Rizal Ramli : Rencana Redenominasi Hanya Untungkan Orang Kaya ! (Waspada, 
waspadalah)


Ekonom senior Dr Rizal Ramli merasa aneh kenapa Bank Indonesia (BI) dan
 pemerintah ngotot mau memotong uang atau kebijakan redenominasi rupiah.
 Padahal, manfaat dari kebijakan itu tidak jelas, dan bila tidak 
hati-hati bisa menjadi sumber ketidakstabilan baru.

“Redenominasi itu jelas menguntungkan orang-orang kaya dan tentu saja 
akan menguras daya beli mayoritas rakyat Indonesia. Jangan-jangan, kebijakan 
ini justru semakin mempermudah penyogokan para pejabat.

Jika sebelum redenominasi perlu boks bekas durian untuk menyogok 
pejabat miliaran rupiah, nanti cukup menggunakan amplop kecil,” kata 
ekonom senior Dr Rizal Ramli kepada Harian Terbit di Jakarta, kemarin.

Menurut mantan Menko Perekonomian ini, untuk rakyat biasa, redenominasi
 adalah istilah baru yang membingungkan. Dalam praktiknya, istilah itu 
nyaris sama dengan upaya pemotongan uang.

Menerbitkan uang baru
 Rp 1 yang nilainya sama dengan Rp 1.000 saat ini, pada praktiknya 
merupakan “paksaan inflasi” (force inflation). Karena daya beli golongan
 menengah ke bawah akan terpotong dengan adanya kenaikan harga-harga 
setelah mata uang baru diterbitkan.

Misalnya, untuk sebungkus 
kacang goreng seharga Rp 800 saat ini, kelak dengan uang baru harganya 
akan disesuaikan menjadi Rp 1 baru yang ini sama saja artinya menaikkan 
harganya sebesar Rp 200 mata uang sekarang. Inflasi yang dipaksakan” 
inilah yang akan terjadi serentak setelah pemberlakuan redenominasi.

“Untuk golongan menengah atas, rupiah baru memang lebih nyaman. Mereka 
bisa membawa uang tunai Rp 10 juta saat ini, menjadi hanya Rp 10.000 
uang baru atau hanya 10 lembar pecahan Rp 1.000 baru.

Pertanyaannya, berapa persen orang Indonesia yang di kantongnya ada uang
 tunai Rp 10 juta per hari? Persentasenya sangat kecil, kurang dari 0,5%
 dari penduduk Indonesia. Kok bisa merancang kebijakan baru hanya untuk 
menyenangkan 0,5% orang paling kaya di Indonesia?” tanya Rizal.

Mantan Kabulog ini mengemukakan, bisa jadi rencana kebijakan 
redenominasi itu dilatarbelakangi keinginan penguasa untuk memberi kesan
 bahwa mata uang rupiah kuat.

Lalu mereka menyebut sebagai 
indikator keberhasilan ekonomi saat ini. Keinginan untuk memiliki mata 
uang kuat tersebut sebetulnya salah kaprah, lebih menguntungkan 
orang-orang kaya. Saat ini yang penting adalah stabilitas mata uang.

Seperti diketahui, tidak ada hujan tidak angin, tiba-tiba saja BI dan 
pemerintah menyatakan akan memberlakukan kebijakan rednominasi rupiah. 
Dengan redenominasi ini, kelak akan diterbitkan mata uang rupiah baru 
dengan penghapusan angka tiga nol. Dengan begitu, mata uang Rp 1.000 
saat ini akan diganti dengan Rp 1 mata uang baru.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke