http://www.analisadaily.com/news/read/2013/02/01/104370/potret_kemiskinan_indonesia/#.UQubIWc822Q

            Potret Kemiskinan Indonesia 
            Oleh: Desmon Silitonga. 


            Pada 2 Januari lalu, BPS mengumumkan profil kemiskinan Indonesia. 
Secara nasional jumlah orang miskin hingga bulan September 2012 tercatat 
sebanyak 28,59 juta orang (11,66 persen). Jumlah ini turun sebanyak 1,3 juta 
(0,7 persen) dibandingkan bulan September 2011 yang sebanyak 29,89 juta (12,36 
persen).
            Jika dilihat lebih detail lagi, hingga bulan September 2012, jumlah 
orang miskin di kota sebanyak 10,51 juta, berkurang 0,44 juta dari bulan 
September 2011 sebanyak 10,95 juta. Sementara jumlah orang miskin di desa 
hingga bulan September 2012 mencapai 18,08 juta atau turun sebanyak 0,86 juta 
dibandingkan bulan September 2011 sebanyak 18,94 juta. Mencermati data-data 
statistik ini tentu sebuah prestasi? Namun, dalam realitasnya benarkah 
demikian? Tunggu dulu.

            Oleh karena, data statistik BPS juga mengindikasikan bahwa indeks 
kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan malah naik sepanjang 
periode Maret 2012-September 2012. Indeks ini penting untuk melihat kualitas 
dari kehidupan orang miskin. Indeks kedalaman kemiskinan naik dari 1,88 bulan 
Maret 2012 menjadi 1,9 September 2012. 

            Indeks keparahan kemiskinan naik dari 0,47 Maret 2012 menjadi 0,48 
September 2012. Kenaikan ini menunjukkan bahwa tingkat pengeluaran orang miskin 
cenderung makin menjauhi garis kemiskinan dan sekaligus menunjukkan juga bahwa 
tingkat ketimpangan pengeluaran makin melebar. Indeks kedalaman kemiskinan dan 
Indeks keparahan kemiskinan terbesar ditemukan di desa. Indeks kedalaman 
kemiskinan di kota relatif stagnan, tetapi hal ini bisa meningkat dimasa depan.

            Statistik tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebijakan 
pembangunan ekonomi pemerintah belum secara efektif dan efisien dapat mendorong 
penurunan tingkat kemiskinan secara cepat dan sekaligus mendorong peningkatan 
kualitas hidup orang miskin. 

            Hal ini tentu secara jelas dapat dilihat dari pertama konsentrasi 
pembangunan yang masih terus difokuskan di sektor jasa yang sangat minim dalam 
menyediakan lapangan kerja dalam jumlah besar dan sekaligus membutuhkan tingkat 
skill yang tinggi dan spesifik.

            Tentu orang miskin tidak memiliki kemampuan skill yang tinggi, 
dimana mereka sebagian besar hanya menggantungkan kehidupannya pada sektor 
pertanian, kehutanan, perkebunan, perikanan, pengelolahan, dan penggalian yang 
justru pertumbuhannya sangat rendah, karena tidak mendapat dukungan dari 
pemerintah. 

            Kedua fokus pembangunan wilayah masih tetap terkonsentrasi di Pulau 
Jawa. Pulau Jawa menghasilkan kontribusi sekitar 57 persen terhadap ouput PDB. 
Sementara, wilayah lainnya (khususnya timur Indonesia) begitu minim. Jika tidak 
ada perubahan kebijakan pembangunan wilayah, maka penurunan kemiskinan akan 
tersendat. Sudah saatnya investasi didorong ke Wilayah timur Indonesia. 

            Tidak Tercermin

            Sejak Februari 2005-September 2012 (tujuh tahun lebih), penurunan 
tingkat kemiskinan Indonesia begitu sangat rendah hanya turun 4,13 persen, 
dimana pada Februari 2012 sebesar 15,87 persen dan menjadi 11,66 persen pada 
September 2012. Pencapaian pemerintah Indonesia untuk menurunkan tingkat 
kemiskinan sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan Vietnam yang dapat 
menurunkan tingkat kemiskinan hampir 60 persen dalam kurun 10 tahun (Saparini, 
2013). 

            Realitas ini tentu tidak mencerminkan prestasi pertumbuhan ekonomi 
Indonesia yang sangat baik, dimana mampu tumbuh rata-rata 5 persen-6 persen dan 
tetap dapat tumbuh positif ditengah perlambatan ekonomi global. Indonesia 
banyak menuai pujian positif dari pencapaian kinerja ekonomi tersebut. Majalah 
The Economist (10/11/2012) menempatkan Indonesia sebagai negara di Asia yang 
akan tetap menikmati pertumbuhan tinggi (great moderation) dikala banyak negara 
mengalami kemerosotan. 

            Laporan tengah merosotnya pertumbuhan negara maju. Laporan McKinsey 
Global Institute memproyeksikan tahun 2030 ekonomi Indonesia akan berada di 
posisi 7 dunia menggeser Inggris dan Jerman. Dan, Jim O’ Niel menempatkan 
Indonesia bersama Mexico, Turki, Korea Selatan (MITS) akan menjadi pilar 
kekuatan ekonomi global di masa depan yang akan diminati banyak investor global 
dan bahkan berpotensi menggeser posisi BRIC (Brazil, Rusia, India, China).

            Sayangnya, kinerja ekonomi yang sangat baik tersebut tidak mampu 
membuat kehidupan dan kualitas hidup orang miskin menjadi lebih baik. 
Ironisnya, pertumbuhan ekonomi yang baik tersebut hanya dinikmati dan 
menguntungkan segelintir orang, khususnya yang memiliki akses kepada kekuasaan 
sebagai pemburu rente. Pemerataan hanyalah jargon yang tidak akan pernah 
terealisasi. Orang kaya makin kaya dan orang miskin makin melarat. Hal ini 
dapat dilihat dari rasio gini yang terus cenderung melebar yang telah mencapai 
0,41 pada tahun 2011. Pemerintah pun tidak memiliki strategi khusus untuk 
menyempitkan jurang ketimpangan ini. 

            Anggaran Tidak Berpihak

            Minimnya akselerasi untuk menurunkan tingkat kemiskinan menunjukkan 
bahwa belum ada kesungguhan dan keberpihakan pemerintah. Ini harus jujur 
diakui. Salah satu bentuk ketidakberpihakan pemerintah untuk menurunkan 
kemiskinan dapat dilihat dari politik anggaran (APBN). Meskipun nominal APBN 
terus meningkat setiap tahunnya dan telah mencapai Rp 1683 triliun di APBN 
2013, tetapi jumlah tersebut tidak signifikan digunakan untuk program-program 
untuk menurunkan tingkat melalui kebijakan subsidi dan pemberdayaan.

            Nilai subsidi dalam APBN 2013 hanya sebesar Rp 317,2 triliun (3,4 
persen dari PDB). Nilai subsidi ini terbilang sangat rendah jika dibandingkan 
dengan AS yang notabene adalah anti intervensi pemerintah masih mampu 
mengalokasikan subsidi sebesar 20,5 persen dari PDB di tahun 2011. Demikian 
juga Kuba bisa mengalokasikan sekitar 36 persen dari PDB di tahun 2011 untuk 
subsidi (Kompas, 8/1).

            Ironisnya, sekitar Rp 274,75 triliun atau sekitar 86,7 persen dari 
total nilai subsidi tersebut digunakan untuk membiayai dua jenis subsidi, yaitu 
subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar Rp 193,81 triliun dan subsidi Listrik 
sebesar Rp 80,94 triliun. Padahal, subsidi BBM yang besar itu terbukti 
mayoritas dinikmati oleh mereka yang justru memiliki daya beli (purchasing 
power) yang besar dan dinikmati oleh orang kota yang memiliki kendaraan. 
Dampaknya subsidi BBM yang besar ini tentu tidak dirasakan orang miskin yang 
sebagian besar kebutuhan belanjanya digunakan untuk membeli beras dan rokok. 
(BPS, 2012). 

            Sementara, alokasi subsidi non-energi yang langsung bersentuhan 
dengan kebutuhan orang miskin hanya Rp 42,5 triliun (13,4 persen) untuk subsidi 
pangan (17,2 triliun), subsidi pupuk (Rp 16,22 triliun), subsidi benih (Rp 1,45 
triliun), Public Service Obligation (Rp 1,52 triliun) dan subsidi kredit 
program (Rp 1,25 triliun). 

            Bahkan, nilai subsidi BBM jauh melampaui nilai belanja 
infrastruktur pemerintah tahun 2013 sekitar Rp 203 triliun (dibawah 3 persen 
dari PDB). Juga lebih rendah dari belanja pegawai Rp 241 triliun. Minimnya, 
belanja infrastruktur, selain akan menghambat percepatan pertumbuhan ekonomi 
secara nasional, juga membuat upaya menurunkan tingkat kemiskinan bisa 
terhambat. Oleh karena, infrastruktur cukup efektif sebagai stimulus untuk 
pemberdayaan masyarakat miskin, khususnya pembangunan infrastruktur desa.*** 

            Penulis adalah Analis PT. Millenium Danatama Indonesia Asset 
Management
           

     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke