Yang akan memanggil putra-purti tanah air pulang ke Indonesia bukan Pemerintah 
keturunan Orba yang tidak berbudaya dan biadab seperti sekarang ini dan 
seterusnya. Otak mereka cuma memikirkan uang dan korupsi karna uang dan korupsi 
adalah seluruh budaya mereka dan peradaban mereka. Yang akan memanggil semua 
orang Indonesia pulang kembali ke tanah airnya cumalah sebuah Pemerintah 
revolusioner yang telah berhasil mengulingkan Pememerintah borjuis kapitalis 
yang korup dan tak bermoral seperti sekarang ini. Harapan lain cumalah ilusi 
dan mimpi di siang bolong. Tentu berilusi tidak ada yang larang. Tapi berilusi 
jangan sampai dijadikan gerakan ini itu atau organisasi  macam-macam untuk 
mengemis belas kasihan penguasa yang berhati srigala. Kasihan rakyat yang tidak 
bersalah dilibatkan dan ahirnya akan diteror seperti peristiwa 65. Kalau bikin 
organisasi jangan mengatas namai korban 65, tidak ada hak untuk itu, jangan 
catut nasib korban 65, jangan jual nama korban 65, jangan jadikan organisasi 
korban 65 untuk menonjolkan diri, untuk menjadi kader sebagai jalan masuk ke 
gedung DPR dan memecah belah gerakan revolusioner rakyat Indonesia.
ASAHAN.

Pulang
Fransisca R. Susanti| Selasa, 01 Januari 2013 - 15:23:37 WIB
http://www.shnews.co/kolom/indonesiasurvive/detile-79-pulang.html

Dok/InPublic

Kapan Indonesia akan memanggil pulang anak-anaknya?

Bagi seorang yang tidak memecahkan tangis pertamanya di Indonesia, bagaimana 
memaknai pulang? Leila S. Chudori menggambarkannya lewat Lintang Utara. Seorang 
gadis yang dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, meski dilahirkan oleh 
perempuan Prancis.

Darah itu dialirkan oleh ayahnya, seorang lelaki yang “dipaksa” oleh 
hiruk-pikuk politik Indonesia di tahun 1965, untuk menetap di Paris.

Terbang ke Jakarta sebagai mahasiwa Sorbonne University yang harus 
menyelesaikan tugas akhirnya tentang film dokumenter kesaksian para korban dan 
pelaku 1965, Lintang justru masuk dalam pusaran gerakan Mei 1998. Jakarta 
hiruk-pikuk. Demonstrasi menolak Soeharto memanas. Tentara menembaki mahasiswa. 
Amuk massa membuat Jakarta centang perenang. Tapi Lintang justru menemukan 
cinta.

Lintang, sosok dalam novel “Pulang” Leila, memang hanya sebuah fiksi. Ia tak 
pernah sungguh-sungguh eksis. Tapi pergolakan yang dialami Dimas, ayah Lintang, 
adalah pergolakan yang dialami oleh setiap orang Indonesia yang dipaksa menjadi 
pelarian politik. Terinspirasi oleh kisah empat eksil yang mendirikan restoran 
Indonesia di Paris (Umar Said, Sobron Aidit, Budiman Sudharsono dan JJ Kusni), 
“Pulang” mencoba mengungkap kepedihan para eksil yang dipaksa pergi dari tanah 
lahirnya hanya karena sebuah pembenaran politik.

Selama bertahun-tahun, mereka hanya merindukan pulang, ke negeri dimana tangis 
pertama mereka pecah dan darah bayi mereka tumpah. Ke negeri dimana cinta 
pertama bertunas dan gairah muda terlepas.

Ingatan tentang Indonesia menetap. Dan jarak justru mengekalkannya.Waktu, 
tempat, keluarga, dan cinta yang baru sama sekali gagal mengeringkannya.

Saat rezim berganti dan pintu pulang terbuka untuk mereka, ironi lain justru 
muncul saat para intelektual yang belajar di luar negeri gamang kembali karena 
negara hanya bisa memberi janji, sementara para perempuan dan laki-laki desa 
berbondong-bondong meninggalkan keluarga karena negara tak cukup menyediakan 
lapangan kerja. Sudah pupuskah cinta?

Di negeri-negeri yang jauh itu, Anda akan mendengar bahwa cinta itu ternyata 
tak pernah pupus. Kecewa mungkin, patah hati bisa jadi. Tapi cinta tak pernah 
sungguh-sungguh pergi. Saat hiruk-pikuk berhenti, sunyi menghisap seluruh 
dendam dan sakit hati. Yang tersisa kemudian adalah kerinduan untuk bisa 
kembali. Tapi siapa peduli?

Di China, Deng Xiaoping peduli. Ia tahu bahwa China tak bisa dibangun hanya 
dari revolusi, tapi juga teknologi dan para hoakiau yang selalu memandang 
dengan penuh rindu ke tanah lahir meski berada di negari-negeri asing.

Maka dikirimlah ribuan pemuda ke luar negeri, dan disiapkannya segenap 
infrastruktur agar ilmu yang mereka serap di negeri asing segera bisa 
diimplementasi saat negara memanggil mereka kembali. Juga disiapkan kebijakan 
“ramah investasi” sebagai “jalan pulang” bagi para imigran yang telah menjadi 
kaya di luar negeri, tapi selalu menatap dengan rindu negeri sendiri. Deng, 
juga Zhu Rongji, dan sejumlah pemimpin China lainnya, dengan tekun bahkan pergi 
sendiri ke negeri-negeri asing tersebut, membujuk anak-anak negeri untuk 
kembali karena negara membutuhkan mereka.

Di tahun 1996, Kementerian Pendidikan China bahkan memulai upaya mendanai para 
intelektual terbaik mereka yang ada di luar negeri agar bisa “menyumbang” 
keilmuannya dalam kunjungan-kunjungan singkat mereka ke China. Sebanyak 12.000 
individu dan 200 kelompok sarjana menjadi angkatan pertama yang “dirangkul” 
China pada tahun 1996.

Rangkulan ini berdampak panjang. Sejumlah intelektual itu kemudian memutuskan 
pulang ke Tanah Air selamanya. Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Wan Gang 
adalah salah satu orang yang memilih pulang tersebut. Sebelumnya ia adalah 
anggota tim riset otomatif Jerman. Ia saat ini merupakan satu dari dua anggota 
kabinet China yang bukan berasal dari Partai Komunis.

India juga melakukan hal serupa. Negara memanggil pulang intelektual terbaik 
mereka di luar negeri agar bisa bersama membangun Tanah Air.

Di tengah dunia yang telah bergerak menjadi desa global ini, kerinduan terhadap 
“akar” ternyata tak bisa hilang. Dan China dan India tahu persis bagaimana 
merawat akar ini dari para diaspora mereka. Bagaimana Indonesia?

Juli lalu, bertempat di Los Angeles, sebuah pertemuan diaspora Indonesia 
digelar. Sebuah kerinduan untuk memberi sesuatu pada Tanah Air muncul sebagai 
sebuah kesadaran kolektif.

Namun sebesar-besarnya cinta tak akan punya daya jika tak bersambut. 
Sebesar-besarnya cinta tak akan punya kekuatan pengubah jika onak yang memenuhi 
jalan pulang tak juga dibersihkan.

Habibie, sang jenius yang begitu dikagumi di Jerman, menemukan bahwa cintanya 
pada Tanah Air bertepuk sebelah tangan. Mimpi besarnya untuk membangun industri 
dirgantara, dengan membangun pesawat N-250, pesawat baling-baling yang paling 
memungkinkan untuk menghubungkan wilayah kepulauan, harus berhenti di tengah 
jalan.

Habibie bisa jadi tak bisa dipatahkan. Inisiatifnya untuk kembali membangun 
industri dirgantara saat ini dengan menggandeng PT Dirgantara Indonesia 
menunjukkan bahwa cintanya menolak menyerah. Namun jika negara tetap tak 
memiliki grand design pembangunan yang jelas maka kita semua harus siap sekadar 
menikmati cinta platonis.

(Sinar Harapan)

Kirim email ke