasan itu bisa dilakukan secara acak pada ribuan produk makanan. Yang penting, rutin dan berlangsung terus-menerus. Pengawasan produk pangan dan non-pangan memang hal paling krusial saat ini. Ketatnya pengawasan yang dilakukan Kementerian Perdagangan RI terhadap produk pangan berbahaya pada 2012 setidaknya membuahkan hasil. Sepanjang tahun 2012, ditemukan 3.000 jenis produk pangan ataupun non-pangan yang tergolong berbahaya. Jumlah ini meningkat tajam dibandingkan dengan temuan tahun 2011 yang hanya berjumlah 28 jenis. ''Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, khususnya di negara besar, produsen mencari destinasi baru. Nah, Indonesia dengan tingkat konsumsi domestik besar menjadi pilihan,'' ungkap Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, di sela-sela penandatanganan nota kesepahaman dengan Polri di kantornya, Jumpat pekan lalu. Sayangnya, masyarakat cenderung memilih produk murah yang tentu saja harus diwaspadai. ''Produk yang masuk mesti diwaspadai. Jangan apel dilapisi formalin dengan zat kimia dibeli,'' ujarnya. Kabareskrim Polri, Komjen Sutarman, juga mengatakan bahwa membanjirnya produk kosmetik dan makanan, kalau tidak diawasi dengan baik, akan berbahaya. Jika dikonsumsi masyarakat, pasti akan mempengaruhi kesehatan dalam jangka panjang. ''Untuk itu, kami melakukan pencegahan masuknya barang-barang yang dicurigai berbahaya,'' katanya. Melihat risiko kesehatan yang harus ditanggung, ada baiknya masyarakat lebih bijak dan hati-hati terhadap produk-produk impor. (G.A. Guritno) ---------------------------- Sejumlah Skandal Makanan di Cina Telur ayam palsu: Telur ayam palsu ditemukan di sejumlah supermarket, beberapa tahun lalu. Hasil tes menunjukkan, telur ini dibuat di pabrik dalam skala industri dengan bahan-bahan kimia, seperti asam alginat, kalsium klorida, gelatin, parafin, potasium, dan kalsium karbonat. Telur palsu ini bisa memicu kehilangan ingatan dan pikun lebih cepat. Daging sapi palsu: Daging sapi palsu juga ditemukan di Cina yang merupakan hasil rekayasa daging ayam atau daging babi yang diberi ekstrak daging sapi, lalu direndam dengan boraks dan glazing agent yang biasa dipakai untuk mengilapkan roti. Daging babi pun dihasilkan dari hewan babi yang diberi makanan yang mengandung clenbuterol untuk mempercepat pertumbuhan babi. Akibatnya, Shuanghui Group pada akhir April 2011 menghentikan produksi daging olahannya. Dua pertiga penduduk Cina makan daging babi, tapi hanya separuhnya yang berasal dari tempat pemotongan hewan resmi. Beras palsu: April tahun lalu diberitakan, beras palsu diproduksi di Cina dan didistribusikan di kota Taiyuan di Provinsi Shaanxi. Beras palsu ini dibuat dari campuran kentang, ubi jalar, dan limbah plastik yang direkayasa. Produsen juga menambahkan resin sintetik industri yang dapat memicu kanker. Makan tiga mangkuk nasi palsu sama dengan makan sekantong plastik. Minuman keras palsu mengandung plastik: Minuman keras, seperti bir, anggur, dan wiski yang diproduksi di Cina ditemukan mengandung bahan pembuat plastik dalam kadar tinggi. Bahan kimia ini dapat memicu masalah kesehatan, seperti kanker dan kemandulan. Madu palsu: Ditemukan pula madu palsu yang terdiri dari sedikit madu asli ditambah campuran cairan gula, pemanis gandum, sirup jagung, atau beras dan berbagai zat kimia tambahan lainnya. Madu palsu ini dikabarkan bisa masuk ke pasar Amerika Serikat melalui jalur distribusi bisnis India. Roti palsu daur ulang: Direktur perusahaan roti Shanghai Shenglu Food Company ditahan pada pertengahan 2011 karena membiarkan produk roti hasil olahan roti kedaluwarsa beredar dan diproduksi. Roti ini beredar di beberapa supermarket. Waktu itu, seperti diberitakan The New York Times, setidaknya 32.000 roti ditarik dari toko-toko yang menjual produk Shanghai Shenglu Food Company. Kenari palsu: Makanan sintesis yang paling mengagetkan dunia adalah kenari palsu. Pemalsu yang ingin meraup untung besar mengganti isi daging kenari yang renyah dan gurih dengan gumpalan semen berlapis kertas. Pembeli tidak bisa membedakan yang palsu dan yang asli, kecuali setelah membuka cangkang kulitnya. Susu terkontaminasi racun: Pada 23 Juli 2012, produsen susu Hunan Ava Dairy, seperti diberitakan Reuters, menyatakan menarik susu formula bayi merek Nanshan Bywise setelah ditemukan bahan penyebab kanker dalam tes sampel produknya. Biro Administrasi Industri dan Perdagangan Guangzhou dalam pernyataannya menyebutkan, ditemukan kandungan aflatoxin dalam susu sampel. Pada Juni lalu, produsen susu dengan pendapatan terbesar di Cina, Inner Mongolia Yili Industrial Group, menarik susu formula yang tercemar merkuri dalam level yang tidak wajar. Pada Desember 2011, langkah serupa diambil China Mengniu Dairy karena produknya juga mengandung aflatoxin. Sebelumnya, pada tes di selatan Provinsi Guangdong tahun 2008 terhadap susu yang diproduksi Grup Hunan Ava Dairy juga ditemukan substansi bahan kimia yang dapat memicu kanker. Contohnya aflatoxin yang dapat menyebabkan kanker hati. Minyak goreng palsu: Pada April tahun lalu, lebih dari 100 orang di sejumlah provinsi terlibat dalam produksi ilegal, misalnya minyak yang diproduksi dari minyak bekas restoran, hotel, dari sisa makanan berminyak, bahkan dari daging sisa. Selain minyak goreng palsu, lebih dari 3.200 ton produk makanan palsu disita dari mereka. Beras dan sayuran terkontaminasi logam berat: Sayuran yang tumbuh di atas lahan buatan bekas limbah baterai, pabrik kimia, pecahan kaca, dan limbah tambang beracun ditemukan di selatan kota Guangzhou, seperti dilaporkan dua pekan lalu oleh kantor berita Xinhua. Pada Februari 2011, South China Morning Post, mengutip China Economic Weekly, melaporkan kontaminasi 12 juta ton beras oleh logam berat. Hal itu muncul dari hasil pertanian pada jutaan hektare lahan sawah di Provinsi Yunnan, Guangdong, dan Guangxi yang tercemar logam berat. Lebih-kurang 10% dari beras yang beredar mengandung cadmium, logal berat pemicu kanker. Akibat kontaminasi itu, kerugian yang ditimbulkannya mencapai US$ 3 milyar, karena beras tidak bisa diekspor dan terhentinya produksi. (Diolah dari berbagai sumber) Laporan Utama Majalah GATRA, terbit Kamis, 10 Januari 2013 [Non-text portions of this message have been removed]
