Ref: Benar atau tidak benar Jakarta akan tenggelam, tunggu saja tanggal mainnya.

http://www.analisadaily.com/news/read/2013/01/21/101844/benarkah_jakarta_akan_tenggelam/#.UP0GSmc822Q

      Benarkah Jakarta Akan Tenggelam ? 
      Oleh: Yati Nurhayati,SH. 


      Diperkirakan Jakarta akan tenggelam pada taun 2050, begitulah kabar yang 
simpang-siur terdengar. Benarkah kabar tersebut - sebenarnya kabar tersbut 
sudah lama menjadi perbincangan luas dan keprihatinan bersama di kalangan 
pemerhati lingkungan. Namun demikian, perbincangan dan keprihatinan itu timbul 
tenggelam karena desakan dan daya tarik pertumbuhan ekonomi di Jakarta.
      Tim dari Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang 
melakukan kajian subsidensi permukaan tanah di 23 titik di sekitar Jakarta 
menyimpulkan, penurunan permukaan tanah bervariasi, 2 sentimeter hingga lebih 
dari 12 cm selama 10 tahun sejak 1997 hingga 2007.

      Hasanuddin Z Abidin, salah seorang peneliti, menyatakan, sebagian besar 
kawasan barat hingga utara Jakarta mengalami penurunan tanah antara 5 cm dan 12 
cm. Adapun wilayah tengah hingga timur penurunan tanahnya hingga 5 cm. 
Penurunan kawasan timur laut hingga selatan berkisar 2-4 cm.

      Penurunan permukaan tanah juga menciptakan kawasan-kawasan cekung yang 
lebih cepat tergenang saat banjir.

      Sebagian kawasan Pademangan, Jakarta Utara, yang beberapa tahun lalu 
nyaman dilalui, misalnya, kini menjadi langganan rob saat air laut pasang. 
Kawasan wisata Ancol Taman Impian yang beberapa tahun lalu lebih tinggi 
daripada permukaan laut kini harus membangun tanggul di sepanjang bibir pantai 
guna menahan air laut saat pasang. Tanggul pun harus rutin ditinggikan karena 
permukaan tanah terus turun.

      Data Dinas Pengembangan DKI Jakarta bahkan lebih mengerikan. Pada periode 
tahun 1982 hingga 1997 terjadi amblesan tanah di kawasan pusat Jakarta yang 
mencapai 60 cm hingga 80 cm. Karena merata, amblesan ini menjadi tidak terasa. 
Bila penurunan ini terus berlanjut, "tenggelamnya" Jakarta sudah di depan mata. 

      Setiap tahun 320 juta meter kubik air tanah disedot dari perut bumi 
Jakarta. Padahal, berdasarkan sebuah studi lingkungan yang luas, maksimal air 
yang bisa disedot dari wilayah DKJ Jaya hanya 38 juta meter kubik. Ini berarti 
tingkat penyedotan airnya hampir sepuluh kali lipat dari yang seharusnya.

      Dengan terus berkembangnya kota dan makin banyaknya bangunan yang 
berdiri, serta makin sedikitnya lahan terbuka hijau yang berfungsi sebagai 
daerah resapan air, kondisinya lebih parah lagi di masa depan. Sebab bukan 
hanya jumlah air yang disedot dari perut Jakarta makin besar, tapi juga air 
yang bias masuk ke dalam perut makin sedikit. Itulah sebabnya, makin lama 
permukaan tanah Jakarta makin cepat turun.

      Berdasarkan data yang dikemukakan Dr. Ali Firdaus, rata-rata penurunan 
permukaan tanah di Jakarta 10 sentimeter atau sepersepuluh meter tiap tahun. Di 
Jakarta Barat, misalnya, selama 11 tahun terakhir, permukaan tanah turun 1,2 
meter. Di wilayah Kemayoran dan Thamrin, Jakpus, penurunannya 80 sentimeter 
dalam delapan tahun terakhir.

      Yang pertama-tama perlu mendapat perhatian adalah, Jakarta sebetulnya 
merupakan kota air. Hal ini bisa dilihat dari aspek eco-geografisnya. Jakarta 
terletak di bawah Bopunjur (Bogor Puncak dan Cianjur) – sebuah kawasan yang 
mempunyai curah hujan tinggi dan menjadi asal muasal berbagai sungai yang 
mengalir ke wilayah Jakarta. 

      Karena itu, secara alami, di zaman dulu, Jakarta terkenal sebagai wilayah 
yang mempunyai banyak situ atau rawa. Sampai kini pun, daerah yang menggunakan 
nama "rawa" masih banyak sekali di Jakarta. Misalnya, rawajati, rawabokor, 
rawasari, rawa mangun, rawa buaya, dan lain-lain. Semua itu menunjukkan bahwa 
daerah bersangkutan memang dulunya adalah rawa. Di tahun 1960-an, di Jakarta 
masih ada ratusan rawa yang berfungi untuk menampung air hujan dan limpahan air 
dari Bopunjur. Rawa-rawa ini telah menyelamatkan Jakarta dari banjir besar, 
sekaligus penyuplai air tanah di sekitarnya.

      Kini rawa-rawa tersebut nyaris hilang. Untuk itu, Pemda DKI, seharusnya 
kembali menghidupan rawa-rawa tersebut. Bila perlu, membangun rawa yang baru 
karena di lokasi rawa yang lama sulit dibersihkan karena terlalu banyak 
penduduk dan pemukiman. Rawa umumnya berada di dataran rendah, karena itu 
pembangunan kembali rawa harus di lokasi yang rendah. Wilayah yang rendah untuk 
lahan terbuka hijau, sedangkan yang tinggi untuk pemukiman. Bila perlu di lahan 
terbuka hijau itu dibangun rawa-rawa baru, sehingga bisa menjadi penampung 
limpahan air, baik dari hujan maupun dari limpahan Bopunjur. Karakter geografis 
Jakarta yang seperti itu, sulit dirubah, kecuali Jakarta pindah lokasinya.

      Bung Karno dulu pernah berpikir akan memindah lokasi ibu kota Jakarta ke 
wilayah yang aman dari banjir. Sayang ide besar Bung Karno itu tak bisa 
diwujudkan oleh para pemimpin sesudahnya. Jakarta kembali menjadi ibu kota 
negara satu-satunya, sekaligus menjadi kota dagang terbesar di Indonesia. Dua 
status kota Jakarta inilah yang menjadikan pembangunan dan pembenahan Jakarta 
sulit berjalan bersama. 

      Di AS, misalnya, ibu kota negara adalah Washington. Kota dagang 
terbesarnya adalah New York. Sebagai ibu kota, Washington bisa dirapikan dan 
dibuat menjadi kota yang berkarakter sebagai ibu kota Negara. Banyak tanah 
lapang, banyak taman, banyak lahan terbuka hijau, dan nyaman. Sedangkan New 
York sebagai kota dagang dibangun sesuai karakter bisnis. Banyak gedung 
bertingkat dengan lahan yang sangat efisien dari aspek bisnis.

      Sekarang bagaimana Jakarta? Inilah sulitnya. Kedua ciri, baik sebagai ibu 
kota dan kota dagang, sudah terlanjur besar sehingga sulut dipisahkan. Dengan 
letak geografis Jakarta yang mau tak mau harus menerima banjir kiriman dari 
Bopunjur dan rob dari pantai utara, mestinya sejak dini, hal itu harus menjadi 
perhatian serius pemerintah daerah maupun pusat.

      Untuk sementara, yang perlu dipikirkan serius, bagaimana menyelamatkan 
Jakarta dari limpahan air Bopunjur. Jawabnya, itu tadi, harus menghidupkan 
kembali rawa-rawa yang mati dan membuat rawa baru di daerah yang permukaan 
tanahnya rendah. Kedua, membuat sejuta sumur resapan untuk menyerap air hujan 
yang melimpah di Jakarta. Jika membuat sumur resapan yang besar sulit, bisa 
diatasi dengan membuat biopori yang garis tengahnya 30 cm dengan kedalaman satu 
meter, asal jumlahnya banyak. 

      Biopori terbukti bisa menjadi sumur resapan mini yang cukup efektif 
menyerap air hujan. Setiap rumah tangga di Jakarta bisa membuat beberapa 
biopori di sekitar tempat tinggalnya. Ketiga, untuk mengatasi rob dan intrusi 
air laut, perlu digalakkan penanaman pohon mangrove di pantai utara Jakarta. 
Pohon mangrove disamping bisa mengatasi abrasi dan menahan gempuran ombak saat 
terjadi rob, juga bisa membuat Jakarta makin sejuk. Ini karena daya serap 
karbon dioksida pohon mangrove dua kali lipat dibanding pohon biasa.***

      Penulis, ibu rumah tangga Anggota Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis tinggal 
di Bandung.
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke