Ref: Panik, karena rejeki korupsi akan berkurang?

http://www.metrotvnews.com/front/view/2013/02/04/1407/Hasil-Survei-yang-Membawa-Kepanikan/tajuk



Hasil Survei yang Membawa Kepanikan
Metro View | Senin, 04 Februari 2013 WIB
 
Suryopratomo 

BELUM pernah Partai Demokrat menunjukkan kepanikan seperti sekarang ini dalam 
merespons hasil jajak pendapat lembaga survei. Namun hasil survei Saiful Mujani 
Research and Consulting membuat para petinggi Partai Demokrat khawatir nasib 
partai mereka akan terpuruk di Pemilihan Umum 2014 nanti.

Survei SMRC menyebutkan elektabilitas Partai Demokrat hanya tinggal 8,3 persen. 
Ini sangat jauh dari elektabilitas Partai Golkar yang di atas 21 persen dan 
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang di atas 18 persen.

Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Jero Wacik langsung merespons bah 
menurunnya elektabilitas partainya disebabkan oleh banyaknya kader yang 
tersangkut kasus korupsi. Satu kasus yang menyandera Partai Demokrat adalah 
dugaan korupsi yang dilakukan Ketua Umum Anas Urbaningrum.

Atas dasar itu Jero Wacik meminta Anas untuk bersikap legawa. Demi kepentingan 
partai di Pemilu 2014, akan lebih baik jika Anas mengundurkan diri sebagai 
ketua umum agar Partai Demokrat bisa langsung melakukan konsolidasi.

Sikap Jero Wacik itu didukung lima menteri Partai Demokrat yang ada di kabinet. 
Syarifuddin Hasan, Amir Syamsudin, Roy Suryo, dan EE Mangindaan menyerukan Anas 
untuk menyelamatkan partai dengan mundur dari jabatannya. Kelima menteri asal 
Partai Demokrat akan meminta Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono untuk 
menyelamatkan partai dari keterpurukan.

Namun Anas bukanlah politisi Partai Demokrat yang bisa ditekan. Seperti ketika 
menanggapi permintaan mundur oleh kader Partai Demokrat yang lain, Anas 
bergeming. Bahkan pendukung Anas segera melancarkan gerakan pembelaan.

Kubu pendukung Anas justru mengecam pernyataan yang dikeluarkan para petinggi 
Partai Demokrat. Permintaan agar Anas mundur bukan jawaban terhadap persoalan. 
Bahkan beberapa daerah langsung menunjukkan kesetiaannya kepada Anas.

Klik dan intrik yang berkembang pada tubuh partai pemenang Pemilu 2009 ini 
justru memperburuk keadaan. Seharusnya ada cara yang lebih baik yang dilakukan 
untuk menyelamatkan partai.

Komunikasi di antara para kader merupakan solusi yang terbaik. Seharusnya lima 
menteri asal Partai Demokrat bisa berbicara langsung dengan Anas untuk mencari 
jalan keluar dari kemelut yang dihadapi partai.

Kita tidak menutup mata bahwa persoalan terberat yang dihadapi Partai Demokrat 
adalah banyaknya kader yang terlibat kasus korupsi. Turunnya pamor dan 
elektabilitas Partai Demokrat dalam berbagai survei belakangan ini tidak bisa 
dilepaskan dari kasus korupsi yang menerpa kader mereka.

Karena berkaitan dengan persoalan integritas dan kredibilitas, maka jawabannya 
tidak bisa hanya sekadar persoalan hukum. semata. Yang tidak kalah penting 
untuk menjadi pegangan semua politisi adalah masalah etika.

Semua itu memang membutuhkan yang namanya tradisi. Harus ada konsensus yang 
dibangun secara bersama dan kemudian dipraktikkan. Sulit bagi kita untuk 
mengajak orang untuk menjunjung tinggi yang namanya etika, ketika kita belum 
membangun tradisi untuk itu.

Inilah yang menjadi persoalan Partai Demokrat. Selama ini mereka selalu 
bersikukuh kepada hukum formal. Ketika pertama kali terjadi kasus yang menimpa 
Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, mereka mencoba melindungi 
anggotanya. Tidak ada tindakan koreksi internal yang dilakukan sampai kemudian 
Nazaruddin melarikan diri ke Kolombia.

Hal yang sama berulang ketika kasus menimpa Wakil Sekretaris Jenderal Angelina 
Sondakh. Bahkan setelah Angie divonis hukuman 4,5 tahun penjara, tidak ada 
hukuman internal yang dijatuhkan partai. Bahkan sampai sekarang dibiarkan Angie 
terdaftar sebagai anggota DPR dan menerima "gaji buta" dari rakyat.

Ketika sekarang para petinggi Partai Demokrat ingin bertindak tegas kepada 
Anas, wajar apabila muncul pertanyaan dan bahkan perlawanan. Mengapa sikap 
seperti itu disuarakan hanya kepada Anas dan tidak diterapkan kepada kader yang 
jelas-jelas sudah dijatuhi hukuman.

Persoalan pelik memang dihadapi Partai Demokrat. Salah satu cara untuk 
memperbaiki adalah dengan membangun komunikasi dan konsensus. Jangan biarkan 
klik dan intrik justru semakin merebak di dalam tubuh partai.

Kekhawatiran para petinggi Partai Demokrat akan masa depan partainya seharusnya 
menjadi pegangan bersama. Sebab, partai didirikan bukan untuk kepentingan orang 
per orang, tetapi kepentingan bersama dalam rangka meningkatkan kesejahteraan 
rakyat banyak.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke