http://www.shnews.co/detile-13341-kemampuan-bayar-utang-pemerintah-menurun.html

Kemampuan Bayar Utang Pemerintah Menurun 
Faisal Rachman | Sabtu, 12 Januari 2013 - 11:37:41 WIB

: 147 



(dok/ist)

Dengan beban subsidi yang meningkat neraca keseimbangan negatif.


JAKARTA – Realisasi keseimbangan primer tercatat negatif pada 2012 sebesar Rp 
45,5 triliun. Ini dapat diartikan kemampuan pemerintah membayar utang terlihat 
berkurang. Kepala Ekonom Dana Reksa Reserch Institute Purbaya Yudhi Sadewa 
mengatakan, keseimbangan primer yang negatif ini menandakan kemampuan 
pemerintah dalam membayar utang mulai menurun. 

Padahal sejatinya, melihat realisasi anggaran saat ini yang cukup lemah dan 
anggaran yang ada tidak akan terserap dengan cepat, masih ada kemungkinan bagi 
neraca keseimbangan primer untuk surplus. 

“Selama ini realisasi tidak pernah negatif, tapi kalau memang negatif ini 
menggambarkan APBN agak tertekan sisi kesinambungannya, jadi besar pasak 
daripada tiang,” kata Purbaya di Jakarta, Jumat (11/1). 

Kesimbangan primer bisa diartikan sebagai kemampuan APBN dalam melakukan 
kewajiban-kewajibannya, seperti pembayaran bunga utang. Dalam struktur APBN 
2012, pembayaran bunga utang sejatinya alokasinya relatif tidak besar atau 
sekitar Rp 100,5 triliun. Namun dengan beban subsidi yang meningkat, ditambah 
dengan kondisi perekonomian global yang tidak stabil, neraca keseimbangan 
menjadi negatif. 

Kepala Kebijakan APBN, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Rofiyanto 
Kurniawan mengakui negatifnya keseimbangan primer saat ini terjadi lantaran 
subsidi bahan bakar minyak (BBM) meleset dari target. “Ini sesuatu yang mesti 
kita waspadai. Kan selama ini keseimbangan primer kita positif. Karena sekarang 
negatif kita harus waspadai jadi dalam me-manage subsidi ini harus lebih 
hati-hati di tahun 2013,” ujarnya. 

Berdasarkan data Kementerian Keuangan dalam lima tahun ke belakang Indonesia 
tidak pernah mengalami negatif keseimbangan primer. Pada 2007 keseimbangan 
primer mengalami surplus Rp 29,962 triliun, kemudian 2008 mengalami surplus Rp 
84,308 triliun. Pada 2009 keseimbangan primer mengalami surplus Rp 5,16 triliun 
dan pada 2010 surplus Rp 41,537 triliun. Adapun pada 2011 terjadi surplus Rp 
8,86 triliun. 

Jika melihat dari kebijakan negatif anggaran, lanjutnya, sebenarnya besaran 
keseimbangan primer masih berada di bawah ketetapan undang-undang yang dibatasi 
3 persen, bahkan saat ini realisasi negatif 1,65 persen sehingga memperlihatkan 
kondisi fiskal yang sudah cukup sehat. Bahkan jika dibanding catatan negatif di 
negara-negara Eropa yang mengalami negatif sebesar 8-9 persen atau negara 
tetangga yang negatif mencapai 6 persen. 

"Kemampuan pendapatan kita membayar utang relatif terjaga, sedangkan membayar 
bunga kita tidak besar dibandingkan subsidi hanya sepertiga atau seperempatnya. 
Kalau melakukan subsidi yang tepat sasaran maka primary balance akan kembali 
positif,” tuturnya. 

Pada 2012 realisasi subsidi energi sebesar Rp 306,5 triliun atau 151,5 persen 
dari target. Rinciannya, untuk subsidi BBM, LPG, dan Bahan Bakar Nabati Rp 
211,9 triliun atau 154,2 persen dan subsidi listrik Rp 94,6 triliun atau 145,6 
persen. 

Dari sisi kewajiban, hingga 2012, pemerintah telah menggelontorkan dana Rp 
240,508 triliun untuk membayar cicilan utang serta bunganya. Angka ini mencapai 
76,38 persen dari target pada APBN-Perubahan sebesar Rp 314,890 triliun. 

Dari jumlah itu, pelunasan pokok utang Rp 149,233 triliun atau 75,71 persen 
dari pagu APBN-Perubahan Rp 197,104 triliun.Pelunasan pokok utang tersebut 
terdiri dari pelunasan pinjaman Rp 42,247 triliun, yang terdiri dari pinjaman 
luar negeri Rp 43,177 triliun dan pinjaman dalam negeri Rp 71 miliar. 

Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan dana Rp 105,986 triliun untuk membayar 
pokok utang Surat Berharga Negara (SBN) denominasi rupiah, yang terdiri dari 
Surat Utang Negara (SUN) Rp 105,986 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara 
(SBSN) alias Sukuk Rp 11,562 triliun. "Jumlah pembayaran ini bisa lebih rendah 
karena ada penurunan yield," klaim Robert Pakpahan, Plt Dirjen Pengelolaan 
Utang Kemenkeu. 

Sebenarnya, tidak ada angka ideal untuk keseimbangan primer, namun dalam 
melihat kesehatan fiskal, sambungnya, bukan hanya melihat dari neraca 
keseimbangan primer, tetapi juga current account negatif yang mengartikan 
pendapatan dikurangi belanja operasional. 

“Kalau lihat pendapatan kita dikurangi current account kita masih positif, 
sebenarnya kita masih sehat, tapi subsidi harus diwaspadai. Kalau misalnya 
beberapa indikator lain juga ke arah negatif, itu harus diwaspadai,” ujar 
Rofianto. 

Sumber : Sinar Harapan

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke