Ref: Berit lama yang tetap aktual!

http://www.berdikarionline.com/editorial/20120112/12091.html


Betapa Buruknya Pemerintahan Sekarang ini’
Kamis, 12 Januari 2012 | 1:32 WIB   ·   0 Komentar 

 
Pada tahun 1969, seorang anak muda yang sedang gelisah, Soe Hok Gie, menulis 
sebuah artikel di harian Kompas. Ia memberi judul artikelnya “Betapa Tak 
Menariknya Pemerintah sekarang ini”. Di situ, ia menumpahkan segala 
kegelisahannya terhadap pemerintahan baru: Orde Baru.

Soe Hok Gie, seorang pemuda kritis, juga optimis, tiba-tiba gelisah. Ia, yang 
hatinya sangat dekat dengan rakyat jelata, sehari-hari mendengar kabar tentang 
oknum militer yang menampar rakyat biasa, tentang ngebut anak-anak ‘penggede’, 
atau tentang penyelundupan yang dilindungi.

Meski begitu, Soe Hok Gie masih menutup artikelnya dengan optimisme. Antara 
idealisme dan kenyataan memang tak selamanya ‘klop’. 32 tahun kekuasaan rejim 
orde baru jauh lebih buruk dari yang dibayangkan oleh Gie: korupsi merajalela, 
penggusuran dimana-mana, pemilu selalu dimanipulasi, dan banyak lagi. Boleh 
jadi, seandainya Gie bisa melihat keseluruhan rejim orde baru, mungkin ia akan 
menulis dengan judul “Betapa Biadadnya Pemerintahan Sekarang Ini”.

Bagaimana pula kalau Soe Hok Gie sempat menyaksikan rejim sekarang? Kita sulit 
membayangkan responnya ketika mendengar kabar pembantaian rakyat di Mesuji, 
Bima, dan berbagai tempat lainnya. Selain itu, darahnya juga akan seketika 
mendidih saat mendengar kabar: pelajar SMU dipenjara karena soal sandal, nenek 
tua dipenjara karena tiga butir kakao, dan nasib dua pemuda difabel yang 
dipenjara lantaran sembilan tandan pisang.

Sementara itu, di gedung parlemen dan istana negara sana, banyak koruptor yang 
tak tersentuh proses hukum. Lihat pula proses persidangan para koruptor kakap 
di pengadilan yang seolah-seolah disengaja untuk “lamban”. Nanti, kalau rakyat 
sudah tidak menyimak kasus itu, hakim akan menjatuhkan vonis ringan.

Hidup di bawah rejim sekarang sungguh tidak enak, bahkan sangat menakutkan. 
Bayangkan, gara-gara berbeda cara dalam beribadah, anda bisa dianggap sebagai 
‘aliran sesat’ dan tempat ibadah anda akan dibakar. Nyawa anda pun bisa 
terancam. Akan tetapi, yang lebih tidak mengenakkan lagi adalah sikap abai 
pemerintah, seolah-olah peristiwa semacam itu ‘hal biasa’.

Soal kesejahteraan rakyat, apalagi, inilah yang paling buruk saat ini. Dulu 
sudah ada kaya dan miskin, tetapi jurangnya pemisahnya belum terlalu dalam. 
Sekarang, sejak pemerintah doyan menggunakan resep neoliberal, kesenjangan dan 
ketidakadilan ekonomi sungguh luar biasa. Bayangkan, kekayaan 43 ribu orang 
terkaya di Indonesia itu setara dengan kekayaan 140 juta penduduk.

Kekayaan alam kita, yang sejak dulu dikenal sangat melimpah, tidak menjadi 
senjata memakmurkan rakyat. Sebagian besar kekayaan alam itu, seperti minyak, 
gas, batubara, tembaga, emas, nikel, bauksit, dan lain-lain, sudah berpindah 
tangan ke sejumlah perusahaan asing. Bahkan, demi mempermudah proses penyerahan 
kekayaan alam itu kepada pihak asing, raja-raja kecil di daerah pun diberi 
lisensi bernama “Ijin Usaha Pertambangan”. Jadinya, seperti dikatakan orang, 
diperkirakan 90% dari keuntungan eksplorasi SDA itu diangkut keluar negeri, 
sedangkan 10% sisanya masuk ke kantong penguasa.

Sudah begitu, rejim saat ini sangat doyan berutang. Terakhir, posisi utang 
Indonesia per September 2011 adalah Rp1.733,64 triliun. Alhasil, karena 
dibebani pembayaran cicilan utang, APBN tiap tahun selalu “cekak”. Anggaran 
untuk pembangunan dan program kesejahteraan rakyat sangat minim: anggaran untuk 
belanja modal hanya 17,62%, sedangkan belanja sosial hanya 6,67%.

Lebih menyebalkan lagi, rejim sekarang suka bermain popularitas dengan gaya 
politik pencitraan. Perhatian terhadap rakyat korban bencana, misalnya, 
ditunjukkan dengan aksi ‘presiden pindah ngantor’. Perhatian presiden dengan 
soal seni budaya ditunjukkan dengan Presiden bermain gitar dan mengeluarkan 
album.

Presiden SBY terlalu banyak menebar pesona, tapi minim kerja konkret. Ketika 
kaum tani di berbagai daerah ditembaki oleh Polisi, presiden kita tak bisa 
berbuat apa-apa. Ketika anak-anak negeri  dipermainkan oleh hukum yang tak 
adil, Presiden juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak salah kemudian, ada orang 
yang mengatakan, “SBY orang yang berkuasa, tapi seolah tak punya kuasa.”

Seandainya Soe Hok Gie masih hidup dan melihat keadaan sekarang, entah judul 
apa yang diberikan kepada tulisannya. Pastinya, ia tidak cuma gelisah, tapi 
sangat marah dengan keadaan. Sehingga, judul tulisannya pun adalah ungkapan 
orang marah: “Betapa Buruknya Pemerintahan Sekarang!”

Baca Juga:
  a.. Ketika SBY Dipuja-puji 
  b.. Desentralisasi Neoliberal 
  c.. Kurtubi: Nilai Cadangan Migas Dan Batubara Indonesia Rp 56…
  a.. Absennya Keadilan 


 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke