http://www.fahmina.or.id/artikel-a-berita/artikel/952-tafsir-agama-menurut-waria.html?utm_medium=referral&utm_source=pulsenews

Tafsir Agama Menurut Waria 
Senin, 04 Februari 2013 14:56 Abdul Muiz Ghazali 

Sungguh tidak mudah menjadi waria, lebih-lebih ketika beridentitas muslim. 
Lihatlah bagaimana masyarakat memandang waria. Pun, hal ini seolah diamini oleh 
agama. Para agamawan bahu membahu melengserkan identitas gender yang satu ini. 
Tidak kurang dari perkumpulan pesantren sejawa timur ikut serta mengharamkan 
kehadirannya. Salon, tempat mereka mengais rejeki diharamkan. Di jalan raya, 
tempat waria mengamen, mereka tidak jarang hanya mendapat kepalan tinju dari 
aparat karena dianggap mengganggu laju lalu lintas. 
Sebenarnya, sebagian orang tua mereka juga tidak menghendaki kehadiran waria. 
Novi misalnya, oleh keluarganya diminta, untuk tidak mengatakan dipaksa, agar 
meninggalkan rumah. Begitu juga Nur Kaela, ia pergi mengendarai sepeda motor 
dari lombok menuju Jogja. Untunglah sesampainya di jogja, ada pesantren waria 
yang bisa menampungnya. Hasrat mencari ilmunya pun tersalurkan.

Pesantren waria adalah satu-satunya pesantren yang membina waria. Sebenarnya 
bukan hanya waria, tapi juga gay, lesbi dan PSK. Di sana mereka dibina untuk 
mengenal agamanya dan kemudian beribadah. Dalam pembinaan keagamaan ini, ada 
dua periode. Pertama, pesantren ini sesuai dengan pemberitaan di koran 
“Kedaulatan Rakyat” bertujuan untuk melelakikan waria. Waria pun berontak dan 
hampir membuat pesantren ini bubar. Hening sesaat tanpa aktivitas. Pengasuh pun 
terganti.

Kedua, hanya berupa pembinaan keagamaan tanpa berupaya menggiring waria menjadi 
lelaki. Bahkan pembelaan terhadap waria, pada periode ini, khususnya yang 
berhubungan dengan teks keagamaan mulai disorot. Teks-teks yang anti waria 
ditelanjangi untuk kemudian menyelundupkan waria ke dalamnya. Hal ini, tidak 
hanya memberi ruang bagi kehadiran waria tapi juga mendorong semangat baru 
untuk berani eksis setelah mentalnya ditimpa pelecehan dan diskriminasi. 
Hasilnya pun tampak. Waria makin bersemangat dalam beribadah dan mengikuti 
kajian-kajian keagamaan.

Dalam praktek peribadatan shalat, pakaian waria terbagi dua; bermukena dan 
berpeci. Pakaian ini sangat bergantung dengan “rasa nyaman” seorang waria. Jika 
merasa nyaman memakai mukena maka dia memakainya. Begitu juga sebaliknya. 
Sementara dalam shafnya, yang memakai mukena berada di belakang yang memakai 
peci. Jika shafnya penuh maka yang berpeci dan bermukena nyampur jadi satu.

Untuk menambah amal ibadah, waria biasanya tidak hanya melaksanakan ibadah 
wajib saja. Di antara mereka ada yang rajin beribadah sunnah seperti shalat 
tahajud, shalat dhuha, dan bakti sosial. Bagi mereka, ibadah itu penting 
walaupun dianggap tidak sah oleh masyarakat umum. Bahkan ibadah-ibadah yang 
mereka lakukan hingga saat ini, baik yang sunnag maupun yang wajib, merasa 
diterima oleh Allah. Hal ini berangkat dari sebuah keyakinan mereka yang 
doa-doanya dikabulkan.

Waria memang sadar bahwa kehidupannya tidak menentu dan seolah tidak konsisten. 
Shalat tidak pernah ditinggalkan, pelacuran pun masih tetap berjalan. Antara 
shalat dan pelacuran merupakan dua kebutuhan yang esensial bagi waria. Shalat 
adalah tempat bercengkrama dengan Tuhan secara individual dan pelacuran adalah 
tempat bersosialisasi dan mencari sesuap nasi. Namun dalam konteks pelacuran 
ini, tidak semua waria melacurkan diri. Ada juga waria yang hanya melakukan 
hubungan seksual hanya dengan pasangannya semata yang dilandasi dengan cinta. 
Bagi waria yang seperti ini, seks yang bertujuan mencari harta adalah dosa. 
Sebaliknya seks yang dilakukan atas dasar cinta merupakan seks suci yang tidak 
berdosa.

Perbedaan pandangan tentang pelacuran ini tidak mengakibatkan keretakan dalam 
relasi sosial kewariaan. Tidak ada cibiran dan hinaan antar mereka. Menurutnya, 
pandangan tentang seks setiap orang tidak harus sama. Menghormati antar 
pandangan itu merupakan jalan terbaik dalam menjalin hubungan dengan orang 
lain. Bahkan saling menguatkan antara satu dengan yang lain tanpa harus 
memaksakan pendapatnya sendiri. Karena setiap waria memiliki perjalanan panjang 
dalam pemaknaan dirinya.

Pemaknaan diri yang dimaksud berupa kesiapan-kesiapan menampilkan diri di 
hadapan publik sesuai dengan jiwanya atau justru bersembunyi dibalik simbol 
aksesoris. Lihat saja misalnya, tidak semua wari memakai baju perempuan walau 
mereka merasa dan meyakini dirinya sebagai wanita. Maka pakaiannya pun berbeda. 
Bagi mereka kewariaan tidak ditentukan oleh baju dan aksesoris yang menempel 
melainkan oleh jiwa.

Sekalipun waria merasa dirinya sebagai perempuan, sebagian waria tidak ingin 
melakukan operasi kelamin. Alasannya jelas, karena agama melarang mengganti apa 
yang telah diberikan Tuhan kepada manusia. Tubuh adalah pemberian Tuhan yang 
tidak boleh diubah dan diganti kecuali darurat. Bahkan sebagian waria yang lain 
menyebutkan, menolak kewariaan adalah dosa besar karena menghianati pemberian 
Tuhan tersebut. Pendapat waria ini didasarkan bahwa waria adalah takdir Tuhan.

Terakhir, apapun itu, pendapat waria tentang agama merupakan ijtihad 
kontemplatif yang dilakukan tidak di sebentar waktu. Perjalanan hidupnya 
beserta hinaan dan cacian serta kebutuhannya akan Tuhan merupakan buku ajar 
yang tidak pernah tuntas ditekuni dibaca. Pendapat itu mandiri sebeda apapun 
dengan pandangan kebanyakan. Menggugurkan pendapat waria tersebut sama dengan 
menyeret waria pada perjalanan hidupnya dari awal untuk memunguti kembali 
setiap bulir perasan perasaan dan pikirnya.

Wallahu a’lam.

Add comment

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke