http://www.equator-news.com/patroli/20130116/diculik-dijual-ke-malaysia

Rabu, 16 Januari 2013 
Diculik, Dijual ke Malaysia 
12 Tahun Dipekerjakan di Diskotek, Pulang Membawa Bayi
Pontianak – Sambil menggendong bayinya Viobika Ramadhani yang baru berumur 
seminggu, Wida, 24, memeluk kedua orang tuanya Tayep, 55, dan Julaeha, 48. 
Wanita tersebut diantar oleh rombongan Kementerian Sosial dan Yayasan Nanda 
Dian Nusantara (YNDN) di kediaman mereka, Kompleks Korpri Blok M Nomor 228, 
Kubu Raya, Selasa (15/1).

Puas sudah Wida menjalani siksaan serta melayani nafsu pria hidung belang di 
Malaysia. Wanita ini merupakan korban penculikan dan penjualan orang 
(trafficking). Pada umur 12 tahun, saat itu masih kelas enam SD, Wida diculik 
Wati, wanita yang mengontrak tak jauh dari rumahnya pada 2003 silam. Wida 
diculik ketika pulang sekolah bersama dua temannya yang juga perempuan. Wida 
lama disekap oleh Wati, hingga akhirnya dijual ke Kuala Lumpur dan dipekerjakan 
sebagai wanita pemuas nafsu di Diskotek Kepong Selangor.

Berdasarkan investigasi YNDN, Wida dibawa ke Malaysia oleh Wati melalui PPLB 
Entikong Sanggau. Setelah sampai di Kuching, Wida diterbangkan ke Kuala Lumpur 
dan dipekerjakan di diskotek daerah Kepong Selangor.

“Selama 12 tahun kehilangan kontak dengan keluarga. Karena tidak tahan dengan 
siksaan akhirnya melarikan diri dalam kondisi hamil lima bulan dan ditangkap 
PDRM, kemudian diserahkan ke KBRI,” kata Devie Tiomana, Direktur YNDN Kalbar.

Pada Juli 2012, Wida dipulangkan melalui Tanjung Pinang dan dikirim ke Jakarta. 
Pada 18 Desember 2012, wanita tersebut dirujuk ke RPSA Bambu Apus Kemensos RI 
dan mendapatkan layanan rehabilitasi sosial, medis, psikis, dan psikososial.

Setelah melalui pembahasan bersama Tim Profesi di RPSA Bambu Apus, pada 8 
Januari 2013 diputuskan Wida dipulangkan dan dipertemukan dengan keluarganya. 
“Kondisi korban baik, begitu juga dengan bayinya,” ujar Devi.

Direktur Kesejahteraan Sosial Anak Kementerian Sosial Republik Indonesia Drs 
Bambang Mulyadi MSi mengharapkan Dinas Sosial Kalbar maupun Kubu Raya membantu 
dan menindaklanjuti apa-apa saja yang perlu Wida setelah dipertemukan dengan 
keluarganya. “Saya yakin pihak keluarga sama sekali tidak mengira anaknya yang 
sudah hilang bisa pulang dalam keadaan selamat dan sehat,” ungkap Bambang.

Agar kejadian itu tidak terulang kembali, Bambang mengimbau masyarakat agar 
tidak mudah terbujuk oleh iming-iming dari orang yang belum dikenal. Terutama 
anak-anak.

“Aparatur pemerintah juga harus lebih cermat mengeluarkan identitas diri, 
seperti KTP. Tidak cukup hanya melihat lampiran data untuk membuat KTP. Tetapi 
harus mengecek ke kelurahan atau desa melalui RT setempat. Agar tidak muncul 
dokumentasi yang bermasalah,” tegas Bambang.

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani Kementerian Sosial 
selama tiga tahun terakhir cukup banyak. Pada 2010 111 kasus dan 2011 menangani 
102 kasus. Sedangkan pada 2012 menurun 79 kasus. Jumlah kasus ini tidak 
semuanya trafficking. Namun 30-40 persen adalah kasus trafficking. “Dari 79 
kasus itu terdiri dari penelantaran, anak dibuang, dan banyak lagi,” jelas 
Bambang. (sul)



Terkait
  a.. Perdagangan Orang, dari TKW hingga Bayi 
  b.. Kasus Perdagangan Manusia Meningkat


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke