http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/01/16/1/123081//Emha%20Ainun%20Nadjib:%20Indonesia%20Dirampok%20Elite%20Politik
Emha Ainun Nadjib: Indonesia Dirampok Elite Politik Rabu, 16 Januari 2013 | 01:51 WIB ANTARA/Noveradika Metrotvnews.com, Jakarta: Budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun melihat kondisi Indonesia saat ini kerap dirampok, tak hanya oleh bangsa asing, namun juga elite politik. Hal itu disebabkan sejumlah hal, antara lain rendahnya moral pengelolaan negara, rendahnya kinerja pemerintah serta kemerosotan mental pejabatnya. Pendapat itu disampaikan Cak Nun saat peluncuran buku 'Menjalin Kembali Nusantara' sekaligus 'Peringatan Malapetaka 15 Januari (Malari)' di Jakarta, Selasa (15/1). "Filosofi kebangsaan dan konstitusi kenegaraannya pun semakin tak jelas. Hal- hal seperti itu dapat memicu revolusi radikal anarkis,"cetusnya. Cak Nun melanjutkan, revolusi tak melulu lekat dengab kekerasan. Ia memetakan lima jalab revolusi yang dapat diambil untuk menyelamatkan Indonesia. Pertama, menganulir pasal-pasal yang antirakyat dan mengkhianati prinsip nasonalisme. Kedua, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil tindakan revolusiner mengacu pada Hayam Wuruk yang membatasi wewenang sebagai kepala negara. Ketiga, lanjut dia, memaksimalkan peran media massa. Budayawan ini berpendapat bahwa alat produksi sejarah primer ada di genggaman tangan media massa. "Tokoh-tokoh pers seperti Surya Paloh, Jacob Oetama, Dahlan Iskan, dan lainnya direvolusi seradikal mungkin menuju Indonesia baru dan adil serta disukai Tuhan," ujarnya berkelakar. Kemudian yang keempat adalah melakukan mosi tak percaya kepadan pemerintah serta memboikot Pemilu 2014. "Kelima, santet atau bunuh diri massal." Acara ini dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti Akbar Tandjung, Try Sutrisno, dan Adnan Buyung Nasution. Hariman Siregar membuka acara dengan menyampaikan orasi politik. Menurut aktivis senior itu, telah terjadi defisit demokrasi di Indonesia. Kemajuan angka-angka ekonomi malah tidak dirasakan manfaatnya oleh rakyat miskin. Hariman mengajukan revolusi sebagai jalan perubahan. Perubahan melalui prosedur sistem yang ada akan membawa perubahan semu. "Rakyat jangan alergi dengan kata revolusi. Revolusi itu demi perubahan nyata nasib rakyat kecil," katanya. Hariman menilai Indonesia sekarang menjadi satu negara, dua bangsa. Satu persen pemilik modal, dan 99 persen sisanya adalah kuli. Setelah 13 tahun reformasi, lanjut Hariman, tidak terjadi perubahan ke arah positif. Bahkan belakangan, Indonesia mengalami krisis kepemimpinnan. Demokrasi pun malah membawa keterpurukan, alih-alih mengasilkan kesejahteraan. "Ini krisis leadership. Sangat sukar terpilih pemimpin yang membawa kita keluar dari tantangan. Hampir semua dijadikan transaksi jabatan dan transaksi uang," cetusnya. (Rudy Polycarpus/OL-2) [Non-text portions of this message have been removed]
