http://arrahmah.com/read/2013/01/13/26089-setelah-kekuasaan-assad-tumbang-mujahidin-akan-terapkan-syariah-islam-di-suriah.html


Setelah kekuasaan Assad tumbang, Mujahidin akan terapkan syariah Islam di Suriah
Hanin Mazaya

Ahad, 13 Januari 2013 06:51:13

 
Berkerumun di sekitar gedung yang terbakar setelah dibombardir oleh rezim Assad 
di Aleppo, Mujahidin asing (dari luar negara-red) yang berjuang bersama dengan 
Mujahidin setempat mengatakan mereka berperang untuk mendirikan sebuah negara 
Islam di Suriah.

Di antara rekan-rekan revolusioner dan warga sipil, para pejuang asing ini 
dihormati karena kedisiplinan mereka dan jika Assad jatuh, mereka mungkin akan 
menyelesaikan perjuangan untuk kekhilafahan Islam.

Seorang Mujahid asal Turki di distrik Karm al-Jabal, Aleppo menyatakan tekad 
untuk mencapai terbentuknya sebuah negara di bawah hukum Islam di mana 
negara-negara Barat sangat mengkhawatirkan hal ini.

"Suriah akan menjadi negara Islam dan Syariah ditegakkan dan kami tidak akan 
menerima apa-apa lagi.  Demokrasi dan sekulerisme telah benar-benar ditolak," 
ujarnya yang menyebut dirinya Khattab seperti dilansir Reuters. 

Memakai pakaian sporty dengan jenggot panjang dan membawa AK-47 di bahunya, ia 
memperingatkan siapa saja yang mungkin menghalangi.  "Kami akan melawan mereka, 
bahkan jika mereka adalah salah satu kaum revolusioner atau siapapun," ujar 
Khattab, yang meninggalkan pekerjaannya sebagai supir untuk berperang di 
Afghanistan selama dua tahun dan kemudian pindah ke Suriah sejak enam bulan 
lalu.

Seorang anggota dari unit Jundullah, Khattab memiliki sedikit pengetahuan 
tentang bahasa Arab, ia berbicara di puing-puing gedung dengan penerjemah 
Suriah dan menolak untuk difoto atau difilmkan karena takut diidentifikasi saat 
kembali ke Turki.

Amerika Serikat telah menetapkan kelompok Jabhah an-Nushrah sebagai organisasi 
"teroris" pada bulan Desember lalu dan menyatakan bahwa kelompok tersebut 
terkait dengan Al Qaeda.  Namun penduduk setempat dan bahkan warga Palestina 
serta Muslim di seluruh dunia menyatakan dukungannya terhadap kelompok ini.

Di Aleppo, kota terbesar di Suriah, pengaruh kelompok ini sangat terasa.  
Banyak Mujahid yang berlalu-lalang melintasi jalan-jalan yang hancur dengan 
mobil yang dihiasi bendera Islam hitam.

Mujahidin juga tak jarang bekerjasama dengan unit FSA di mana banyak anggota 
FSA memuji keterampilan tempur Mujahidin-telah terasah di Afghanistan dan 
Irak-dengan mengatakan mereka adalah salah satu pejuang paling berani meskipun 
cenderung tertutup.  Meskipun sebenarnya banyak di antara anggota Jabhah 
an-Nushrah merupakan Mujahid pemula yang sebelumnya belum pernah terjun di 
medan Jihad manapun.

Salah satunya adalah Abu al-Harits, seorang pemuda dengan tubuh kekar berusia 
27 tahun dari Azerbaijan yang berbicara di sebuah pangkalan di Karm al-Jabal, 
Aleppo.

"Ini adalah pertama kalinya saya memulai Jihad, karena tidak ada yang lebih 
buruk daripada Bashar.  Bahkan Stalin masih memiliki belas kasihan dibanding 
dengan dia (Assad)," ujarnya yang mengenakan topeng dan seragam militer 
berwarna hijau dengan emblem bendera Islam berwarna hitam di lengannya.

Kekhawatiran terhadap para Mujahid setelah jatuhnya Assad karena menolak negara 
demokrasi di masa depan semakin menjadi di kalangan Barat dan petinggi FSA 
sekuler.

Beberapa Jihadis menyatakan ketidakpercayaan terhadap FSA dan beberapa 
petingginya.  Karena mereka memiliki sedikit perbedaan dengan Barat dan 
negeri-negeri Islam yang mendukung FSA.

"Semua berbicara tentang kebebasan, demokrasi dan negara sekuler dan keadaan 
kebebasan terbuka seperti sistem Amerika dan Eropa, Islam tidak dipedulikan 
sama sekali," ujar Abu Muawiyah (25), seorang Mujahid bertubuh kurus yang 
mengatakan ia berasal dari pedesaan Aleppo.

"Adabeberapa kelompok yang berperang seperti FSA, yang memiliki hubungan ke 
negara lain seperti Turki, Arab Saudi dan Qatar dan negara-negara ini memiliki 
hubungan dengan Amerika Serikat," ujarnya.  "Amerika akan melawan kelompok 
Islam.  Itu jelas bagi semua orang."

Tujuan yang sama

Sementara Washington telah membentuk Koalisi Nasional dan menyatakan sebagai 
satu-satunya wakil rakyat Suriah yang "sah", penunjukkan fron an-Nushrah 
sebagai organisasi "teroris" telah membuat marah banyak pemimpin faksi 
pemberontakan.  Mereka mengatakan walaupun berbeda ideologi, tetapi mereka 
melawan musuh yang sama.

Front an-Nushrah memiliki reputasi kedisiplinan yang terkenal dan sangat sulit 
menemukan orang yang akan mengkritik hal itu.  Abu Abdo, seorang pejuang di 
garis depan di Aleppo, mengatakan ia telah mencoba bergabung dengan kelompok 
itu, namun ditolak karena dirinya seorang perokok.

Kolonel Abduljabbar Oqaidi, yang memimpin dewan militer revolusionel di Aleppo 
juga membela an-Nushrah.  "Kami mungkin berbeda pemikiran dengan mereka," 
ujarnya kepada Reuters.

"Mereka sengit dan lotal dan hingga hari terakhir mereka melawan rezim bersama 
kami, kami belum melihat 'ekstrimisme' mereka.  Mereka tidak melakukan sesuatu 
yang membuktikan mereka adalah teroris," ujarnya.  "Siapapun yang berperang 
melawan reim adalah mujahid dan seorang revolusioner dan kami mencium dahi 
mereka," lanjutnya.

Sebaliknya, dukungan terhadap FSA terus mengikis di Aleppo karena beberapa 
kasus penjarahan.

"Unit terbersih di lapangan, dengan tidak adanya korupsi di jajarannya adalah 
Front an-Nushrah.  Kelompok ini kini memiliki basis yang populer.  Mungkin 
ideologi mereka jauh dari rakyat, tapi rakyat menyukasi an-Nushrah," ujar Abu 
Ahmed yang memimpin unit Brigade al-Tawheed di Aleppo.

"Ketakutan terhadap an-Nushrah terjadi karena intimidasi media," katanya. 
(haninmazaya/arrahmah.com)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke