Kisah Dari Arsip Berdebu: Tritura dan Angkatan 66

BETUL yang pernah ditulis Parakitri T. Simbolon –penulis dengan visi 
kebudayaan yang mendalam– di tahun 2006: “Apa yang pernah disebut 
Angkatan 66 praktis sudah dilupakan orang”. Meskipun, “Angkatan 66 pernah 
membahana di persada Tanah Air Indonesia”. Pejuang 
kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo, April 1966 dengan rendah hati mengakui bahwa 
Angkatan 66 lebih hebat daripada Angkatan 45.

Berbeda 
dengan Angkatan 45 yang berjuang dengan bedil, Angkatan 66 berjuang 
tidak dengan senapan, tapi dengan “keberanian, kecerdasan, kesadaran 
politik, motif yang murni”. Dengan semua itu Angkatan 66 “memberi arah 
baru pada sejarah nasional Indonesia”. Penamaan Angkatan 66 itu sendiri,
 diusulkan oleh Jenderal Abdul Harris Nasution kepada KAMI (Kesatuan 
Aksi Mahasiswa Indonesia) yang baru saja dibubarkan oleh KOGAM (Komandan
 Ganyang Malaysia) 26 Februari 1966. Kendati sejarah tentang peranan 
Angkatan 66, telah menjadi bagian dari arsip yang berdebu sejalan 
berlalunya waktu, tetap saja harus dicatat bahwa generasi  muda yang 
bergerak waktu itu adalah kelompok paling konseptual selain tokoh-tokoh 
kemerdekaan tahun 1945 sepanjang sejarah republik ini.

Generasi
 pergerakan berikutnya, memang juga berhasil menggebrak, khususnya 
sebagai ujung tombak di tahun 1998, sehingga terjadi perubahan 
kekuasaan, namun dengan cepat mereka dikandangkan oleh kekuatan politik 
yang ada. Salah satu penyebabnya, karena ketiadaan konsep tentang arah 
perubahan negara berikutnya. Sepenuhnya kendali politik dan benefit dari
 kejatuhan Soeharto akhirnya dinikmati oleh partai-partai politik 
–campuran dari partai masa Orde Baru yang memodifikasi diri, dan 
partai-partai baru dengan semangat dan corak ala kepartaian masa 
konstituante. Dan di tangan penikmat benefit kekuasaan pasca tumbangnya 
Soeharto –partai-partai politik maupun kelompok-kelompok tentara sisa 
Orde Baru– seperti yang bisa disaksikan sebagai fakta saat ini, 
Indonesia makin tergiring ke tepi jurang kegagalan negara.

Januari 1966, mahasiswa sebagai generasi muda, menurut sejarawan Anhar 
Gonggong, kembali tercatat dalam sejarah modern Indonesia, sebagaimana 
juga yang telah terjadi pada mahasiswa pendahulu-pendahulunya pada 
pergerakan nasional 1908-1945. Mahasiswa dalam kurun waktu itu disebut 
sebagai Angkatan 08 dan 28, yang dikaitkan dengan tahun 1908 dan 1928. 
Pada tahun 1966 disebutkan sebagai Angkatan 66. “Sebutan Angkatan 66 itu
 memiliki –setidaknya sampai tahun 1970-an– makna yang membanggakan, 
kalau tidak dapat disebut memiliki kekuatan kharismatis, karena dianggap
 ‘kumpulan hero’ yang meruntuhkan pemerintahan yang otoriter”.

Di awal-awal gerakannya, aktivis 1966 mengutamakan gerakan kritis 
terhadap kekuasaan Soekarno. Mahasiswa menjadi kekuatan utama yang 
menuntut Presiden Soekarno di-Mahmilub-kan dan diberhentikan dari 
kekuasaannya. Ketika Jenderal Soeharto ‘menampilkan’ sikap ‘mikul dhuwur
 mendhem jero’ terhadap Soekarno, mahasiswa mengecamnya. Setelah 
Soekarno diturunkan Maret 1967, pada masa-masa berikutnya banyak tokoh 
1966 terlibat dalam gerakan konseptual untuk pembaharuan kehidupan 
politik dan kehidupan bernegara. Pada tahun 1968-1969 misalnya, 
tokoh-tokoh 1966 dari Bandung bahkan terlibat dengan pencetusan gagasan 
perombakan struktur politik. Mereka menganggap, rezim baru di bawah 
Soeharto belum menuntaskan pembaharuan politik, karena sekedar 
mempertahankan struktur politik lama minus PKI. Sementara itu, sejumlah 
tokoh ex gerakan 1966 yang umumnya dari Jakarta, memilih bekerja bersama
 Soeharto dalam kekuasaan negara, dan ikut dalam perencanaan sejumlah 
konsep pembangunan, antara lain dalam setiap penyusunan GBHN 
(Garis-garis Besar Haluan Negara). Memang setelah lahirnya Super Semar 
(Surat Perintah 11 Maret 1966), ada semacam pembelahan di tubuh Angkatan
 66. Di satu sisi, mereka yang menempatkan diri sebagai pendukung utama 
Soeharto yang menganggap ‘perjuangan’ sudah selesai saat ‘kekuasaan 
sepenuhnya telah berada di tangan Jenderal Soeharto. Dan pada sisi yang 
lain adalah mereka yang menganggap bahwa peralihan kekuasaan tanggal 11 
Maret dan pembubaran PKI 12 Maret 1966, barulah awal dari suatu 
pembaharuan kehidupan politik.

Pada tanggal 10 Januari 1966, 
demonstrasi mahasiswa meletus di Jakarta, sebagai reaksi terhadap 
kenaikan harga-harga yang dipicu oleh kebijakan pemerintah menaikkan 
harga bensin. Per 3 Januari 1966 itu  harga bensin dinaikkan menjadi Rp.
 1000 per liter, padahal sebelumnya pemerintah telah menaikkan harga 
bensin menjadi Rp. 250 per liter pada 26 November 1965. Tetapi inflasi 
pada masa itu memang luar biasa. Ketika harga bensin naik, harga beras 
yang Rp. 1000 per liter terpicu menjadi Rp.3500 per liter.

Dalam demonstrasi 10 Januari 1966 itu mahasiswa melontarkan Tritura (Tri
 Tuntutan Rakyat), yang meliputi: Bubarkan PKI, Ritul Kabinet Dwikora 
dan Turunkan Harga. Tiga tuntutan itu, memiliki latar belakang keinginan
 pembaharuan politik, pembersihan pemerintahan dan solusi keadilan 
sosial-ekonomi bagi rakyat. Sejauh ini, hingga 47 tahun setelah 
dicetuskan, pokok persoalan yang dihadapi Indonesia, ternyata tak 
bergeser jauh. Kehidupan politik dengan sistem kepartaian yang korup, 
konspiratif dan berorientasi kepada pengejaran kekuasaan semata; sistem 
pemerintahan dan pengelolaan kekuasaan yang tidak efisien, tidak efektif
 dan korup penuh persekongkolan; beban berat dan ketidakadilan ekonomi 
bagi rakyat; merupakan pokok-pokok persoalan yang belum kunjung berhasil
 ditangani oleh rezim-rezim kekuasaan yang ganti berganti. Tugas 
generasi baru untuk menanganinya.

TERLEPAS dari pernah 
terjadinya berbagai pembelahan di tubuh kalangan pergerakan tahun 1966, 
mesti diakui bahwa pergerakan tersebut telah menjadi kancah tampilnya 
tokoh-tokoh muda yang handal secara kualitatif. Sikap altruisme juga 
masih menjadi faktor kuat dalam pergerakan tersebut. Ini melebihi 
pergerakan generasi muda berikutnya. Soeharto sendiri, semasa berkuasa 
berkali-kali menggunakan kemampuan tokoh-tokoh muda eks gerakan 1966 
itu, baik di lembaga legislatif maupun di lembaga eksekutif. Beberapa 
tokoh 1966 menjadi menteri yang berhasil, meski ada juga yang ternyata 
menjadi bagaikan ‘kacang yang lupa akan kulitnya’ karena mabuk oleh bius
 kekuasaan.

Pada umumnya, di masa Soeharto, nyaris tak ada 
menteri (atau pejabat di eselon lebih bawah) eks pergerakan 1966 yang 
terlibat korupsi ‘serius’. Meski kecenderungan tersebut bukannya tak 
dimiliki oleh beberapa tokoh ex 1966, khususnya yang berasal dari 
organisasi ekstra tertentu. Agaknya, memang susah ‘mencuri’ dalam rezim 
Soeharto, tanpa lisensi khusus sebagai pengumpul dana. Tetapi, sungguh 
menarik, beberapa tokoh dengan embel-embel label 1966 yang 
diikutsertakan dalam kabinet para Presiden pasca Soeharto, justru 
disebut-sebut dan bahkan ada di antaranya yang dihukum karena perkara 
korupsi. Namun bisa dicatat bahwa mereka yang disebut terakhir ini, 
tercatat hanya sebagai tokoh berkategori pinggiran dalam perjuangan 
1966.

Sewaktu rezim Soeharto masih berusia kurang dari satu 
dasawarsa, seringkali orang memproyeksikan kalangan tentara (ABRI) dan 
kalangan pergerakan 1966 sebagai sumber persediaan tokoh pemimpin 
nasional berikutnya. Tetapi ketika proses pemilihan presiden setiap 5 
tahun, hanya menghasilkan Soeharto dan Soeharto lagi sebagai Presiden, 
proyeksi semacam itu memudar dengan sendirinya. Terganti permainan 
wayang, dengan memunculkan sejumlah tokoh-tokoh militer sebagai calon 
pemimpin nasional berikutnya di arena rumor politik. Tokoh-tokoh itu, 
adalah para jenderal yang ada di lingkaran kekuasaan Soeharto. Nama 
tokoh 1966 tak pernah ada dalam lakon perwayangan ini, sampai saatnya 
uacapan Marzuki Darusman –bahwa karir tertinggi seorang anggota DPR 
sebagai politisi, adalah posisi Presiden– tampil mengusik.

Jadi, sebegitu jauh, tokoh eks pergerakan 1966, tak pernah tampil dalam 
gelanggang perebutan kursi Presiden. Barulah pada pasca Soeharto, 
beberapa nama tokoh 1966 sempat tampil dalam deretan calon Presiden di 
tingkat partai, namun sejauh ini tak terwujud. Hanya Jusuf Kalla, tokoh 
1966 dari daerah, yang pernah berhasil ‘coming from behind’ menjadi 
Wakil Presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Hingga kini, Jusuf 
yang bukan tokoh utama pergerakan 1966 ini, masih melanjutkan usahanya 
untuk menjadi Presiden. Tapi agaknya, 9 dari 10 kemungkinan, generasi 
pergerakan 1966 adalah generasi yang terloncati dalam konteks 
kepemimpinan nasional, karena ‘partner’ perjuangannya di tahun 1966 
telah terlalu lama ‘memborong’ kekuasaan negara. Meskipun, dalam jajaran
 Angkatan 1966 tersebut, terdapat sejumlah tokoh dengan kualitas 
Kepresidenan yang melebihi beberapa tokoh yang pernah ada dalam posisi 
tersebut.

Pada umumnya, tokoh-tokoh berlatar belakang 1966 yang
 mungkin saja bisa disebutkan di sini –seperti Jenderal Purnawirawan 
Endriartonio Sutarto (ex KAPI Bandung 1966), atau Sarwono Kusumaatmadja 
dan Marzuki Darusman sekedar sebagai contoh– tidak pernah berpikir 
memperkuat otot politik dan memenuhi pundi-pundi, yang merupakan syarat 
tak tertulis yang justru ‘penting’. Tapi dua nama yang disebutkan 
terakhir, memang tak pernah mencalonkan diri. Syarat tak tertulis ini 
justru dimiliki misalnya Abrurizal Bakrie –seorang tokoh junior yang 
sejenak mengikuti perjuangan 1966 di Bandung sebelum disekolahkan 
ayahanda ke luar negeri– atau tokoh-tokoh pasca 1966 seperti Prabowo 
Subianto dan Wiranto. Entah dengan Mahfud MD.

Mohon tulisan ini
 diterima sebagai suatu catatan ringan dari arsip yang telah berdebu 
dengan berjalannya waktu. Bukan kampanye, bukan pula provokasi.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke