Ref: Kalau pertumbuhan ekonomi yang didengung-dengung tak disalurankan 
keuntungannya untuk menciptakan dan memperluas lapangan kerja, maka tentu saja 
pengatasan pengangguran akan sulit menampung tenaga kerja yang bertambah tiap 
tahun.

http://www.shnews.co/detile-13387-belum-ada-solusi-jitu-atasi-pengangguran-.html

Belum Ada Solusi Jitu Atasi Pengangguran 
Caca Casriwan | Senin, 14 Januari 2013 - 13:40:32 WIB

: 88 




(dok/antara)
Pencari kerja mengisi formulir pendaftaran pada bursa lowongan kerja di Solo, 
Jawa Tengah, Jumat (14/12). 
Pemerintah harus mewaspadai arah dan tren ekonomi global yang terus berkembang.


Secara nyata, ancaman-ancaman dari dampak atas pelemahan ekonomi global telah 
dirasakan terhadap perekonomian nasional, terutama dirasakan di sektor 
perdagangan dan investasi pada 2012. 

Meskipun perekonomian Indonesia relatif berhasil memitigasinya, neraca 
perdagangan tetap mengalami defisit. Secara akumulatif Januari-November 2012, 
defisit Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) mencapai US$ 1,33 miliar dengan 
nilai impor mencapai US$ 176,09 miliar dan ekspor sebesar US$ 174,76 miliar. 

Patut dicurigai, kondisi tersebut masih berpeluang besar akan dirasakan pula 
pada 2013. Potensi ancaman krisis dunia masih tetap tinggi yang bersumber pada 
pemulihan krisis di zona Eropa dan pelemahan ekonomi Amerika Serikat akibat 
program pengetatan belanja publik dan kenaikan pajak. 

Ditambah lagi masalah lainnya di dalam negeri. Indonesia masih mengandalkan 
konsumsi dalam negeri untuk menggenjot pertumbuhan, karena kinerja ekspor tidak 
bisa diandalkan akibat permintaan global yang sedang turun. 

Dengan jumlah penduduk mencapai 240 juta jiwa, serta bertambahnya kelas 
menengah mencapai 7 juta per tahun, seharusnya tidak sulit bagi Indonesia untuk 
menggenjot konsumsi domestiknya. 

Dari sisi keseimbangan fiskal dan belajar dari krisis yang terjadi di zona 
Eropa, defisit anggaran dan utang menjadi perhatian kita semua. Pemerintah akan 
tetap menjaga proporsi defisit/PDB Indonesia tetap kita jaga pada rentan yang 
aman. Pemerintah dan DPR telah menyepakati defisit anggaran terhadap PDB pada 
2013 sebesar 1,65 persen dan di bawah rule of thumb standar aman sebesar 3 
persen. 

Sementara itu, rasio utang terhadap PDB berada pada level 25 persen. Proporsi 
ini perlu terus kita jaga dan pertahankan untuk menciptakan fundamental ekonomi 
yang semakin kuat; sekaligus juga sebagai antisipasi terhadap setiap 
external-shock kepada kesehatan belanja dan fiskal Indonesia pada 2013. 

Namun, dalam mengejar pertumbuhan di atas 6 persen, Indonesia dibayang-bayangi 
beberapa masalah, salah satunya pengangguran. Belum ada solusi jitu dalam 
mengatasi masalah pengangguran. Kadin memprediksi pengangguran terbuka pada 
tahun ini mencapai 6,32 persen atau hanya berkurang sedikit dibandingkan 2012 
(6,56 persen). 

Sementara itu, tingkat pengangguran terselubung melebihi 33,46 persen juga 
hanya berkurang sedikit dibandingkan pada 2012 (34,01 persen). Prediksi 
tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka tidak mengalami 
penurunan signifikan dan tetap tergolong paling tinggi di ASEAN. 

Masalah lainnya adalah alokasi subsidi BBM yang sangat besar, mencapai Rp 193,8 
triliun, atau 11,5 persen dari total belanja APBN 2013. Baru saja tahun 
anggaran 2013 berjalan, bahkan Menteri Keuangan Agus Martowardojo sudah 
memprediksi anggaran 2013 akan jebol sebesar Rp 70 triliun akibat subsidi BBM. 

Banyak kalangan termasuk pemerintah optimistis kondisi perekonomian Indonesia 
pada 2013 bisa lebih baik yang ditandai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 
2012 yang tetap terjaga di atas 6 persen. Meskipun demikian, kewaspadaan 
diperlukan mengingat ketidakpastian perekonomian global masih terus membayangi 
perekonomian nasional. 

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat setidaknya ada tiga sektor 
investasi terbesar yang akan masuk di pasar dalam negeri pada 2013 ini. Ketiga 
sektor tersebut adalah sektor consumer goods seperti makanan jadi dan restoran, 
sektor otomotif dan sektor energi. Akan ada banyak sektor lainnya yang 
berkembang dan mampu menarik perhatian para investor. 

Kepala BKPM Chatib Basri mengatakan, investasi di sektor consumer goods, 
otomotif serta energi bakal menjadi primadona dan diprediksi akan mengalami 
peningkatan yang signifikan di tahun ini, seiring dengan adanya kenaikan kelas 
menengah serta kebutuhan akan produk makanan yang masih besar. 

Chatib menambahkan sektor ketiga yang akan berkembang adalah sektor energi 
terutama yang bergerak di pembangkit listrik. Program listrik pemerintah 10.000 
megawatt (MW) menjadi acuan berkembangnya industri listrik atau energi dalam 
negeri. Banyak sektor lain yang akan berkembang seperti sektor pariwisata, 
tetapi yang terbesar tahun ini. 

“Sektor consumer good seperti produk makanan jadi dan restoran terus akan 
mengalami peningkatkan di Indonesia. Faktor utamanya adalah karena kelas 
menengah selalu naik yang mengakibatkan kebutuhan akan makanan masih besar," 
ujarnya dalam acara Diskusi Panel Kadin dengan Tema "Perekonomian Indonesia 
2013" dan Subtema "Perekonomian Global dan Pasar Domestik ASEAN" di Hotel JW 
Marriott, Jakarta, akhir pekan lalu. 

Optimisme sama juga diungkapkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, 
yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dapat mencapai 6,8 
persen; 33 persen di antaranya bakal disumbangkan oleh pertumbuhan investasi 
dalam negeri. Namun, turunnya tingkat ekspor akibat kondisi perekonomian global 
yang belum pulih, harus menjadi hal yang perlu diperhatikan pada 2013 ini. 

Hatta menyarankan dibangun pasar domestik yang menunjang perekonomian dalam 
negeri sehingga kebal terhadap guncangan ekonomi global. Lagi-lagi, dengan 
jumlah penduduk mencapai 240 juta jiwa akan menjadi penyelamat atas guncangan 
tersebut. 

"Pasar domestik akan menjadi penyelamat dengan tingginya konsumsi dalam negeri, 
ini yang akan dijadikan incaran pasar impor," Hatta menjelaskan. 

Ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan, memprediksi PDB Indonesia 2013 hanya 
mencapai 6,5 persen karena perekonomian dunia diperkirakan pulih. Sementara 
itu, tingkat inflasi rata-rata bisa dijaga di kisaran 4,6 persen karena belum 
ada indikasi perlambatan ekonomi yang cukup tajam. 

"Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi tetap kuat, sedangkan 
penjualan mobil fluktuatif, namun trennya tetap meningkat," ujar Fauzi. 

Melihat proyeksi stabilitas ekonomi itu, artinya pasar domestik Indonesia masih 
bisa diperkuat dan diperluas secara maksimal. Apalagi tingkat kelas menengah 
masyarakat Indonesia berdasarkan proyeksi penilaian pemerintah telah meningkat 
signifikan. Untuk itu, sektor yang bisa diperluas bagi pasar domestik adalah 
industri labor intensif, seperti industri pakaian jadi, tekstil, sepatu, mainan 
dan elektronik hilir. 

Menurutnya, Asia Timur dan Pasifik dan ASEAN-5 (Filipina, Indonesia, Malaysia, 
Thailand, dan Vietnam) masih menjadi penunjang pertumbuhan Asia sekaligus 
diharapkan sebagai penyangga efek krisis global. China, India, dan Indonesia 
masih menjadi motor bagi pertumbuhan ekonomi Asia. Kawasan Asia khususnya 
emerging Asia terus menunjukkan resiliensi pascatahun 2008. Laju ekonomi Asia 
pada 2012 masih berada di kisaran 6 persen tidak jauh berbeda dari 2011 yang 
tumbuh 5,9 persen. 

Ia melihat, laju pertumbuhan ekonomi Asia ini ditopang, khususnya negara 
China-India dan ASEAN yang secara agregat tumbuh di kisaran 6,4-6,6 persen. 
Perlambatan global yang terjadi sepanjang 2011-2012 juga memberi dampak 
perlambatan bagi ekonomi Asia, khususnya China yang hanya mampu tumbuh 7,6-7,8 
persen dan India tumbuh berkisar 6,0-6,2 persen pada 2012 atau melambat 
dibanding 2011 (China 9,2 persen dan India 6,5 persen). 

Fauzi mengatakan, proyeksi 2013, ekonomi Asia akan tumbuh di kisaran 5,9-6,3 
persen. Sebagian besar di antaranya disumbang oleh negara emerging Asia, 
seperti China, India, Indonesia, dan Thailand. Emerging Asia akan tumbuh 
sekitar 6,5-6,9 persen pada 2013. 

Selain konsumsi domestik dan arus investasi yang besar masuk ke emerging Asia, 
stimulus fiskal China juga akan menjadi katalisator ekonomi Asia pada 2013. Di 
Indonesia proyek pembangunan infrastruktur di samping investasi dan konsumsi 
akan menopang pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara. 

Dari sisi lainnya, pengamat ekonomi Unika Atmajaya, A Prasetyantoko menilai, 
proyeksi ekonomi 2013 akan berubah terutama dari sisi inflasi jika pemerintah 
salah mengambil kebijakan soal BBM. Inflasi bisa ditekan di kisaran 5-6 persen 
jika pemerintah belum mengurangi subsidi BBM. Tapi, kalau sampai menaikkan 
harga BBM, inflasi akan terkerek ke kisaran 6-7 persen. 

Namun, Prasetyantoko memastikan hal itu sulit dilakukan pemerintah melihat suhu 
politik tahun depan membuatnya harus berpikir banyak terutama dalam mengambil 
kebijakan yang tidak populis. Bank Indonesia memprediksi tingkat inflasi 
domestik tahun depan tidak akan tinggi, yakni hanya 4,5 persen plus minus 1 
persen. 

Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah sebelumnya menuturkan, dalam membuat 
prediksi ada tiga kategori yang menentukan, yaitu penaikan harga bahan bakar 
minyak (BBM) bersubsidi, tarif dasar listrik (TDL), dan upah buruh. Setiap 
penaikan sebesar Rp 1.000, inflasi hanya terkerek 0,3 persen. Penaikan TDL 15 
persen menyumbang inflasi 0,25-0,3 persen dan penaikan upah buruh memicu 
inflasi 0,2 persen. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke