http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=319611
Akibat Banjir, Dunia Usaha Rugi Rp 1 Triliun Selasa, 22 Januari 2013 JAKARTA (Suara Karya): Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengatakan dunia usaha setidaknya rugi minimal Rp 1 triliun akibat banjir yang melanda ibu kota sejak (15/1) karena banyaknya pengiriman bahan baku yang tertunda. "Minimal kerugian Rp1 triliun dari berbagai macam industri terutama industri hulu, karena industri hilir kehabisan bahan baku," kata Sofjan Wanandi saat dihubungi di Jakarta, Selasa. Menurut Sofjan, estimasi kerugian tersebut belum termasuk laporan kerugian dari beberapa industri, seperti dunia perasuransian, mengingat banyak kendaraan dan korban akibat banjir. "Masih banyak industri yang belum melaporkan kerugian materinya, tapi industri retail kelihatannya yang terkena dampak paling besar," kata Sofjan. Ia juga mengatakan, dampak banjir tersebut juga mengganggu bisnis di kawasan Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP). "Saya dapat informasi bahwa dari sekitar 375 pabrik di JIEP lebih dari setengahnya terpaksa tutup karena buruhnya tidak masuk," ujarnya. Banjir yang melanda Jakarta membuat pengiriman bahan baku dari ibu kota menuju daerah-daerah industri tersendat, ditambah kapasitas listrik yang belum maksimal di sejumlah daerah, seperti kawasan Pulo Gadung, Tangerang dan Banten. Sofjan mengatakan bahwa aktivitas pengiriman barang dari industri hulu dimulai kembali sejak Senin (21/1), namun para pengusaha harus membayar ongkos pengiriman lebih mahal. Dengan naiknya ongkos kirim tersebut, dunia usaha mulai bimbang dengan kenaikan harga jual dari produksi mereka. "Semua naik, tapi kalau harga barang kami naikkan, apa ada yang mau beli, solusinya masih kami bicarakan," ujar Sofjan. Untuk itu, ia berharap agar bencana banjir dapat segera teratasi, sehingga semua pihak tidak semakin dirugikan. "Kami harap ada koordinasi dari pemerintah pusat dengan pemerintah daerah di Jakarta, Banten dan Tangerang, untuk menyelamatkan kota dari bencana banjir berikutnya," katanya. (*/Nunun/Antara) [Non-text portions of this message have been removed]
